Berpikir tentang RUANG dan WAKTU

Suatu waktu,
Sekian menit kita menunggu, terasa sangat lama dan menyiksa,
Tetapi dalam kejadian lain,
Sekian jam kita menunggu, terasa sangat cepat waktu berlalu
Itulah contoh relativitas waktu yang dipengaruhi suasana batin

Menurut teori waktu,
Jika kita melesat melebihi kecepatan cahaya menjauhi bumi ini
Kemudian dalam waktu tertentu kembali ke bumi
Maka hitungan umur kita akan lebih muda dari seharusnya
Itulah teori relativitas waktu yang cukup ajaib bagi kita yang awam

Bagi mereka yang larut dalam kekhusyuan ibadah,
Merangkaknya waktu dan keberadaan diri menjadi samar
Sepertinya diri terlepas dari batas waktu dan ruang
Asyik larut melakukan dialog dengan Sang Pencipta
Asyik terlepas untuk memandang diri dan sekitarnya

Bagi pergaulan tempo doeloe,
Batas ruang menjadi sangat terukur dan terkendala jarak
Batas ruang memaksa rentang waktu lebih lama untuk bersatu
Namun perkembangan peradaban manusia dalam teknologi
Seperti melepaskan batas ruang itu
Karena kita bisa berkirim kabar dalam hitungan detik
Melihat wajah dan bercengkerama dari jarak jauh melalui media

Kehidupan ini tercipta berada dalam batas waktu dan ruang

Pernahkah kita merenung,
Ketika dunia nyata ini menjadi tidak ada
Dan kita seorang diri menjadi titik satu-satunya

Maka kemanapun kita berpindah, itu tidak ada perpindahan
Karena jarak diukur dari start dan finish yang sama, yaitu titik kita

Maka berapa lama pun kita ada, itu tidak ada ukuran waktunya
Karena waktu diukur berdasar gerak benda lain (matahari, bulan, dll)

Satu titik itu adalah gambaran keterlepasan terhadap waktu dan ruang

Pernahkah kita berpikir, siapakah yang menciptakan waktu dan ruang?
Tentu Sang Pencipta yang menciptakan ruang dan waktu itu

Pernahkah kita ‘membatasi keberadaan’ Sang Pencipta?
Sehingga Dia seakan dibatasi oleh (berada dalam) waktu dan ruang
Mungkinkah Sang Pencipta dibatasi oleh ciptaanNYA sendiri
Padahal Dia yang Maha Mencipta

Lalu,
Apalah arti keberadaan kita di hadapan Sang Pencipta?
Lha dibandingkan dengan ciptaanNYA saja, kita bukan apa-apa
Cobalah bandingkan manusia dengan bumi, tata surya dan galaksi

Masihkah kita berani bersombong tidak mengakui keberadaan Sang Pencipta, yaitu keberadaan yang terlepas dari batas waktu dan ruang

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan mau bersyukur kepadaNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s