Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Borobudur (kisah perjalanan)

Kamis, 10 Maret 2011

Pagi itu aku meluncur dari Yogyakarta ke kawasan Candi Borobudur. Aku janjian dengan Pak Hery (Yayasan Kuncup Mekar) untuk membantu kegiatan workshop masyarakat Borobudur. Sampai di terminal bus borobudur, sempat aku nongkrong 20 menit nunggu jemputan, sambil menikmati pisang dan gorengan. Hati tersentuh melihat beberapa tukang becak dan ojek berlomba memasuki tiap minibus yang masuk area terminal. Mereka berlomba menawarkan jasa pengantaran.
Jemputan motor datang. Tadinya kupikir menuju Hotel Manohara di komplek Borobudur. Ternyata meluncur terus masuk ke area pedesaan, tepatnya di halaman rumah seorang penduduk yang dijadikan pesta kebun. Area di bawah pepohonan ini dijadikan menu makan siang. Aku datang terlambat karena acara makan hampir usai. Untung ada seorang ibu yang menawarkan lauk ‘brutu’ ayam kampung opor. Yo wis, santap aja bung !
Ternyata di dalam rumah sedang ada diskusi menarik antar para pihak yang peduli pada pengembangan kawasan borobudur. Bahkan tercata dari departemen pariwisata, UI jakarta, UNESCO, pemda dan kelompok masyarakat. Karena aku tidak diundang dan tidak tahu harus bagaimana (belum diberitahu apa dan bagaimananya), maka ya menyelesaikan tugas mulia, menyelesaikan menyantap brutu hehhe. Aku pun tidak mau mengganggu pak Heru dkk yang masih sibuk melayani tamu.
Sore itu aku diajak transit di homestay milik pak lurah Borobudur, yang lokasinya 500 m utara candi. Di situlah aku mendapat menjelasan (TOR) latar belakang diadakannya Lokakarya dan Gelar Seni Kawasan Mandala Borobudur. Setahuku plot dari rumah sebagai moderator (fasilitator) dan sekaligus mewakili dari kalangan akademisi. Namun ternyata kamis malam itu aku harus ‘ndalang’ rangkap, yaitu sebagai MC, Sie Acara dan Moderator (pokoknya meng-handle acara dari pembukaan jam 19.30 WIB sampai berakhir pukul 00.00 WIB. Sambungrasa malam itu dihadiri sekitar 70 orang dari desa-desa di wilayah Kecamatan Borobudur (20 desa). Sesi awal berisi sambutan dan pendapat para inisiator, yang dilanjutkan dengan tanya jawab.
Jumat, 11 Maret 2011
Pagi itu sudah terasa capainya, karena tadi malam kurang tidur (kata guru PKK waktu SMP kan harus 8 jam hehe). Kalau semalam mengumpulkan pendapat dari masyarakat, kali ini adalah diskusi panel di Hotel Manohara dengan narasumber dari instansi terkait.
Aku hanya meng-handle sesi pagi karena sorenya harus meluncur ke semarang.
Narasumber yang kupandu adalah Sekretaris Dirjen dan Direktur Departemen Pariwisata, serta perwakilan dari BP DAS Serayu Opak Progo. Pertemuan ini juga dihadiri sekitar 70 orang.
Sebagai moderator, aku sempat berbisik mengenalkan diri ke narasumber sebagai “dari UPN Jogja”. eh, eh, ternyata pak Sekditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Bp Winarno Sudjas adalah kakak ipar dari Rektor UPNVY. Yo wis, “dunia memang selebar daun kelor”.
Berdasarkan keikutsertaan dan pengamatan selama 2 hari ini, aku mencoba merangkum ‘benang merah’ dari rangkaian kegiatan ini sbb. :
– kegiatan ini dilaksanakan secara maraton selama 3 hari, target utamanya adalah penyadaran semua pihak untuk berperan dan berkontribusi dalam pembangunan kawasan borobudur. Hari I untuk menggali ide dari masyarakat. Hari II mendengarkan masukan dari narasumber instansi terkait. Hari III diskusi teknis dengan Bappeda Kab Magelang.
– seluruh desa di kecamatan Borobudur sudah menggali potensi dengan menyusun RPJM Desa. Dokumen rencana ini perlu dimatangkan lagi dan segera action yang diimbangi dengan monitoring dan evaluasi.
– tujuan akhir pemberdayaan masyarakat adalah aspek ekonomi (kesejahteraan), lingkungan (cagar budaya) dan sosial masyarakat.
– beberapa usulan yang masuk antara lain : upaya meningkatkan kenyamanan dan lama tinggal wisatawan, pendistribusian wisatawan ke kawasan sekitar kompleks candi borobudur, perlunya sinergi dan kebersamaan para pihak, perlunya menjual ke-khas-an produk borobudur, perbaikan infrastruktur, penciptaan pasar dari potensi produk lokal, perlunya pendampingan yang berkesinambungan, dan target kegiatan yang jelas & terstruktur.
– pembangunan kawasan ini tidak hanya bertumpu pada bidang pariwisata, karena kawasan borobudur memerlukan dukungan dari bidang lainnya, seperti pertanian, perkebunan, industri, lingkungan, dll.
Kegiatan ini masih memerlukan RTL (rencana tindak lanjut) yang lebih teknis dan pengawalan dari banyak pihak. Kegiatan 3 hari itu merupakan awal penyadaran. Selanjutnya memerlukan ketekunan dan kegigihan semua pihak dalam membangun kawasan borobudur yang eksotik, lestari dan sejahtera.
keterangan:
catatan ini bersifat pengamatan subyektif dan pengamatan yang tidak lengkap, sehingga tidak mewakili kesan obyektif dari seluruh kegiatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s