MENGHARGAI JARINGAN BISNIS

Satu hal yang menarik dari bisnis MLM (multi level marketing), bahwa di dalam model ini sangat menghargai jaringan yang sudah dibentuk sejak awal. Proses aliran produk dari produsen sampai melewati konsumen akan diberi penghargaan yang sesuai. Jadi apabila jalur itu melewati sepuluh orang penjual, maka kesepuluh orang tersebut akan mendapatkan perhargaan semua, tentu dengan aturan main yang sudah disepakati.

Bentuk penghargaan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan bisnis ini sering dilupakan oleh mereka yang berbisnis secara individu. Banyak orang merasa bahwa pembeli datang karena jerih payahnya sendiri memasarkan, baik secara langsung maupun iklan. Sehingga dia pun tidak merasa perlu member penghargaan pada pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung telah membantu memasarkan produk atau minimal memberikan informasi outlet produknya.

Kita mungkin pernah bertanya-tanya mengapa para abang tukang becak di sekitar Malioboro Yogyakarta, begitu bersemangat mengantarkan penumpang untuk membeli bakpia, batik atau kaos murah di toko-toko yang berada di gang-gang yang sempit; dengan ongkos yang murah. Mengapa? Ternyata, setiap transaksi jual-beli itu dia mendapatkan upah (fee marketing) dari si pemilik toko. Jadi di sini terjadi simbiose mutualisme atau hubungan yang saling menguntungkan antara penjual produk dengan si abang becak sebagai pemasar produk.

Kita mungkin juga pernah mendapatkan kejutan berupa pemberian hadiah dari seorang pengusaha. Kita merasa tidak membeli produknya. Namun berdasarkan informasi yang kita sebarkan ke orang lain, ada orang yang kemudian datang membeli produk si pengusaha tersebut. Dalam peristiwa ini, si pengusaha sangat tepat dalam menghargai jaringan bisnisnya, berupa penghargaan pada semua pihak yang turut serta memasarkan produknya.

Seorang produsen akan menghargai pihak yang mampu memasarkan produknya ke lokasi atau pihak tertentu. Selama lokasi atau pihak tertentu itu masih membeli produknya, maka si produsen akan selalu memberikan penghargaan kepada pihak yang pertama kali memberikan perantara. Jadi sikap produsen ini adalah sikap yang menghargai orang yang berjasa membuka jaringan baru dalam bisnisnya.

Namun kita juga sering kecewa manakala dengan semangat 45 membimbing orang untuk berbisnis, melakukan pembinaan, menunjukkan pasar dan seterusnya sampai bisnisnya terbangun dengan baik; ternyata tidak mendapat penghargaan yang selayaknya. Paling jauh hanya ucapan terima kasih. Memang secara hakekat hidup, kita diajarkan untuk selalu ikhlas dalam berbuat. Namun dalam dunia bisnis, setiap jasa tentu ada harganya karena pihak yang diuntungkan mendapatkan sekian materi akibat jasa baik yang telah kita lakukan.

Tanpa sadar kita sering meremehkan peran orang lain yang turut merekomendasikan kepada para calon pembeli agar membeli produk yang kita hasilkan. Kita tidak pernah berpikir jauh, bahwa dengan merekomendasikan itu sudah berarti dia akan menjamin dengan harga dirinya bahwa memang produk kita pantas dibeli. Coba bayangkan apabila ternyata si pembeli kecewa dengan produk yang kualitasnya mengecewakan. Maka sekian persen kekecewaan itu akan ditimpakan pada orang-orang yang merekomendasikan untuk membeli produk tersebut. Sehingga rasanya kurang pantas apabila pihak lain telah menjamin kualitas produk kita dengan harga dirinya, namun kita sendiri tidak memberikan penghargaan sedikit pun.

Maka apabila kita sedang memulai atau merintis bisnis, alangkah baiknya apabila kita belajar pula untuk menghargai jaringan bisnis, baik yang dibentuk oleh diri kita sendiri atau atas bantuan orang lain. Apabila penghargaan itu dilakukan secara proporsional, maka roda bisnis akan dapat dilakukan berkesinambungan. Namun apabila tanpa penghargaan, siap-siaplah jaringan bisnis yang sudah terbentuk itu akan berubah menjadi jalur yang kontraproduktif (blackmarketing).

Penghargaan terhadap jaringan bisnis bisa dilakukan dengan menyesuaikan bentuk dan cara jaringan ini terbentuk. Ada jaringan yang terbentuk dari mulut ke mulut (face to face),  informasi sms, telephon, dan atau melalui jaringan internet yang saat ini sangat marak. Jejaring social di internet sangat potensial untuk membangun jaringan bisnis. Terkait dengan itu, maka penghargaan terhadap jaringan bisnis dapat dilakukan dengan berbagai macam yang nilainya menyesuaikan dengan besarnya keuntungan yang didapatkan. Besarnya nilai upah yang didapatkan biasanya berkisar lima persen (5%) dari total nilai transaksi.  Nilai ini bersifat akumulatif, jadi berapapun jumlah orang yang terlibat dalam jaringan ini, dibagi rata dari nilai 5% tadi. Namun besarnya nilai upah bukanlah prinsip, yang terpenting adalah pemberian penghargaan yang proporsional.

Catt: Tulisan ini hasil kolaburasi Ki dan Nyi Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s