Kebiasaan Diri

Ada kebiasaan umum, ada kebiasaan diri. Secara umum, ada aturan sosial yang tidak tertulis bahwa orang biasanya bangun jam 5-6, sarapan pagi, sehari makan 3x, makan sambil duduk, menyapa dengan mengucap salam dulu, dll. Ada juga kebiasaan diri, yang kadang bisa sama dengan kebiasaan umum, tetapi juga bisa jauh berbeda.

Ini bukan untuk membahas mana yang benar, apakah kebiasaan umum atau kebiasaan diri, karena tentu masing-masing ada argumennya.

Ketika masih anak-anak, kebiasaan diri dianggap masih ‘wajar’ karena ada orangtua di dekatnya, yang siap mem-back-up (membantu) apabila anaknya mempunyai kebiasaan yang berbeda dari umumnya.
Contoh, aturan umum sekolah masuk sekitar jam 7. jadi tidak mungkin si anak baru bangun tidur jam 7, karena dia perlu mandi, ganti baju, makan dan perjalanan ke sekolah. Paling tidak dia harus bangun jam 6.
Contoh, si anak tidak mencuci baju sendiri, apalagi menyetrika pakaian sendiri. Namun orangtua dengan welas asih mau mencucikan dan menyetrika baju anaknya. dll.

Ketika si anak beranjak dewasa, dimana dia mulai masuk ke lingkungan umum, akan berlaku pula kebiasaan umum. Tidak ada lagi orangtua disampingnya. Sehingga suka tidak suka, dia harus menyesuaikan dengan kebiasaan umum.
Semakin punya kebiasaan yang jauh berbeda dari umum, maka semakin terjadi kesenjangan (ketegangan – stress) antara dia dengan lingkungannya. Sehingga satu-satunya jalan menuju kesembuhan adalah penyesuaian dengan kebiasaan umum.

Ada perkecualian bagi mereka yang punya keyakinan tinggi dalam rangka mempertahankan kebiasaan diri. Selama itu diyakini dan dia bisa tetap tampil beda, tidak ada masalah. Namun dia akan selalu berhadapan dengan teguran atau komentar khalayak, yang kadang membutuhkan kesabaran dan senyum keikhlasan.

Hati-hati lho, setelah dewasa baru akan terasa, bahwa banyak hal kadang gagal karena kebiasaan kita yang tidak perlu, tetapi sudah mendarahdaging. Seperti kebiasaan bangun siang, kecanduan merokok, jarang mandi, malas tersenyum, membersihkan rumah, dll.

Semoga kita punya kebiasan benar dan dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat di sekitar kita.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s