Politik Santun

Konon, politik itu adalah upaya untuk bersaing antar kepentingan berbeda untuk meraih kemenangan. “Upaya meraih” inilah yang sering jadi pokok pembahasan seperti tiada ujung. Biasanya kupasan lebih pada kode etik, walapun keberadaannya ‘sangat fleksibel’ tergantung siapa yang menafsirkannya. Lalu kita mengenal istilah ‘kampanye hitam’ yang ditujukan pada cara-cara meraih kemenangan yang melanggar kode etik. Atau istilah ‘politik santun’ untuk cara-cara yang sesuai kode etik.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kode etik lebih dikarantina definisinya pada aturan main yang tertulis. Sehingga banyak pelaku yang memainkan aturan-aturan yang tidak tertulis. Biasanya memakai cara ‘mengendalikan’ media dan memberikan angpaw (upeti) untuk mengubah arah angin. Beberapa contoh di bawah ini adalah fenomena yang sering dijadikan ‘barang jualan’ dalam per-politik-an, baik ditingkat RT sampai RI-1, baik pemerintah, swasta, lembaga akademis, organisasi masyarakat, dll.
Pertama, isue gender dan SARA sering jadi makanan empuk untuk dilontarkan. Namun karena aturan tertulis sering sudah memagari hal ini, maka kampanye sering dilakukan dengan kedua jempol tanpa suara (baca : SMS, BBM). Atau kasak kusuk di tempat yang ‘temboknya tidak bisa mendengar’.
Yang lebih keji biasanya dengan melempar fitnah (bukan fakta). Metode ini efektif untuk para pemilih yang hobby menggosip (suka berita heboh, tak penting faktanya benar atau salah).
Kedua, sisi lemah dari lawan tanding. Walaupun lomba hanya pada prestasi tertentu, tetapi ‘kajian mendalam’ dari sisi lemah ini dilakukan terhadap seluruh sisi kehidupannya, dari masa kecil, keluarga, saat sekolah, prestasi kerja, watak dan bahkan ganteng-cantik tidaknya seseorang.
Ketiga, mematikan langkah. Ini ibarat seperti perang zona, dimana memagari kekuatan lawan dengan cara ‘mempreteli’ (mencopot satu per satu) kekuatan potensi diri maupun jumlah dukungan di sekitarnya. Aktifitas geraknya akan selalu diawasi dan dibatasi, yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada kesempatan untuk menaikkan pencitraan diri. Metode ini bisa dilakukan efektif apabila didukung kekuatan ‘koalisi’ dan kekuasaan.
Keempat, membuat aturan yang mengambang. Aturan yang kelihatan jelas tetapi sebenarnya banyak celah ketidak pastian. Aturan ini pada kondisi umum akan dilepas tanpa saringan. Tetapi dalam kondisi khusus, aturan mengambang ini akan efektif menjebak mereka yang jadi lawan politiknya.
Kelima, mengenali kultur masyarakat pemilihnya. Misalnya masyarakat suka calon yang ganteng berwibawa dan cantik anggun. Tentu kesukaan ini akan sangat sulit dipenuhi oleh calon yang tidak punya modal ini. Kadang emosi juga, kok kriterianya itu, bukannya kinerja dan manajerial. Tapi kalo kultur seperti itu maka pada kontestan harus menyesuaikan. Seperti juga kultur di pemilihan pemimpin desa, dimana masyarakat kadang lebih suka ‘amplop’ daripada jualan program.
dll.
Politik santun ini kadang diidentikkan dengan budaya sopan santun dalam pergaulan umum. Tapi pengertian ‘santun’ juga menjadi perdebatan panjang, yang kadang dalam waktu dan tempat berbeda bisa berbeda pula penafsirannya.
Bagaimana penafsiran politik santun menurut anda sendiri ?
Atau jangan-jangan kesantunan itu hanya sebuah fatamorgana dari ajang politik ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s