Marketing Kampus

Marketing adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas untuk memasarkan suatu produk. Marketing Kampus adalah pihak yang diharapkan secara profesional dapat memasarkan kampus, terutama dalam meningkatkan animo mahasiswa baru. Dalam perkembanganya, Marketing Kampus juga bertugas menjalin hubungan kerjasama dengan user, yaitu pihak-pihak yang akan menerima lulusan kampus tersebut. Sehingga posisi Marketing Kampus sangat strategis dan vital.

Namun, apakah kampus-kampus tersebut sudah mempunyai bagian Marketing, atau apapun namanya, yang bisa bekerja secara profesional dan proporsional? Marilah kita lihat. Mungkin banyak kampus besar yang masih mengandalkan jurus promosi secara konvensional, yaitu membuat lealfet/poster dan mengumumkan penerimaan pendaftaran di media koran. Mereka masih terlalu percaya diri bahwa animo calon mahasiswa baru akan tetap tinggi. Tidak sadar bahwa rating tinggi ini telah terbangun puluhan tahun dan perlu selalu untuk menjaganya.

Agaknya manajemen kampus juga masih bias, apakah tersentral di universitas, fakultas atau jurusan; khususnya untuk urusan per-marketing-an. Jika ada fakultas/jurusan mempunyai animo tinggi, yang berdampak pada penerimaan dana besar, maka itu dianggap sebagai prestasi fakultas/jurusan tersebut, sehingga bebas membangun fasilitas fisik dan non fisik. Demikian juga jika ada fakultas/jurusan mempunyai animo rendah, sering mereka ‘ditinggalkan’ oleh universitas, dan disuruh untuk bertanggungjawab mandiri dalam meningkatkan animonya. Sementara dana yang diberikan universitas sangat minim. Dana ini hanya cukup buat mencetak leaflet, poster dan memasang iklan beberapa kali saja. Padahal jurus-jurus marketing sangat banyak dan kompleks, dimana kesemuanya ini memerlukan konsekuensi dana yang tidak sedikit.

Belum lagi nasib para pelaksana di bagian promosi (marketing). Mereka sering bekerja hanya berdasar skep bergulir (personilnya gantian tiap tahun), honor sangat rendah, tetapi dituntut bisa menjadi malaikat penyelamat atau malaikat pembawa cahaya terang bagi fakultas/jurusan-nya. Jika beberapa orang terlihat bekerja bagus, sudah pasti menjadi langganan mendapat skep menjadi tim promosi, tetapi sudah pasti juga selalu kerja bakti dengan ‘terpaksa ikhlas’. Ironisnya, bekerja buruk pun akan mendapat honor yang sama, karena penentuan honor hanya didasarkan pada jabatan kepanitiaan, bukan kinerja.

Belajar promosi atau marketing perlu berkiblat pada perusahaan swasta melakukan promosinya. Mereka punya divisi marketing yang bekerja dengan dukungan fasilitas dan dana yang memadai. Kita dapat melihat berbagai iklan yang terpampang di papan iklan pinggir jalan. Konon untuk satu papan iklan tersebut menelan beaya sekitar 100 juta rupiah. Belum papan nama se kota. Belum papan nama se pulau. Belum papan nama se Indonesia. Dengan demikian alokasi dana untuk marketing/promosi dapat dihitung secara proporsional. Khusus untuk kampus, dapat diperhitungkan dengan jumlah penerimaan dana setiap tahunnya, baik dana dari mahasiswa maupun sumber lainnya.

Apabila dukungan dana dan fasilitas sudah profesional dan proporsional, langkah berikutnya mempersiapkan tim marketing yang mampu bekerja secara profesional. Semua personil di tempat pendaftaran mahasiswa baru perlu dilakukan pelatihan khusus, sehingga mampu melayani dengan profesional dan bekerjasama secara tim. Personil lainnya juga harus memberikan dukungan nyata, misalnya Satpam, Dosen, Pegawai, dan Mahasiswa; karena boleh jadi mereka akan meminta informasi di luar lokasi pendaftaran.

Marketing kampus bukan hanya fokus pada target mencari mahasiswa baru. Marketing kampus juga bertugas dalam menjalin hubungan dengan pihak luar kampus, terutama untuk kebutuhan magang, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penerima tenaga kerja. Banyak kampus masih sangat terlena dengan hanya mengandalkan pendapatan dari SPP dan sumbangan mahasiswa. Padahal potensi dengan pihak luar kampus, seperti instansi pemerintah, swasta dan alumni juga memegang peranan yang tidak kalah vitalnya. Apabila kerjasama dengan pihak luar kampus ini telah terbina dengan baik, maka penentuan besarnya SPP dan sumbangan akan lebih terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Koordinasi satu atap atau satu meja juga penting. Tiap jurusan punya tim promosi. Tiap fakultas juga punya. Universitas juga merasa perlu memiliki tim promosi. Tetapi tim promosi antar jurusan dan fakultas sangat jarang melakukan koordinasi berbagi peran. Ada kesan malah mereka bersaing dalam satu kandang. Fenomena ini jelas membuat kinerja makin memburuk. Sehingga diperlukan manajemen satu atap untuk tanggungjawab yang menyeluruh.

Akhirnya, apabila kampus tetap ingin bertahan dan eksis dalam persaingan yang semakin global ini, maka sangat perlu akan keberadaan Tim Marketing yang profesional, dengan dukungan SDM berkualitas, dana memadai dan fasilitas yang mendukung.

Ingat, walau Akademisi sudah terbiasa menghadapi orang, bukan jaminan bisa menjadi marketing yang handal. Setiap pekerjaan profesional membutuhkan spesialisasi keahlian.

Serahkan pakerjaan pada ahlinya, lalu lihat apa yang akan terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s