Mahasiswa Recycle

Dua puluhan tahun lalu terkenal istilah “mahasiswa abadi” untuk sebutan mereka yang kuliah tidak lulus-lulus, yang kadang tembus waktu lebih dari sepuluh tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Sekarang ini masa waktu kuliah untuk jenjang S1 dibatasi 7 (tujuh) tahun. Pembatasan ini cenderung tegas tanpa kompromi untuk untuk beberapa universitas. Namun beberapa universitas masih memberikan kelonggaran waktu. Biasanya diberi waktu perpanjangan 2 (dua) tahun lagi, tetapi dengan nomor mahasiswa seperti mahasiswa yang baru masuk. Kondisi seperti ini sering disebut sebagai Mahasiswa Recycle.

Ketika mengamati perilaku dan mencoba mendengarkan keluh kesah para mahasiswa recycle ini, banyak cerita yang bisa didapat dan diambil hikmahnya. Untuk lebih mudahnya, sebutan mahasiswa recycle disingkat dengan MR ya…

Ketika seseorang masuk menjadi mahasiswa di suatu universitas, yang terbayang adalah dia akan cepat lulus dan meraih gelar sarjana. Tapi toh diantara mereka ada yang terjebak menjadi MR. Kenapa ini terjadi? sangat beragam penyebabnya. Namun dapat dipastikan mereka menjadi MR penyebabnya 90% bukan karena kebodohan. Beberapa penyebab tersebut antara lain sbb. :

1. Salah pilih jurusan
Ternyata, banyak calon mahasiswa baru yang belum mampu menemukan apa potensi bakat dan minat keilmuannya. Sehingga pemilihan jurusan lebih banyak ditentukan oleh “trend”. Padahal jurusan yang berkualitas dan jumlah peminatnya banyak, belum tentu sesuai dengan bakat dan minatnya. Ada juga, mereka memilih jurusan tertentu karena desakan orangtuanya atau mengikuti pilihan sahabat dekatnya. Sebenarnya, apabila dia mampu beradaptasi dengan jurusan yang dipilih, untuk kuliah dan lulus bukanlah jalan sulit. Tetapi sangat fatal apabila dia tidak punya semangat lagi untuk mendalami keilmuan di jurusan tersebut karena dia tidak suka. Tiada motivasi inilah yang mendorong mereka menjauhi kampus dan akhirnya tanpa sadar menjadi MR. Biasanya dia akan tersadar jadi MR kalau mengetahui kebanyakan teman seangkatan sudah lulus.

2. Masalah Cinta
Kata orang, cinta bukan sekedar ber-sms ria atau jalan bareng menikmati kuliner di pelosok kota. Ternyata cinta mampu mengendalikan perilaku, yang kekuatannya bisa sebesar perilaku penganut agama. Kebiasaan sehari-hari bisa berubah total, karena cinta. Bahkan, harapan hidup pun bisa melayang hanya karena kehilangan cinta.
Banyak para mahasiswa yang menjadi MR karena patah hati. Rasa dikhianati, sakit hati, benci, dendam dan tiadak gairah hidup membuat urusan perkuliahan menjadi sesuatu yang tidak penting. Mereka yang gagal dalam percintaan ini lebih memilih jalan pelampiasan, yang ujungnya semakin menjauhi kegiatan kampus.
Apakah para MR ini mampu kembali ke kampus dan menyelesaikan kuliah, tergantung sejauh mana penyimpangan dan seberapa besar motivasi untuk memperbaiki diri. Jika pelariannya itu menimbulkan efek baru yang lebih besar, biasanya akan sulit untuk kembali. Misalnya pelarian menjadi PSK, pecandu narkoba dan miras, dll.

3. Faktor Ekonomi
Mungkin awalnya kuliah masih mempunyai dukungan dana lumayan. Namun ditengah jalan, dana sangat berkurang. Sehingga banyak mahasiswa memilih untuk cuti atau part time (nyambi) kerja. Kegiatan sampingan untuk mendapatkan uang ini kadang melupakan konsentrasi untuk belajar dalam perkuliahan.
Namun faktor ekonomi ini lebih banyak jalan solusi daripada penyebab lainnya karena di universitas biasanya banyak terdapat beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan kurang mampu. Kegiatan praktikum dan proyek kerjasama dosen juga biasanya mampu memberikan pendapatan tambahan bagia mahasiswa yang terlibat.
Kuncinya, para MR dengan alasan ekonomi harus gigih berjuang menjalin silaturahmi dan mencari/menciptakan peluang kerja.

4. Hobby
Banyak lho, mahasiswa yang larut dalam kegiatan penyaluran hobby sampai melupakan kewajiban kuliahnya, seperti bermain musik, panjat gunung, ndugem, olahraga, dll. Mereka lebih mementingkan hobby daripada kuliah. Mereka cenderung berteman dengan orang-orang yang punya hobby sama dibandingkan berteman dengan teman seangkatan. Selanjutnya mereka jarang terlihat di kampus, jarang mendapat informasi akademik, sehingga lambat laun akan ketinggalan dari teman-teman kuliahnya.
Menjalankan hobby tidak salah, karena terbukti banyak orang mendapatkan pekerjaan utama sesuai dengan hobbynya. Namun penyaluran hobby yang menyimbang dari perjuangan (kuliah) jelas akan menempatkan pilihan sulit, terus kuliah atau meredam hobbynya.

5. Dosen Pembimbing
Ini lebih cocok untuk para MR yang terhambat saat dia menyelesaikan skripsi. Faktor penghambat boleh jadi karena tidak ada keselarasan dengan dosen pembimbing. Bisa karena dosennya terlalu pandai, sehingga punya keinginan yang melebihi batas kemampuan bimbingannya. Bisa karena mahasiswanya sudah takut duluan untuk bertemu dosen pembimbingnya (biasanya karena termakan rumor negatif tentang si dosen).
Untuk menilai secara obyektif apakah karena dosen pembimbing atau mahasiswanya sendiri, dapat dilihat dari kacamata umum. Jika kebanyakan mahasiswa bimbingan dosen tersebut mengalami kesulitan (lulus lama), maka boleh jadi itu faktor dosennya. Namun jika kebanyakan mahasiswa bimbingan si dosen bisa lulus cepat, hanya segelintir yang lama, maka boleh jadi si mahasiswa MR itu yang bermasalah.
Melakukan bimbingan kepada dosen bukan sekedar transfer ilmu, tetapi juga belajar tata krama, konsistensi sikap, keuletan dan pengabdian. Pengalaman ini akan sangat berharga saat mahasiswa sudah lulus dan masuk dunia kerja.

6. Aktif Organisasi
Aktif organisasi akan melatih mahasiswa belajar manajerial dan kepemimpinan. Bagaimana dia belajar mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama meraih tujuan bersama yang dicita-citakan. Organisasi yang baik akan mengajarkan obyektifitas dan profesionalitas. Obyektif memandang masalah tanpa intervensi doktrin yang menyesatkan. Profesional berbuat kepada siapa saja karena hakekat tanggungjawab itu kembali pada diri sendiri dan terukir sampai tua.
Pengikut organisasi yang terkotori oleh doktrin sesat dapat menjauhkan mahasiswa tersebut dari dunia perkuliahan dan pergaulan dengan dosen-pegawai. Apalagi jika mereka terjebak malah memusuhi dosen-pegawai dengan berbagai argumen. Ibarat seorang anak yang membenci orangtuanya, dia akan cenderung malas di rumah dan tidak mau mendengarkan nasehat (transfer ilmu) dari orangtuanya.
Fakta membuktikan, banyak tokoh besar berasal dari mereka yang kuliahnya menjadi aktifis organisasi. Tetapi banyak pula mereka yang MR juga karena terlalu asyik aktif berorganisasi, sampai lupa meraih IPK yang tinggi.

Sebagai penutup,
sebenarnya para MR ini sudah mengalami tekanan yang sangat besar. Tekanan kampus yang mengancam DO bila tidak segera menyelesaikan kuliahnya. Tekanan lingkungan dimana adik kelas suka usil bertanya “udah kerja dimana mas?”, padahal lulus juga belum. Tekanan orangtua yang meneror menanyakan kapan lulusnya. dll.
Melihat kondisi ini, alangkah baiknya kita beri perhatian yang besar kepada mereka ini. Yakinlah mereka dulu juga tidak bermimpi menjadi MR. Maka, perhatian dan bantuan apapun dari kita akan sangat membantu mereka, minimal memotivasi mereka untuk memanfaatkan sisa waktu dengan berjuang dan terus berjuang agar bisa lulus dan diwisuda.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s