Usulan RTL (rencana tindak lanjut) dalam Pemberdayaan Masyarakat Kawasan

Usulan RTL (rencana tindak lanjut)
dalam Pemberdayaan Masyarakat Kawasan

(Belajar dari Pemberdayaan Masyarakat Borobudur)

Kegiatan maraton selama 3 hari sudah dilaksanakan beberapa minggu yang lalu, dengan menghadirkan dari segala lapisan, baik masyarakat, pemerintah, LSM, akademisi, maupun pihak-pihak lainnya. Gaung kegiatan ini rasanya cukup ditandai sebagai upaya ‘penyadaran bersama’ akan pentingnya mengembangkan kawasan Borobudur.
Tentu saja berbagai pihak di dalamnya mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Namun perbedaan itu dibarengi dengan persamaan untuk berbagi peran (“siapa berbuat apa”) dalam pengembangan kawasan Borobudur.

Semangat sudah menyatu dan dokumen RPJMDesa sudah ada. So, RTL-nya apa donk?

Jika kita mau jeli menggali, tentu dokumen RPJMDesa ini banyak yang diselesaikan dengan waktu yang mungkin ‘kejar tayang’, sehingga perlu dicermati lagi mana rencana yang realistis dan mana yang kurang membumi.
Begitu juga pihak-pihak di luar kawasan Borobudur diibaratkan sebagai “pasukan siap tempur” yang bersedia memberikan bantuan untuk Borobudur. Bantuan apa? nah ini yang harus jelas dan terukur. Bantuan dalam bentuk proposal rinci juga harus didesain lebih menarik dan aktual.
Belum lagi jika kita menengok potensi lokal, yang bila dihitung asumsi ‘rupiah’, nilainya akan jauh lebih besar dibandingkan segala bantuan dari luar. Inilah yang utama perlu disadarkan pada pihak lokal agar tahu terlebih dahulu potensinya. Sehingga permintaan bantuan ke pihak luar hanyalah stimulan (tambahan) belaka dan sifatnya tidak wajib.

Secara rinci bentuk-bentuk kegiatan yang perlu dilakukan adalah sbb. :

1. Melakukan konsolidasi kelembagaan
Secara ceremonial, para pihak sudah terlihat kompak. Tetapi ketika masuk ke dalam, tentu masih banyak karakter manusia yang perlu diselaraskan agar makin harmonis. Pertemuan rutin untuk berdialog masih memerlukan mediasi (pendampingan), sehingga mereka mampu mandiri menggali potensi dan menguatkan sistem kelembagaan yang dibentuk. Mereka terlihat masih sensitif dengan bentuk-bentuk kelompok yang sudah ada, sehingga konsolidasi ini dilakukan secara universal. Bukan atas nama kelompok tertentu, tetapi atas nama bersama, duduk bersama, diskusi bersama, dan meraih kesepakatan bersama. Pertemuan ini dapat dilakukan setiap minggu agar barisan makin rapat dan kompak.

2. Melakukan identifikasi program dan lokasi unggulan
Dari sekian desa di kawasan Borobudur, jangan terjebak “semua desa harus maju bersama”. Kita harus realistis, mana yang bisa ‘dijual duluan’ dan mana yang menyusul. Sehingga perlu penggalian intensif program apa dan dimana lokasinya untuk dikembangkan lebih dulu. Harapannya ini akan menjadi sebuah daya tarik baru dan mampu menyedot perhatian publik secara positif.
Misalnya unggulannya adalah Pepaya Borobudur. Ada dimana penanamannya? bagaimana akses ke sananya? bagaimana menikmatinya? apakah dimakan di tempat, atau untuk oleh-oleh?
Misalnya tarian Jatilan. dimana sanggarnya? dimana akan dipentaskan? kapan waktunya?
dan seterusnya.
Ingat lho, pemilihan program unggulan ini setelah SEMUA potensi sudah digali. Kemudian dibuat matriks untuk memutuskan mana 3-5 program unggulan yang akan diangkat.

3. Pengembangan komunikasi dan jejaring dengan para pihak
Komunikasi yang intensif dan pembangunan jejaring (networking) perlu dibangun dengan semua pihak. Kegiatan riilnya dapat berupa studi banding, pembuatan website, email, mailinglist, facebook, dll. Sehingga pergerakan ini dapat diketahui publik.
Kemudian dirancang kerjasama, misalnya mengundang narasumber pada seminar, dialog, pelatihan, dll. Terkadang juga perlu studi banding ke lokasi yang sudah mapan, seperti desa wisata, agrowisata, eko wisata, dll.
Banyak pengembangan kawasan menjadi sangat terhambat hanya karena kualitas SDM yang tidak mampu berkomunikasi dan kerjasama dengan pihak luar secara cepat.

4. Introduksi teknologi dan sarana pendukungnya.
Setelah jelas program dan lokasinya, baru kita melirik aksesibilitasnya. Apakah jalan ke sana sudah bagus? petunjuk arah sudah ada? guide lokal sudah terlatih? tempat pertemuan dimana? fasilitas publik sudah ada?dll.
Jadi teknologi dan sarana pendukung itu menyesuaikan program dan lokasi unggulan.
Misalnya unggulan kelapa. perlu teknologi pembuatan gula semut, gula gelapa, gula jawa + rempah, pengemasan, periklanan, penyajian, dll.

5. Memperluas pasar
Jika melihat potensi Borobudur, ada 2 opsi. Pertama membawa wisatawan ke lokasi wisata desa. Kedua membawa produk unggulan desa ke outlet di kawasan candi. Tetapi pasar tidak hanya terbatas pada 2 opsi ini. Kita bisa mengembangkan pasar nasional dan internasional, misalnya dengan penjualan online. Layanan pesan antar lokal, regional dan seterusnya.
Sebelum membuka pasar, sebaiknya pastikan kualitas SDM yang konsisten dan profesional. Seperti pemesanan kemana? dimana? hubungi siapa? berapa harganya? berapa lama pengiriman? bagaimana resikonya? dll.
Semua bisa dimulai dari layanan yang kecil, untuk berlatih apabila ada pasar yang sangat besar. Ingat, banyak peluang pasar hancur gara-gara SDM tidak kompak. Umumnya kalau sudah terkait aspek ‘rupiah’ maka kekompakan akan sangat diuji.

Nah,
langkah-langkah di atas perlu didukung oleh :

A. Pemimpin lokal yang handal
Sebaiknya dipilih mana yang terbaik, dari aspek leadership, keteladanan, dll.
Orang terpilih ini yang cukup berwibawa menggerakkan massa, tetapi alurnya juga bisa dipertanggungjawabkan. Pengalaman masa lalu yang banyak konflik cenderung membuat sesama SDM lokal akan saling curiga jika ada yang jadi ketua/koordinator. Potensi ini perlu diantisipasi, misalnya dengan pemilihan demokratis dan pendekatan lintas kelompok.

B. Kebijakan (policy)
Alur perjuangan pengembangan kawasan harus diikuti dengan aturan main yang jelas, dari rujukan aturan dari pemerintah pusat, terus ke bawah sampai kesepakatan desa dan kelompok. Jika aturan dibuat bersama, biasanya kelompok akan lebih peduli mempertahankan dan mematuhi kebijakan itu. Konsep buttom up diutamakan.

C. Dana
Pertama perlu digali potensi dari tersurat dan tersirat dana (aset) dari lokal. Misalnya dana iuran, rumah kegiatan, alat transportasi, dll. Selanjutnya diidentifikasi potensi lembaga lain yang mampu mendukung dana. Misalnya jika butuh bibit, minta ke lembaga apa. Jika putuh pelatihan, minta kemana. dll.
Jadi prinsip dana adalah memberdayakan segala aset (barang dan uang) untuk mendukung kegiatan.

D. Pendamping
Dibutuhkan pendamping yang all out (totalitas) mendukung gerakan ini. Biasanya dalam tahapan merangkak akan sedikit yang mau mendampingi. Tetapi ketika berhasil, akan sangat banyak yang menawarkan diri. Bahkan tidak sedikit yang akan mengklaim bahwa atas jasa merekalah daerah ini bisa maju. Makanya kekuatan pemimpin lokal dan tim inti yang solid harus mampu selektif menentukan pihak mana yang boleh dan tidak. Terlalu mudah menerima pendamping tanpa seleksi akan memicu masalah baru, karena setiap pendamping biasanya punya misi yang berbeda. Apapun misinya, harus diselaraskan dengan visi misi kawasan.

Demikian,
usulan ini masih perlu diterjemahkan lagi di tataran teknis, misalnya siapa lembaganya, penanggungjawabnya, target waktunya, dll. Semua ini harus didiskusikan dengan stakeholder setempat.

Yogyakarta, 27 Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s