Merapi ‘mbangun’, Jogjaku sendu

Dimulai dari luncuran awan panas (wedhus gembel) yang meluluhlantakkan Dusun Kinahrejo, dengan menelan korban alm Mbah Maridjan, keluarga, tetangga, relawan, dll. Seakan kenangan tahun 2006 kembali teringat. Betapa saat itu dengan Tim PPLH Reg Jawa membuat film kearifan lokal bersama mbah Maridjan. Suasana rumahnya, khusyu di musholanya; menjadi sebuah kenangan sendu ketika melihat kondisi kini yang penuh puing-puing bangunan tertutup debu tebal.

 

Cerita itu hanyalah awal. Berlanjut dengan pantauan hari demi hari.
Ketika letusan tengah malam pada beberapa hari kemudian, memang membuat sebuah keanehan. Seakan wilayah Yogya terbagi dua, segaris dengan Jalan Kaliurang ke arah barat (konon sampai Tasikmalaya) terkena siraman hujan debu vulkanik yang sangat tebal di wilayah Yogya barat ini yang berangsur menipis sampai ke barat. Anehnya, Jalan Kaliurang ke timur relatif bersih dari hujan abu, seperti wilayah Maguwo, Condongcatur, dll.
Beberapa hari kemudian, tepatnya mulai Rabu, 3 Nov 2010. Genderang letusan tiada henti berlangsung terus menerus sampai 2 hari !. Mbah Rono (Dr. Surono, pakar gunungapi yang akurasi informasi letusan merapi tak diragukan lagi dan sering menjadi sumberutama berita di media) sampai terlihat sangat capek, karena harus meladeni telekomunikasi dengan media untuk mendapatkan update Merapi terkini. Letusan yang tiada henti tersebut mendorong wilayah rawan makin melebar, dari 10 Km, kemudian 15 Km dan 20 Km (semoga tidak nambah lagi). Saya sangat memahami beratnya menentukan zona rawan ini karena harus disampaikan dengan bijak dari berbagai pertimbangan : (1) akurasi ilmiah tentang merapi, (2) kepanikan penduduk c.q. pengungsi, dan (3) yogyakarta sebagai kota kunjungan (pelajar, wisata, dll). Ketiga hal ini jelas akan terjadi tarik-menarik kepentingan.
Terasa olehku, dari jarak sekitar 30 Km dari puncak, sejak Kamis pagi, 4 Nov 2010, ketika suasana lingkungan senyap, akan terdengar jelas suara “gluduk-gluduk” dari arah Merapi. Tidak terbayang bagaimana yang dirasakan para pengungsi waktu itu yang berjarak 10 Km. Dari info SMS, jarak itu dapat merasakan pula gempa vulkanik.
Kamis siang, Allah memberikan ‘obat mujarab’ untuk menetralisir hujan abu dengan hujan hampir sepanjang siang sampe petang. Sehingga walau Merapi masih nonstop ‘muntah’, suasana di Jogja tetap adem ayem.
Namun sejak Kamis tengah malam, dimana cuaca terang tanpa hujan, suara “gluduk-gluduk” mencapai puncaknya. Suara itu makin kencang. Paling heboh ketika terbangung tengah malam itu para tetangga sudah bangun, lalu kudengar hujan. Tapi aku cek kok tidak ada air turun. Wah, Merapi meletus!. Beberapa tetangga sudah mengajak mengungsi ke arah selatan. Namun nalar sadarku ingin melakukan kroscek ke internet dan TV.
Saat itu radius rawan sudah diperluas menjadi 20 Km dan pengungsi di pindahkan, antara lain ke Stadion Maguwoharjo (1 Km selatan tempat tinggalku), kampus UPN, kampus UNY, dll. Kami sekeluarga diskusi, bagaimana baiknya. Akhirnya diputuskan tetap berada di dalam rumah, karena suasana di luar pasti sangat macet dan penuh debu (bahaya buat kesehatan). Toh, posisi kami sejajar dengan tempat pengungsian.
Namun suasana itu amat sangat tidak nyaman untuk meneruskan tidur. Tetapi akhirnya tertidur pula, dengan bermimpi rumah menerima beberapa orang yang mengungsi.
Jumat pagi, rencana mau bermanis diri di dalam rumah, karena membayangkan suasana jalan yang sangat berdebu. Lagian kuduga hari kerja akan libur. Tapi “sang mantan pacar” punya keinginan lain, dia ingin masuk kantor hari ini. Dia ada tugas kantor dan udah janjian dengan beberapa orang jam 13. Adu argumen kalah, yo wis aku ngantar. Gleks, sepanjang jalan maguwo – sagan (dekat Galeria) melihat fenomena jalan dan bangunan yang memutih. Banyak mobil-mobil yang berlalu lalang dengan selimut debu tebal. Aku menduga “pasti ini mobil dari arah utara”. Aku seperti bermain dalam film Dante`s Peak (tentang letusan gunungapi), tapi gak sejajar banget kalo membayangkan aku sebagai bintangnya (Pierce Brosnan :p).
Akhirnya aku pulang kembali ke rumah. Mobil butut kusiram-siram lagi dengan air untuk mengusir abu vulkanik. Juga halaman depan dan belakang rumah, banyak aku siram air. Hujan abu masih turun dan suara gluduk-gluduk sesekali terdengar, tapi tidak seseram tadi malam. Ibarat kurva, semoga kita sudah melewati puncak letusan, sehingga ini menuju ke arah ketenangan.
Semoga Allah melindungi & memberi pertolongan kepada ummatNYA yang sedang diuji. Semoga fenomena alam ‘biasa’ ini akan memberikan pelajaran dan hikmah bagi orang-orang yang mau berfikir. Amin 7x
Yogyakarta, Jumat 5 November 2010 pukul 9.54 WIB
M Kundarto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s