Mengistimewakan WAKTU

Sebutan waktu terdiri dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Banyak manusia mengolah waktu, karena semua manusia hidup seiring dengan waktu. Hasil olahan dapat beraneka. Ada waktu istimewa dan ada pula tidak istimewa. Semu tergantung kesepakatan belaka. Makin banyak yang sepakat, maka ke-sakral-an akan semakin tinggi. Berikut adalah contoh fenomena dimana banyak manusia mengistimewakan waktu untuk kepentingan diri maupun kelompok yang menyepakatinya.

Pertama, peristiwa besar dan berpengaruh terhadap jutaan manusia, sering diabadikan (baca: dicatat sampai dengan ukuran menit dan detik). Misalnya jatuhnya bom nuklir di suatu negara, pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan, dll. Bahkan waktu ‘jadian’ antara kedua sejoli juga tak luput dari pensakralan, yang kadang dikaitkan dengan bukti kesetiaan. Artinya, kalau lupa, dianggap tidak setia lagi. Ada juga waktu kelahiran anak tersayang, atau kelahiran orang yang sangat berpengaruh, sering dicatat sampai menit dan detik.

Kedua, hari bersejarah. Sebenarnya hari-hari itu ya sama saja. Penamaan kan kesepakatan manusia. Faktanya hari dimulai dari tengah malam sampai tengah malam lagi. Bahkan ada yang meyakini pergeseran hari dari sejak terbenamnya matahari sampai terbenam esok harinya. Contohnya : hari lahir, hari libur, dll. Demi memperingati hari lahir, seseorang akan rela melakukan pesta besar-besaran. Demi men-sakral-kan hari jumat kliwon, orang-orang jadi merasa seram dan takut dalam kegelapan dan kesunyian malam.

Ketiga, tanggal bersejarah. Apa sich istimewanya Tahun baru tanggal 1 Januari. Jelas sangat istimewa bagi mereka yang terbiasa memakai tahun masehi. Tetapi bagi tahun hijriyah, lain lagi tanggalnya. Tanggal 1 sura diyakini dan disepakati untuk membersihkan barang-barang pusaka. dan lain-lainnya.

Keempat, bulan istimewa. Bagi ummat muslim, bulan puasa (ramadhan) menjadi istimewa. Bagi mahasiswa Indonesia, bulan Juli-Agustus menjadi libur panjang. dll.

Kelima, tahun istimewa. Banyak tahun dianggap istimewa karena mengukir sejarah yang dirasakan banyak pihak, seperti tahun kemerdekaan, tahun terjadinya bencana besar, dll.

Sekali lagi, keistimewaan waktu lebih banyak terjadi karena kesepakatan sosial. Semakin sepakat dan semakin banyak, maka keramaian akan semakin meriah. Dan bagi sebagian kecil yang tidak bersepakat, akan seperti hidup dalam keterasingan.

Namun kita perlu hati-hati, karena kesepakatan sosial terhadap waktu istimewa, yang diyakini banyak orang belum tentu menuntun kita pada keyakinan kebenaran yang hakiki. Terkadang malah tanpa sadar menjerumuskan kita pada keimanan baru yang main menyimpang dari cahaya-NYA.

Ki Asmoro Jiwo

One response to “Mengistimewakan WAKTU

  1. Lutfi Retno Wahyudyanti

    Lalu, klo Pak Kun sendiri sudah memanfaatkan waktu dengan baik belum? Ada rencana apa saja dalam waktu dekat ini dah usaha apa saja yang sudah dilakukan? Mau barter link ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s