JALAN PINTAS

Sebuah koran lokal memberitakan kebiasaan mahasiswa sekarang ini cenderung lebih suka mencari bahan-bahan kuliah dengan bantuan mbah Google (browsing di internet) daripada mencari literatur di perpustakaan. Prinsip yang digunakan sederhana, kalau ada cara yang lebih mudah kenapa memilih cara yang lebih sulit?
Sehingga wajar pada ilmuwan saat ini lebih suka mengoleksi file-file literatur daripada memenuhi ruang kerjanya dengan lemari berisi buku-buku.

Kemajuan iptek, terutama bidang teknologi komunikasi dan informasi, memang cenderung merubah perilaku manusia secara umum. Banyak fenomena yang sangat kontras berbeda dengan 20 tahun yang lalu atau sebelumnya, khususnya sebelum trend penggunaan komputer, hand phone dan internet.

Sekarang ini, terasa aneh bila melihat seseorang tidak membawa hand phone. Bahkan benda ini lebih membuat ketagihan dibandingkan dengan pecandu rokok. Hanya segelintir orang saja yang bersikukuh anti memakai hand phone, tentu dengan alasan yang meyakinkan. Sementara bagi pemakai hand phone, barang ini adalah kebutuhan dasar, yang mungkin sejajar dengan pangan-sandang.

Sebentar lagi, orang akan merasa aneh melihat dua pihak berkirim surat ala media pak pos. Kenapa tidak dengan email saja, begitu komentarnya. Namun surat-menyurat konvensional saat ini masih lumayan akrab di pedesaan, tetapi lumayan hilang di perkotaan. Kecuali surat-menyurat yang berkekuatan hukum tinggi.

Bersilaturahmi juga sama saja, tidak lagi berpikir untuk datang ke rumahnya dan mengetuk pintu serta berbasa-basi di ruang tamu. Cukup dengan SMS “gimana kabarmu?” dll. Jadi wajar jika banyak generasi muda sekarang tidak familiar dengan adab kesopanan dalam bertamu. Ini bukan berarti mereka tidak sopan, tetapi lebih disebabkan kebiasaan ini tidak lazim lagi dalam dunia mereka.
Dengan adanya wabah SMS, banyak orang terdiam sendiri di berbagai tempat. Tapi dengan bantuan mata dan jemari tangan, angan melanglang buana kemana-mana dengan menebar SMS ke berbagai orang. Sampai dia tidak sadar bahwa tubuhnya berada di ruang publik, yang kadang harus menyapa atau disapa oleh orang-orang di dekatnya.
Wabah ini bahkan juga merambah ke pengendara motor dan mobil, sampai harus mengatur konsentrasi antara melihat ke jalan dan mengirim pesan SMS. Semoga tidak ada yang iseng membentak di sampingnya, karena pasti akan kaget dan resiko kecelakaan akan sangat tinggi, terutama untuk pengendara motor.

Mengungkap kangen dan cinta juga tidak perlu apel setor tubuh, kecuali ada misi “tubuh bertemu tubuh”. Kalau hanya kangen, banyak dilakukan dari lokasi yang berbeda, namun isi SMS seakan mereka sedang berdua saja di dunia ini. “Yank, aku kangen….. muach-muach”. dll. dll.
Tapi jangan komplain apabila si penerima pesan, walau menjawab dengan mesra, tapi bisa saja dia saat itu sedang bersama dengan “tubuh” yang lain. So, jalan pintas jelas punya sisi kelemahan juga.

Lihat juga suasana rapat dimana-mana. Terkesan anggota rapat terdiam mendengarkan sang moderator. Tapi tengoklah tangan-tangan mereka di bawah meja, yang asyik mengirim-menerima pesan ke/dari tempat lain. Haruskah sebelum rapat ada aturan penyanderaan HaPe?

So, jalan pintas mana yang kita pilih menjadi jalan terbaik? ataukah kita memilih menghindarinya? mari kita renungkan

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s