Mengobati Orang Lain

Banyak sebutan bagi mereka yang berprofesi mengobati penyakit orang, seperti : dokter, tabib, dukun, paranormal, pemijat, sinsei, dll.
Mana yang lebih ampuh? tidak ada yang bisa menjawabnya. Satu kunci yang dapat disepakati adalah : harus ada kecocokan antara si pasien dengan si pengobatnya. Kunci utama berikutnya adalah, manusia hanya bisa berikhtar mengobati, kesembuhan perlu ridho-Nya.

Konon, seorang pasien sudah merasa sembuh ketika baru saja melihat dan disapa dengan senyuman oleh dokter kesukaannya.
Konon, orang yang sakit berat akan terasa ringan dan cepat sembuh apabila dia punya keinginan kuat untuk “ingin sembuh”.
Inilah sedikit fenomena pentingnya sugesti yang harus dimiliki oleh pasien dan yang coba dibangkitkan oleh setiap ahli pengobatan.

Langkah pertama mengobati adalah Ikhlaskan hati untuk berniat menolong mengobati orang lain, pasrahkan kesembuhan hanya kepada-NYA. Melakukan pengobatan adalah interaksi pada area intim (jarak kurang dari 30 cm), bahkan kadang perlu melakukan sentuhan ke kulit secara langsung. Potensi godaan, terutama kepada lain jenis, jelas ada. Maka, segera fokus pada upaya menolong dan tekan sekuat mungkin faktor birahi yang bisa saja muncul. Jika gagal, biasanya kesembuhan akan menjauh dari si pasien karena berdampak pada pengobatan menjadi tidak fokus dan selaras.
Bahkan dengan dialog saja, pasien bisa jatuh hati kepada si ahli obat. Kenapa? karena saat sakit, mental pasien biasanya lemah. Saat ada sang penolong, rasa suka akan mudah muncul dalam hatinya. Maka ke-suka-an ini jangan dibiarkan menjadi rasa cinta yang berdampak merugikan.

Langkah kedua mengobati adalah menemukan sumber penyakit. Apakah murni penyakit fisik ataukah mental. Salah deteksi bisa salah perlakuan, lalu berdampak sakitnya makin parah. Kalau sakit mental, berikan upaya membangkitkan motivasi, terutama dengan dialog dari hati ke hati dengan orang terpercaya dan atau orang terkasih. Kadang juga perlu langkah memberikan air putih yang didoakan dan pasien meminumnya.
Kalau sakit fisik, lebih mudah apabila si pasien mau diajak komunikasi, sehingga tahu apa keluhan atau sakit yang dirasakan. Kemudian pastikan keluhan itu dengan deteksi sentuhan telapak tangan kita pada titik-titik tertentu.
Masuk angin, akan terasa lembab-dingin pada titik-titik berkumpulnya angin itu. Biasanya ada di bawah ketiak, punggung atas sampe pundak, dan bahkan ada yang menyusup di lengan atas dan paha atas.
Demam, biasanya menimbulkan hawa hangat pada bagian tertentu. Jika ada luka luar, mungkin terjadi radang. Tetapi bisa juga berasal dari luka di dalam. Demam adalah respon biologis dalam rangka tubuh memerangi luka.
Pusing, deteksi apa penyebabnya, apakah karena lapar, kepanasan matahari, perubahan panas dingin sangat cepat, mata silinder, dll. Umumnya pusing terjadi karena suplai darah kurang lancar ke kepala.

Langkah ketiga, apabila perlu melakukan pemijatan, Selaraskan tekanan jari-jari dengan respon pasien, jangan terlalu lemah (tidak terasa), tapi jangan pula terlalu kuat (sakit). Lakukan dialog untuk memperkuat deteksi titik-titik mana yang perlu dipijat. Ingat, titik yang sakit belum tentu merupakan sumber sakit, bisa merupakan dampak dari titik sakit di tempat lain.
Kita harus memahami titik-titk syaraf dalam tubuh dan memahami arah aliran darah dalam tubuh. Umumnya badan diurut mengarah ke jantung. Jadi apabila mengurut tangan, dilakukan dari arah telapak tangan ke pangkal lengan. Mengurut kaki, dari jemari kaki ke pangkal paha. Titi syaraf biasanya berada pada titik-titik disamping atau diantara tulang.
Ilmu refleksi menyebutkan bahwa titik syaraf manusia terkumpul pada telapak kaki dan tangan. Jadi dalam kondisi terbatas, pemijatan cukup dilakukan pada sekitar telapak kaki/tangan sampe pergelangan saja.

Kadang, kita hanya perlu menyentuhkan telapak tangan kepada titik yang sakit. Fokus mata hati dan konsentrasi pada permukaan telapak tangan kita yang bersentuhan itu. Bernafas teratur, dan coba bangkitkan hawa diri kita di telapak tangan. Jika cara ini berhasil, pasien akan merasakan tangan kita makin terasa hangat dan rasa sakitnya akan cenderung berkurang. Lakukan ini selama 10 menit.
Titik efektif yang mudah merasakan sentuhan ini adalah sekitar perut, tengkuk (pangkal leher bagian belakang) dan telapak tangan.
Bahkan metode ini dapat juga digunakan untuk mengobati diri sendiri, dengan cara menyentuhkan telapak tangan kita ke bagian tubuh sendiri yang terasa sakit.

Jika karena keterbatasan, kita tidak dapat melakukan sentuhan langsung, dapat dilakukan dengan jarak jauh. Namun cara ini tidak semua orang percaya, walau sebagian lain akan sebaliknya. Caranya hampir sama dengan sentuhan langsung di atas, cuma bedanya dilakukan dari jarah jauh. Sekali lagi, antara pasien dan pengobat harus satu ritme. Pasien memang mau diobati dan pengobat memang berniat mengobati.

Langkah keempat, minum obat. Kita perlu memahami cara kerja obat dan efeknya ke tubuh. Ada obat yang sebenarnya hanya mengobati gejala sakit, misalnya obat pusing ternyata adalah obat penghilang rasa sakit (bukan menyembuhkan sumber pusing).
Ada obat alami buatan sendiri, obat berlabel alami, obat kimia, dll. Semua tergantung kemantapan/keyakinan pasien.
Obat memberikan respon sesaat. Obat dalam jangka panjang yang terbaik adalah makanan dan minuman yang bergizi.

—–
Tulisan ini hanya sebagian kecil dari banyaknya metode pengobatan. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Dasar penulisan terbanyak dari pengalaman pribadi. Jadi bisa cocok atau tidak untuk dilakukan oleh orang lain. Apabila teori ini bertentangan dengan sumber lain atau keyakinan pembaca, mohon tidak perlu dilakukan.

sekali lagi,
manusia wajib berusaha berobat, namun kesembuhan adalah hal mutlak Allah Yang Maha Kuasa

Yogyakarta, 21 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s