BERTAMU

Sekarang ini, di era kemajuan teknologi komunikasi, segala seluk beluk tentang BERTAMU menjadi hal yang asing. Tanpa harus ketuk pintu dan mengucap salam, kita bisa masuk pagar rumah orang, masuk pintu orang, dan bahkan masuk ke kamar orang, karena… SMS langsung tertuju ke HP (hand phone) si empunya. Dengan SMS-an, FB-an (facebook), chatting, dll. dapat dilakukan semua tanpa melewati barikade aturan baku dalam bertamu secara konvensional. Maka, jangan kaget apabila anak muda era sekarang ini banyak yang tidak tahu bagaimana cara bertamu (baca: secara konvensional) yang baik.

Doeloe, tatakrama bertamu menjadi prasyarat wajib yang harus dikuasai sebelum nembung (nembak, to say “sumpeh, I love You”) karena semua ini harus dilakukan di rumah si Doi. Tatacara prosedural dimulai dengan bagaimana memarkir kendaraan kita, jangan sampai menghalangi jalan, jangan sampai terkesan kurang sopan. Bagaimana mengetuk pintu dan mengucap salam. Iya kalau yang membuka pintu langsung si Doi, bagaimana kalau bonyok (bokap-nyokap), harus bilang apa. Kalau bilang mau ngapel kan malu. Atau…. “mau minjam buku catatan, Om…!”.
Bagaimana posisi duduk, biar berkesan sopan. Kaki tidak mengangkang.
Bagaimana memulai pembicaraan. “Pertama, saya berniat silaturahmi. Kedua, saya menyampaikan salam dari orangtua di kampoeng. Ketiga, saya minta ijin untuk kenal lebih dekat dengan anak Bapak-Ibu”.
Bagaimana pula bersilat lidah menjawab “ujian lisan” dari calon mertua. “Kuliah dimana, kapan lulus?”. “Orangtua kerjanya apa?”. Korek sana, korek sini. Intinya, yang naksir anaknya ini udah mapan dan meyakinkan kagak…. he he…
Bagaimana pula ketika mendapatkan suguhan minuman dan makanan kecil. Jadi ingat doeloe th 92an, temanku bertamu, ditanya tuan rumah: “mau minum apa mas, teh anget?”. eh, temanku dengan lugunya njawab “kalo boleh, kopi, pak”. gubrak ! emange warung bisa pesan🙂
Konon, yang sopan, gak boleh minum sampe habis.
Konon, walau sedang lapar, gak boleh ngambil makanan banyak.
So, bagaimana pula saat mau pamitan. Apalagi jika tuan rumah menjalankan sunnah, mengantarkan tamu sampai ke halaman he-he.

hhhh..hhh..
anak muda sekarang kalau membaca aturan bertamu di atas akan cenderung komentar “kok ribet amat yak..”

Bertemu memang banyak motifnya. Namun langkah pertama tentu seragam, yaitu sama-sama ingin ketemu tuan rumah. Yang berbeda adalah tujuannya.
Ada yang sekedar silaturahmi, ngobrolnya bisa rileks tanpa batas.
Ada yang mau minjam uang, sampe harus muji sana-sini dan obral janji.
Ada yang mau nagih hutang, sampe ngancem yang menggetarkan mental.
Ada yang mau ngapel, sampe pake modal pinjaman dan obral kesetiaan.
Ada yang mau negosiasi, harus jelas memberi apa dan dapat apa.
Ada yang mau diwawancara, tentu harus bagus di penampilan & lisan.

Kemampuan bertamu harus berimbang dengan kemampuan menjadi tuan rumah yang baik. Banyak orang demikian piawai berceloteh di pertemuan umum, tetapi ketika bertamu sendirian, bingung mau ngomong apa.
Banyak orang yang sangat ceria bertamu, tetapi saat jadi tuan rumah malah tak tahu harus bagaimana memuliakan tamunya.

Sadarkah kita, bahwa di dunia ini sebenarnya kita hanyalah sebagai TAMU, tahu datang darimana dan akan kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s