Keseimbangan Cinta

Sepasang ABG anak SMA yang saling mencinta plus berpacaran, kadang dikatakan nekad, karena mereka tidak peduli latar belakang keluarga pasangannya.
Banyak pula terjadi rajutan cinta melalui chatting yang mengabaikan bibit-bebet-bobot keduanya, karena cinta terjalin atas dasar komunikasi yang ‘nyambung’ dan hati mereka ‘klik’. Walau kadang saat bertemu langsung akan memberikan sensasi yang bener-bener lain (baca: tidak semesra saat chatting).

Sementara itu di belahan cerita yang lain, sepasang sejoli begitu sulitnya membangun cinta dan rumah tangga, karena barikade persyaratan bibit-bebet-bobot sangat ketat. Dan ternyata pula saat dijalani, 3 syarat itu memang benar-benar riil ada. Sehingga disimpulkan “perbedaan ibarat menyimpan bara dalam sekam”. Wow !

Menjalin cinta itu harus menyelaraskan antara perasaan dan logika. Perasaan akan bermuara pada hati. Ketika hati tersentuh dan memberi kesan positif, maka semua hal dari pasangan akan dianggap positif. Andaikan ada negatif, itu masih dimaklumi bin dimaafkan.
Penggunaan perasaan sangat perlu, karena sepasang sejoli ini kan datang dari asal yang berbeda, cetakan beda, sifat beda, jenis beda, dan perbedaan lainnya yang kadang sangat banyak. Tetapi dengan perasaan suka, perbedaan itu menjadi “bukan sesuatu yang prinsip dan mengganggu” kehidupan mereka.

Namun ketika rayuan cinta sudah datang, bahwa “cintaku hanyalah untukmu seorang” dan “aku tak bisa hidup tanpamu”, terkadang berikutnya muncul logika “besok kita makan apa?”. Lalu mulailah menghitung jumlah pendapatan dan rincian apa saja kebutuhan hidupnya.

Pertimbangan logika akan menyadarkan pasangan itu bahwa mengarungi kehidupan tidak hanya berdasar perasaan (cinta), tetapi juga harus menyelaraskan dengan kebutuhan-kebutuhan materi, yang pendekatannya dilakukan secara logika.

Kembali diingatkan,
semakin banyak perbedaan, potensi perselisihan akan semakin tinggi. Apalagi jika perbedaan itu menyangkut urusan prinsip. Pengertian “prinsip” terkadang relatif bagi setiap orang. Ada yang mengatakan urusan Agama adalah prinsip. Tetapi bagi mereka yang tidak taat menjalankan agama, perbedaan nama agama menjadi dianggap ringan. Ada juga yang menganggap Harta adalah prinsip. Tetapi bagi mereka yang tidak suka harta, itu menjadi masalah ringan. Begitu juga dengan Suku, Adat, Pangkat, dll.

Namun,
secara umum, ikatan cinta memang harus didukung dengan penyelarasan tentang hal-hal yang sangat mempengaruhi kehidupan mereka secara lahir maupun batin. Sebutan riilnya seperti agama, harta, kedudukan, strata sosial, pendidikan, pekerjaan, dll. Hal-hal tersebut jelas akan sangat berpengaruh. Sejauh mana, itu tergantung ke-ego-an masing-masing dan jurus jitu cara meredamnya.

Kalau pasangan itu tidak mampu menyelaraskan perbedaan, maka letupan-letupan kecil akan terbangun menjadi ledakan besar yang bisa memporak-porandakan bangunan cinta mereka.
Hidup butuh strategi, begitu juga dalam menjalin cinta.
Keseimbangan cinta adalah kunci keharmonisan hidup, terutama dengan menyelaraskan pemenuhan kebutuhan lahir dan batin.
Apakah ini jaminan sukses?
belum tentu! masih dipengaruhi oleh Sang Penentu Utama dalam kehidupan ini. Tugas kita adalah berusaha sebaik dan se-strategis mungkin. Baru kemudian memohon keberhasilan, karena manusia hanyalah satu dari sekian tak terhitung dari ciptaan-Nya.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s