TOT Pengelolaan DAS dengan konsep Wanatani berbasis Masyarakat (catatan perjalanan)

Jumat, 11 Maret 2011

Rute perjalanan dari Borobudur ke Semarang tidak semudah apabila berangkat dari Terminal Jombor Jl Magelang Jogja. Beruntung ada seorang teman yang mau mengantarkan aku ke Jl Magelang. Berharap dapat Bus langsung jurusan Semarang, tetapi penantian sampai pada sebuah angkot untuk menuju ke Terminal Magelang. Dari sinilah aku meluncur dengan Bus AC Ramayana.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah ke Semarang untuk menentukan desain dan titik-titik lokasi pelatihan. Sehingga malam itu merupakan perjalanan untuk tidur bermalam di Semarang, agar esok paginya siap dengan stamina prima. Maklumlah, memandu 2 sesi acara di Magelang (kamis malam dan jumat pagi) membuat staminaku banyak berkurang.

Sabtu, 12 Maret 2011

Peserta TOT (training of trainer) kali ini sangat bervariasi, walaupun jumlah totalnya hanya 20 orang. Mereka ini berasal dari petani/peternak setempat, SKPD (BLH, Distanbunhut, Disnakkan), Perusahaan, dan Perguruan Tinggi. Tantangan narasumber adalah bagaimana membangkitkan semangat dan kegairahan peserta dalam menerima materi. Tetapi variasi yang tinggi dari peserta membuatku harus berhati-hati, terutama dalam melempar joke dan pertanyaan memancing feerback. Kalo guyonan terlalu sederhana, nanti yang highlevel tidak mau senyum. Demikian juga jika guyonan terlalu butuh mikir, nanti yang lowlevel akan tidak senyum. Tetapi akhirnya saya memilih logika sederhana agar informasi dapat diterima semuanya.

Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan bahasa dari materi akademis dengan istilah sederhana. Juga menerjemahkan logika akademis yang penuh skema, rumus dan tabel menjadi tampilan yang sederhana tetapi esensinya tidak jauh berbeda.

Pelatihan ini melibatkan 3 narasumber, yaitu tokoh LSM dari Bandung, Ahli Kehutanan dan saya sendiri. Kesemuanya di bawah koordinasi penyelenggara Yayasan Bintari Semarang yang bekerjasama dengan ERCA Jepang. Secara periodik tahunan lokasi ini dijadikan obyek kunjungan ecotour dari para mahasiswa Jepang yang study banding di Semarang. Bahkan ada beberapa yang tinggal 2 bulanan, sampai mereka bisa berbahasa Indonesia.

Awal pelatihan peserta diajak dialog untuk menggali apa motivasi mereka ikut pelatihan ini dan apa pula mimpinya pasca pelatihan. Selanjutnya materi ceramah disampaikan beruntun dengan topik DAS, Konservasi, dan Agroforestry. Materi dikombinasi antara ceramah, tanya jawab dan game.

Acara pelatihan diselingi makan siang dengan menu tradisional, yaitu urap, gereh (ikan asin), gorengan dan minuman susu sapi hasil perahan yang dicampur dengan jahe dan gula aren. Kami sangat menikmati menu masakan ini, apalagi berada di lokasi yang sangat sejuk dan asri dengan pemandangan alam yang indah.

Usai makan siang, dilanjutkan dengan penjelasan lapangan (fieldtrip lokal). Penjelasan meliputi aliran sungai, pencemaran air, longsor, pengembangan ternak sapi perah, rumah kompos, biogas, embung penampung air, pertanian organik, rumah pembibitan, sumur resapan dan agroforestry (kebuncampuran). Aku menjadi pengisi utama untuk sesi lapangan ini, dilengkapi dengan penjelasan petani/peternak setempat dan ahli kehutanan. Terlihat peserta malah lebih antusias dalam sesi lapangan ini daripada model ceramah dengan duduk lesehan.

Satu ide baru muncul ketika harus menjelaskan bagaimana proses erosi. Tampingan teras yang ditumbuhi rumput tebal, sebagian digunduli dengan cangkul. Sehingga terpampang alur miring tanah gundul dan alur miring dengan rumput tebal. Panjang alur paling hanya 1 meter, tetapi cukup untuk demontrasi erosi. Seorang teman membantu menyiramkan dengan gembor saringan dari arah atas (dianggap sebagai hujan). Pertama disiramkan ke alur gundul, lalu disiramkan ke alur rumput. Pemandangan fenomenal dari butir-butir tanah yang terangkut air pada alur gundul dan air yang mudah meresap di alur rumput, memberikan kesan luar biasa pada peserta. Pesan materi adalah “tanah gundul akan mudah mengalami erosi”.

Acara lapangan sempat terganggu dengan turunnya hujan. Untung 90% materi lapangan sudah tersampaikan. Sehingga diskusi dilanjut di dalam ruangan, untuk evaluasi dan sekaligus rencana tindak lanjut (RTL). Kita tekankan bahwa peserta nantinya harus mandiri menjadi trainer (pelatih), sehingga evaluasi akhir ini sebagai pendalaman agar materi dapat diterima mendekati 100%.

Sekitar 2 minggu berikutnya mereka yang akan berlatih memandu peserta dari desa-desa lain di luar Dusun Indrokilo Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kab Semarang. Tugasku adalah memastikan acara berjalan lancar, dengan melakukan pengawasan, evaluasi dan perbaikan seperlunya.

Sebagai penutup,

lokasi ini sudah didampingi Yayasan Bintari selama hampir 4 tahun. Lokasi ini juga mendapatkan bantuan dari berbagai dinas/instansi. Bangunan bantuan tersebut adalah rumah pertemuan, rumah pendidikan, embung, rumah kompos, biogas, rumah pembibitan, sumur resapan, ombrometer, dan lain-lain.

Semoga tulisan yang bersifat subyektif ini bermanfaat buat pembaca,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s