Konsistensi Nama

Secara umum pemberian nama orang disesuaikan dengan latar belakangnya, seperti bangsa, bahasa, suku, agama, dll. Nama-nama seperti Bambang, Sri, Agus, Joko, Tutik, dll. banyak ditemukan pada orang-orang Indonesia bersuku Jawa. Nama Ahmad, Yusuf, Anisa, Zulaikah, dll. banyak ditemukan pada orang-orang beragama Islam. Sehingga kita lebih mudah menebak latar belakang seseorang dari namanya.

Namun seiring perkembangan jaman di era global ini, nama orang cenderung makin unik dan diluar kebiasaan dalam memberikan nama. Ada yang hobby mengadopsi nama yang ke-barat-barat-an, biar berkesan modern, misalnya Robert, Charles, dll.. Ada nama yang berdasarkan singkatan nama kedua orangtua. misalnya Artika dari nama orangtua Sugiarti dan Yunarka. Ada nama yang dikaitkan dengan waktu kelahiran, misalnya Aprilia lahir di bulan April.

Setelah orang mempunyai nama paten. Berlanjut pada orang lain yang berusaha memanggil sesuai namanya. Tetapi ada juga panggilan yang tidak sesuai dengan nama aslinya. Ada panggilan yang melekat sejak balita karena si anak waktu itu tidak bisa mengucapkan namanya sendiri, misalnya karena ada huruf R, dll. Contoh : Ari jadi Ayi, Shaila jadi Lala, dll.

Ternyata panggilan tidak berhenti sampai di situ. Terkadang saat masuk dunia perkuliahan, teman kos suka iseng memberikan julukan yang aneh-aneh. Hebatnya, julukan itu menjadi panggilan beken yang bisa bertahan puluhan tahun. Lebih hebat lagi, setelah lebih dari 10 tahun, mantan teman-teman kosnya kesulitan mengingat siapa nama aslinya, karena yang teringat hanya nama panggilan saja. Kalau toh ingat, paling hanya 1 kata saja, misalnya Heru, Agus, Sari, dll. Tetapi tidak tahu persis nama lengkapnya.

Belum lagi ulah para facebooker yang suka menggonta-ganti nama asli dengan sebutan yang disesuaikan dengan suasana hatinya. Akibat terlalu kreatif, nama asli malah hilang, berganti dengan julukan baru. Misalnya nama asli Siti Aminah, diganti dengan “Mawar merindukan kumbang”. Kadang juga nama asli masih ada, walau tidak lengkap. Nama asli Abdul Hakim, diganti dengan “Abdul mencari cinta”. dst-nya.

Banyak alasan orang memilih nama. Banyak alasan pula kenapa mengganti nama asli dengan sebutan tertentu. Namun apapun alasannya, jangan sampai perubahan nama hanya akan mempersulit diri sendiri. Cobalah publikasi nama secara konsisten, agar orang lain pun akan konsisten mengingat nama kita. Andaikan ada penelusuran data, misalnya lewat fasilitas search engine google, biodata kita akan lebih mudah ditemukan. Kecuali, anda adalah orang yang ingin menghilang dari peredaran komunikasi sosial.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s