Sinyal Diri

Sebagai penggemar film silat, kadang aneh plus tidak tahu, ketika seorang tabib (sinsei) mengecek kesehatan pasiennya dengan merasakan denyut nadi di pergelangan tangan bagian dalam. Kok bisa ya, pikirku.

Seiring perjalan waktu, ketika mulai belajar memijat, yang tentu saja diawali dari hobby suka dipijat. Variasi pijatan dari banyak pemijat ini memberikan pelajaran berharga dimana titik-titik yang perlu ditekan yang disesuaikan dengan keluhan penyakitnya. Ada beberapa yang bisa diserap, ada yang lupa, ada juga yang membangun inovasi pijatan baru. Semua ini dijalankan dengan langkah coba-coba (trial and error) sambil melakukan komunikasi dengan pasien.

Metode pemijatan dimulai dari semangat menyala-nyala ingin menolong orang yang sakit dengan pengobatan ala kadarnya, sedemikian rupa sehingga bisa direstui oleh-NYA menuju kesembuhan. Minimal meringankan.

Hasil inovasi yang ditemukan ‘di tengah jalan’ adalah metode mendeteksi kesehatan orang dengan cara bersalaman. Memang tidak banyak yang dapat ‘dibaca’ dari salaman ini, tapi minimal bisa mendeteksi stamina orang tersebut. Parameter (pertanda) yang digunakan adalah suhu dan kelembaban telapak tangan.
Apabila suhu normal (tidak dingin atau panas), itu pertanda orang tersebut sedang dalam stamina prima. Tidak ada gangguan fisik yang dialami.
Apabila suhu hangat/panas, ada 2 deteksi. pertama, dia stamina sedang turun atau kurang tidur. kedua, dia memang sedang demam (dugaan ini perlu diperkuat dengan suhu hangat di bagian tubuh yang lain, misalnya tengkuk dan jidat).
Apabila suhu agak dingin dan terasa agak lengket, biasanya orang itu sedang masuk angin. Namun apabila dinginnya mendekati dingin es, itu orang sedang kedinginan. Apabila dinginnya masih sebatas telapak tangan sampai siku, itu pertanda penurunan stamina sedang proses karena kalah dengan kondisi lingkungan.

Metode ini kadang sulit dijelaskan karena ilmu rasa (ilmu titen) terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun prinsipnya, pendeteksian dini ini sangat penting untuk mengetahui stamina seseorang. Bahkan apabila sudah terlatih, dengan melihat rona wajah, kita bisa menduga kondisi batin dan stamina dari orang tersebut.

Sangatlah penting mempelajari sinyal dari masing-masing diri kita, karena walau secara umum sama-sama manusia, tiap orang punya karakter sinyal yang khas. Alangkah baiknya jika sinyal itu diketahui oleh si pemilik badan. Untuk apa? kita bisa menentukan kapan seharusnya istirahat, kapan makan, kapan tidur, kapan harus bekerja, dan seterusnya. Banyak orang terkena sakit hanya gara-gara tidak bisa mengukur kemampuan diri.

Seperti pesilat muda, ketika bertanding bisa on full time tanpa jeda karena nafasnya masih panjang dan staminanya cepat pulih. Tetapi ketika umur merangkak dewasa, stamina makin turun, gerakan makin kurang gesit, maka pesilat tadi perlu melakukan gerakan singkat yang efektif dan efisien. Nafas tidak perlu ngos-ngos-an, tapi jurus tetap ampuh. Demikian juga dengan pekerjaan yang lain.

Apabila kita sudah belajar tekun untuk mengetahui sinyal diri, maka langkah-langkah diri menjari terukur. Lalu melangkah ke pelajaran berikutnya, yaitu membaca sinyal orang lain. Terkadang nasehat kita diperlukan untuk membantu orang lain mendeteksi dini sinyal pada diri mereka. Itulah indahnya hidup, apabila mau saling mengingatkan dan menolong untuk kebaikan.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s