Pemberdayaan Masyarakat Indrokilo – Ungaran

Sekitar tahun 2007, Yayasan Bintari Semarang melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Dusun Indrokilo Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Latar belakang program adalah upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan konsep wanatani (agroforestry). Yayasan Bintari bekerjasama dengan Friend of Earth (FoE) Jepang. Aku sendiri membantu bidang wanatani dan konservasi tanah-air.
Dusun Indrokilo terletak di sebelah barat dari Ungaran, yang dapat ditempuh perjalanan 20 menit menyusuri jalanan berkelok dan menanjak. Untuk mencapai dusun itu harus melewati 2 titik kelokan tajam dan terjal yang memerlukan keahlian tersendiri dari pengemudi mobilnya. Ketinggian tempat sekitar 700 m dpl dengan kiblat lereng arah utara (sisi utara dari Gunung Ungaran). Kemiringan lereng umumnya miring sampai sangat curam. Solum tanah tebal dengan jenis tanah Alfisol. Tutupan lahan umumnya hutan, kebun, sawah dan permukiman. Kebutuhan air untuk penduduk dan sawah dialirkan dari beberapa mata air.
Masyarakat Indrokilo terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelompok ternak, kelompok tani, kelompok wanita dan kelompok pemuda. Beberapa kelompok ini kemudian digabung menjadi satu koordinasi menjadi kelompok wanatani Indrokilo. Mereka bercita-cita ingin membuat kawasan Indrokilo untuk peternakan, pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan dalam sebuah konsep terpadu yang dinamakan wanatani (agroforestry).
Permasalahan lingkungan teridentifikasi dari hasil FGD (sambungrasa) dan penelitian lapangan. Penduduk melaporkan bahwa mata air cenderung mengalami penyusutan di musim kemarau, sehingga hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga atau tidak cukup untuk irigasi. Sementara pola pemakaian air oleh penduduk belum terbiasa untuk melakukan penyimpanan (pemanenan air) karena sejak dulu terbiasa mendapat air secara terus menerus. Masalah ini dicarikan solusi dengan : (1) model pembagian air melalui selang, (2) sosialisasi pemakaian air secara efisien dan efektif, dan (3) pembuatan embung air untuk irigasi. Solusi no 1 dan 2 cukup efektif dijalankan. Namun solusi ke 3 kurang berfungsi dengan baik karena kualitas bangunan kurang baik (air masih bocor) dan lokasi embung yang di bawah permukiman warga (baca: tidak bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga).
Permasalahan ternak adalah model kandang yang satu atap dengan rumah penduduk dan sanitasi kandang yang buruk. Jenis ternak yang disukai warga adalah sapi perah. Selanjutnya warga secara swadaya dan fasilitasi dari Bintari membuat kandang ternak komunal (kampung ternak) di lahan milik kas desa. Bangunan kandang berasal dari modal warga dan dibuat secara gotong royong. Perkembangan bidang peternakan inilah yang paling jelas terlihat perubahannya. Awalnya jumlah kandang hanya beberapa saja dan jumlah ternak hanya beberapa puluh ekor saja, namun setelah 4 tahun, jumlah kandang sudah puluhan dan jumlah ternak mencapai sekitar 200 ekor (jumlah pastinya dapat ditanyakan ke warga). Dukungan program dalam kampung ternak ini adalah : (1) pembuatan instalasi kadang yang lebih sehat (bak minum, bak makanan, lantainisasi, alas karet, instalasi air), (2) rumah kompos untuk pengolahan pupuk kandang, (3) tempat pengepul (pengumpulan) hasil susu perah, (4) tempat pakan ternak, dan (5) instalasi biogas untuk 4 saluran.
Permasalahan pertanian dengan pupuk kimia mulai digeser dengan pola pertanian organik. Warga memanfaatkan pupuk kandang untuk sumber unsur hara bagi tanaman dan biopestisida untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman. Beberapa lahan sudah mantap melakukan model budidaya tanaman padi dengan model pertanian organik.
Upaya untuk menghutankan dari lahan demplot juga dilakukan dengan penanaman beberapa komoditas tanaman tahunan, seperti kopi, kedondong, sengon, dll. Namun upaya ini masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Beberapa hambatan yang dihadapi antara lain : (1) lahan sering jenuh air (lahan basah), (2) bibit tanaman terlalu kecil, (3) perawatan kurang optimal (banyak ditumbuhi gulma), dan (4) petani lebih fokus pada lahan pertanian (padi) dan rumput pakan ternak.
Perjalanan selama 4 tahun ini telah menghasilkan lokasi demplot (percobaan) beberapa hektar dari tanah kas desa. Warga menggunakan untuk kampung ternak dan lahan pertanian dengan sistem sewa per tahun. Kampung ternak ditempatkan pada bagian paling atas. Bangunan lain di sekitarnya adalah rumah pertemuan, rumah kompos, rumah pembibitan, instalasi biogas, alat pengukur curah hujan (ombrometer), rumah pendidikan anak dan embung. Di sekitar kandang ternak ditanami dengan rumput pakan ternak (rumput gajah, dll). Lahan di bawahnya terdiri dari hamparan sawah, rumput, jalan produksi, sumur resapan, dan kebun campuran.
Banyaknya bangunan ini berasal dari swadaya dan bantuan dari beberapa pihak. Namun penempatan bangunan terkesan kurang koordinasi. Warga merasa kadang-kadang ada bantuan tetapi tidak tahu kenapa dibangun di situ dan bagaimana kaitan dengan bangunan yang lain. Misalnya pembuatan sumur resapan menjadi tidak berfungsi karena terkena program pembuatan jalan produksi. Pembuatan embung belum difungsikan secara optimal karen bocor dan belum ada upaya perbaikan. Beberapa bangunan juga perlu mendapatkan perawatan, seperti ombrometer dan atap rumah pembibitan. Beberapa peternak juga belum disiplin dalam menjaga sanitasi kandangnya. Bahkan ada yang membuang kotoran ternak ke perairan (saluran air / sungai). Rumah pembibitan juga baru difungsikan hanya sebagai tempat berlatih, belum menjadi tempat produksi bibit. Adapun bangunan yang sudah difungsikan dengan baik antara lain rumah pertemuan, instalasi biogas, rumah kompos, rumah pakan ternak, rumah penampungan susu perah, dan kandang ternak.
Gaung pengembangan Indrokilo ini sudah cukup berhasil karena setiap tahun Bintari bekerjasama dengan FoE Jepang membuat ecotour. Banyak turis jepang yang diajak berkunjung ke lokasi ini setiap tahunnya (1-2 rombongan per tahun). Bintari juga sudah mendorong para pihak di Kabupaten Semarang, seperti Bappeda, Dinas terkait, Perguruan Tinggi, dan Perusahaan. Beberapa kali dilakukan pertemuan untuk sosialisasi dan merancang program tindak lanjut. Yang terkini, mendorong para pihak untuk melakukan konservasi daerah aliran sungai (DAS) Garang dengan Indrokilo sebagai pusat pembelajarannya. Beberapa pelatihan (TOT) sudah digelar di lokasi ini. Selain materi dan fenomena alamnya, peserta pelatihan juga disuguhi produk industri rumah tangga dari potensi alam Indrokilo, yaitu kopi bubuk, gula aren, kolang-kaling, dan sabun susu.
Berdasarkan alur kisah ini, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah :
  1. Melakukan upaya pemberdayaan masyarakat untuk penguatan kelembagaan, utamanya dalam kepemimpinan lokal, koordinasi kegiatan terkait pekerjaan, pelatihan, pengawasan, agrobisnis, pendalaman TOT, dll.
  2. Melakukan pengawasan dan pembinaan pola peternakan, pertanian, perkebunan dan kehutanan yang berwawasan lingkungan
  3. Perbaikan dan pemanfaatan bangunan : embung (air irigasi dan pemeliharaan ikan), rumah pembibitan, ombrometer, rumah pertemuan, rumah kompos, dan instalasi biogas.
  4. Perbaikan sarana jalan menuju indrokilo, terutama 2 titik tikungan-tanjakan tajam yang cukup berbahaya bagi turis (lokal/mancanegara).
  5. Mendorong para pihak memberikan kontribusi ke Indrokilo dan kawasan sekitarnya
  6. Melakukan pendampingan yang berkesinambungan melalui prinsip “plan-do-check”.
Yogyakarta, 30 Maret 2011

catatan : tulisan ini masih perlu dilengkapi dari Yayasan Bintari (siapa tahu ada yang kurang sesuai dengan fakta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s