JOB FAIR

Job Fair atau Bursa Kerja menjadi salah satu even yang memanjakan anak muda saat ini, khususnya mereka yang baru saja lulus sarjana dan butuh informasi lowongan kerja. Job Fair merupakan even bertemunya pencari kerja dengan perusahaan atau pihak-pihak yang memerlukan pekerja, dengan difasilitasi oleh EO (even organizer – panitia pelaksana).

Perangkat yang melengkapi Job Fair biasanya terdiri dari stand-stand perusahaan yang berjumlah puluhan. Masing-masing stand memasang spanduk/poster dan membagikan leaflet tentang profil perusahaan dan kriteria tenaga kerja yang dibutuhkan. Umumnya perusahaan-perusahaan tersebut menerima berkas lamaran kerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Biasanya berkas terdiri dari surat lamaran, biodata (curriculum vitae), copy ijazah, copy KTP, dan keterangan pelengkap. Beberapa perusahaan bahkan menyediakan acara wawancara dan test kepada pelamar yang memenuhi syarat administrasi.

Pencari kerja sendiri untuk bisa masuk ke ruangan Job Fair ini diharuskan membayar sekitar 10-25 ribu untuk sekali masuk, atau boleh dua kali dengan alasan khusus, misalnya karena mengikuti tahap berikutnya dari perusahaan yang dia lamar. Jumlah pelamar kerja selama 2-3 hari pelaksanaan Job Fair bervariasi, umumnya berkisar 1.500 – 3.000 pelamar. Jumlah ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Lokasi kota yang banyak perguruan tingginya akan cenderung tinggi jumlah pengunjungnya. Namun pelaksanaan yang terlalu sering juga akan menurunkan jumlah pengunjung. Kota kecil dengan sedikit perguruan tinggi umumnya jumlah pengunjung sedikit, tetapi dapat banyak juga jika Job Fair jarang dilaksanakan di kota tersebut.

Perilaku pelamar kerja di arena Job Fair sangat beragam, tapi umumnya mereka merupakan pemula, sehingga sering kedodoran dalam persiapan. Padahal biasanya pelamar kerja diharuskan berpakaian rapi, menarik, berkas lamaran lengkap, bersikap sopan, dan…. yang terpenting : siap untuk sampai tahap wawancara dan test. Ada juga beberapa orangtua yang sangat bersemangat ikut masuk ke arena ini, ternyata mencarikan peluang kerja buat anaknya di rumah. Salah satu pengukur untuk menilai penampilan (performance) pelamar adalah dengan test presentasi dengan topik tertentu (biasanya bebas). Walau presentasi hanya 2-3 menit, banyak pelamar yang tidak siap untuk itu. Kebanyakan mereka tidak siap dan tidak serius. Padahal dari penampilan singkat ini si pewawancara (HRD) akan dengan mudah mengukur kualitas pelamar kerja. Ironisnya, penguasaan materi berkas lamaran, wawancara dan presentasi ini jarang diberikan secara khusus di perguruan tinggi.

Bagi EO Job Fair, terkadang menyediakan layanan ceramah tentang kiat jitu dalam melamar kerja. EO juga menyediakan berbagai sarana pendukung pameran, seperti stand penjual makanan dan minuman, ruang ibadah, dan toilet. EO selalu tertantang menghadirkan perusahaan-perusahaan yang sangat diminati pencari kerja. Guna meminimalisir anggaran, biasanya EO merekrut tenaga lokal atau mahasiswa setempat untuk menjadi panitia pelaksana.

Idealnya Job Fair perlu dilaksanakan sebanyak 3-4 kali setahun pada perguruan tinggi besar (jumlah lulusan > 2.000 sarjana per tahun). Namun alangkah baiknya jika Kampus turut berperan dalam pelaksanaan Job Fair ini, toh ruangan, SDM pelaksana, dan jaringan dengan perusahaan sudah ada.

Bagi Pelamar Kerja, alangkah baiknya jika melengkapi paradigma, yaitu selain MENCARI juga berusaha MENCIPTAKAN lapangan kerja. Toh kesuksesan kerja tidak harus melulu menjadi pegawai kantoran. Banyak cerita orang sukses yang malah dimulai dari wirausaha level terendah, seperti jualan di warung atau pedagang keliling. Namun, pola hidup mahasiswa yang terlanjut terbiasan hidup me-mewah-kan diri ini, apakah masih siap untuk belajar prihatin mengais rizki dari modal dengkul sendiri ? Banyak mahasiswa tidak sadar bahwa dalam kehidupan bulanan memerlukan uang yang tidak sediikit (1-2 juta, atau bahkan lebih). Kebayangkah bagaimana orangtua menyediakan uang-uang itu untuk anaknya kuliah ? Mampukah kemudian mereka mencari uang sendiri minimal guna menutup kebutuhan hidupnya ini ?

Misalnya, walau kiriman ortu 1 juta/bulan, kita harus bisa mengelola pengeluaran max 800rb/bln. Jangan malah kebalik, memaksakan diri punya hand phone mewah, tapi ternyata beli pulsa saja kembang-kempis. Daripada terjebak pada pola hidup kemewahan, namun kelabakan ketika harus mencari uang sendiri senilai itu. Mending saat muda digunakan untuk belajar hidup dibawah standard kemampuan, agar di masa depan dalam mencari kerja tidak terlalu terbebani oleh jumlah gaji yang di atas ukuran kemampuan diri.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s