Berbagi cerita dalam kegiatan Seminar Motivasi di Desa Beji – Ngawen – GK – DIY

Alkisah seorang mahasiswa UPNVY sms, minta aku jadi salah satu narasumber seminar motivasi dari kegiatan pemuda di desanya. Aku setuju saja untuk berbagi nasehat dan mendukung kegiatan anak muda yang sangat mulia.

Minggu pagi, 6 Maret 2011, jemputan datang terlambat 1 jam dari janjian karena mobil yang dia pinjam dari teman sempat mogok karena lama gak dipakai. Hadoh, kebayang deh kondisi mobil. Blower AC memang ada, tapi AC ga jalan. Berdasar kondisi TKP, mobil ini sudah berminggu-minggu tidak merasakan elusan tangan tukang cuci mobil. Tapi tidak apa-apa, kan sudah niat perjuangan (pikirku).
Sepanjang jalan Sleman-Gunungkidul aku sempat menanyakan bagaimana audien seminar ini beserta jumlahnya. Sampai lokasi, aku cukup kaget karena ternyata audien kebanyakan usia SMP dan awal SMA. Haduh biyung, biasanya aku ndalang di depan mahasiswa di atas usia sweetseventeen dan orang separuh baya sampai manula, lha ini harus bersilat lidah di depan audien remaja.
Terkumpul sebanyak 45 orang siswa-siswi seusia SMP-SMA di Balai Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunung Kidul DIY. Hadir pula Pak Camat dan Ibu Kepala Desa. Sehingga seminar ini di awali dengan berbagai sambutan. Bahkan sambutan Pak Camat melebar ikutan memberi materi motivasi hehehe…
Untung aku urutan ketiga atau yang terakhir dalam ceramah seminar ini, sehingga cukup waktu mengatur strategi dan menggali joke-joke spontan untuk menghidupkan suasana. Tapi juga ada jeleknya, urutan ketiga harus menunggu hampir 2 jam. Bayangkan betapa jenuhnya audien. Apalagi 2 pembicara pertama adalah mahasiswa yang sangat bersemangat merangkai kata, tapi kadang lupa memikirkan bagaimana audien merespon kata-katanya.
Pembicara pertama berasal dari mahasiswa Turkmenistan yang sedang belajar di UNS mengambil jurusan sastra inggris. Tapi aku super kaget ketika dia sangat fasih berbahasa Indonesia. Padahal aku yakin dia di Indonesia belum lebih dari 5 tahun. Bayangkan daku yang sejak SMP sudah tahu arti “I love you”, namun setelah 10 tahun lebih masih saja TOEFL-nya jongkok. Apalagi kalo didaulat ketemu bule, dijamin langsung mengambil langkah aman (baca: bersembunyi di belakang punggung translator).
Pembicara kedua seorang mahasiswa dari jurusan Fisika MIPA UGM. sangat idealis menceritakan bagaimana potensi SDManusia dan SDAlam Gunung kidul. Sehingga dia memberikan pesan agar “wong ndeso tidak perlu minder, karena punya potensi dan prestasi”. Aku jadi berkaca, karena memang asli produk ndeso.
Sambil menunggu, aku terus menggali ide. Terkadang jalan ke teras balaidesa sambil melihat Hutan Wonosadi di seberang perbukitan utara balai desa. Akhirnya aku ketemu beberapa inovasi yang membedakan dengan 2 pembicara sebelumnya, apalagi audien sudah capai dan ngantuk. Ide-ide ini muncul spontan di lokasi sbb:
Joke pertama
“Coba saya tanya yaaa, anda siap tunjuk jari…
1. Siapa diantara kalian yang sedang ngantuk???
2. Siapa yang ingin ngantuk?
3. Siapa yang tadi ngantuk?
(joke ini sengaja kulontarkan agar mereka yang ngantuk menjadi malu ngantuk dan kembali bersemangat. saya termasuk yang tidak suka dengan yel-yel untuk ice breaking)
Joke kedua
“Coba tebak, kira-kira saya ini anak pejabat atau bukan?  (mereka terdiam)
Alhamdulillah, saya adalah anak mantan pejabat..! (ucapanku penuh wibawa serius)
Coba tebak, pejabat apa pantasnya??
Pak Lurah?……Pak Camat?…..Pak Bupati..? (mereka berbisik2 mencoba menebak)
Sebenarnya saya adalah anak mantan pejabat…… RW ! “
(audien ketawa riuh, karena tebakan mereka tidak ada yang membayangkan jawaban itu)
Kemudian saya masuk ke materi motivasi. Materi diurutkan dari menggali potensi diri, mengetahui karakter manusia, kepemimpinan, keorganisasian dan pemberdayaan pemuda desa. Materi ini sebenarnya multiefek, bisa untuk mahasiswa sampai orang dewasa di desa. Namun mengingat audien adalah bocah-bocah bersemangat, aku “berikan kulit tanpa mengupas sampai isi terdalam” agar mereka mudah mencerna dan mengingat dengan riang gembira.
Alhamdulillah waktu tayangku 45 menit ini mendapat respon yang luar biasa. Banyak joke segar sebagai selingan obrolan. Tentu saja lelucon ini untuk pola pikir sederhana.
Joke ketiga
“saya akan ajari bagaimana meramal dan menebak watak.
“naahh….. kamu pasti lelaki ! (aku nunjuk siswa di depanku)
kontan mereka tertawa tapi juga protes, kok meramalnya cuma segitu hehehe..
“ok saya lanjut meramalnya yaaaa…
“ayo tunjuk jari, diantara yang putri ini, siapa yang merupakan anak sulung?”
tunjuk tangan ada 4 orang.
“ok saya ramal ya, apakah…..kalian….. sangat mendambakan kakak laki-laki?”
“yaaaa” tiga orang menjawab. “tidaaak” satunya jawab beda
“tapi kan masih benar 3, jadi nilai ramalannya 75% yaa” (penceramah kudu pinter nge-les)
aku tertarik dengan jawaban “tidak” tadi. usut punya usut, ternyata dia punya adik lelaki beda umurnya cuma 1 tahun. pantes bete, lha pasti sering disuruh ngalah dengan adiknya, sementara dia belum puas curahan kasih sayang.
saya sangat respek dengan ibu kepala desa yang menemani acara ini dari awal sampai akhir. Bahkan masih sempat ngobrol tentang bagaimana memberdayakan masyarakat desa terkait dengan potensi hutan Wonosadi.
usai acara, sajian semangkok soto sangat uenak disantap. Apalagi perut sudah keroncongan. saya mendapat cinderamata berupa sebungkus parcell kreasi anak-anak muda. Pulang ke jogja, tiada lupa mampir beli selusin petai di pinggir jalan (buat persediaan masakan lezat hehhee).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s