Kisah Perjalanan Separuh Jawa Tengah

Senin, 11 April 2011

Aku menitipkan motor di terminal Jombor, Jogja bagian barat-utara, sebelum melanjutkan perjalanan naik bus ekonomi ke Muntilan. Perjalanan Bus hanya sampai sebelum jembatan Pabelan, yang putus salah satu bagian karena banjir lahar dingin Merapi.
Tidak seberapa lama, datang jemputan dari Totok. Agak kaget juga karena menyemput dengan motor bebek matic yang mungil. Jadilah perjalanan ke Pondok Tingal Borobudur dilakukan dengan pelan, karena bagian belakang diboncengi super-duper big hehe.
Pagi itu aku membantu kegiatan yayasan YKM dalam pemberdayaan masyarakat kawasan borobudur. Seperti biasa, tugas mendadak, aku diminta membantu jadi MC sekaligus moderator. Sempat ada yang aneh juga, ketika ada pengisi acara sesi panel, dimana narasumber dan fasilitator maju langsung tampil tanpa komando MC. he he

Jam 14.00 aku pamit mau ke Purbalingga. Posisiku di Borobudur membuat rute perjalanan jadi sulit. Mau ke Secang atau kembali ke Jogja sama jauhnya. Akhirnya aku diantar ke Salaman. Dari sini aku nunggu 20 menit, lalu naik Bus ekonomi Santoso jurusan Purwokerto. Jadi teringat masa-masa mahasiswa tahun 90an, yang terbiasa naik bis ekonomi jalur jogja-kendal pp.
Laju bis demikian lambat karena mampir terminal purworejo dan beberapa kali ngetem (nunggu penumpang). Sajian beberapa penjaja makanan dan pengamen jadi selingan pengusir sepi. Kadang senyum juga mendengar obrolan bahasa daerah khas dari purworejo, kebumen, gombong dan banyumas.

Tak terasa perjalanan salaman-sokaraja hampir 5 jam. Aku turun di depan Kelenteng pertigaan arah Sukaraja. Di sana sudah menunggu keajaiban. Betapa tidak, seorang alumni UPN jurusan minyak angkatan 75 (setahun setelah aku lahir), yang belum pernah ketemu langsung, hanya beberapa kali kenalan dan ngobrol via facebook, mau-maunya menjemputku. Yang bikin kaget lagi karena beliau naik sedan mercy! gleks, apalah aku ini. Menteri? itu baru cita-cita doank :p. Aku diajak mampir ke rumahnya, dikenalkan dengan anak istrinya, dan ngobrol ngalor ngidul tentang berbagai hal. Bahkan, sebelum aku masuk hotel melati di dekat alun-alun Purbalingga, aku diajak menikmati makan malam dengan seporsi sate khas tegal. Banyak cerita dan hikmah dari pertemuan dengan beliau ini. Satu hal wejangan yang kuingat adalah “anggaplah kita ini bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa”. Itulah resep menuju andap asor (tawadhu / kesederhanaan). Padahal beliau sudah biasa keluar negeri dan bekerja di perminyakan, yang tidak dapat dibayangkan berapa pendapatannya hehe.
(mohon maaf saya tidak menyebutkan nama beliau)

Aku check in ke hotel kelas melati ini. Ada 2 pilihan, 75 rb pake kipas atau 120 rb pake AC. tadinya aku naksir yg 120 rb, tapi saat ke sana lokasinya lumayan bikin merinding, karena berada di pojokan, di depannya ada kursi goyang (takutnya goyang sendiri hihihi) dan sampingnya sudah terisi pasangan yang tanpa membawa bukti surat nikah :p. Yo wis, daripada nanti kena gangguan uka-uka dan hawa gituan, mending milih yang 75 rb saja.
Hebat bener desain kamar ini, karena kipas persis ditaruh 1,5 m di atas kepala hahaha. cat kamar yang berkesan ini bangunan lama. dan kamar mandi……, aku kuras dulu air di bak, biar original.
Seterusnya mimpi indah, tapi tidak dengan si indah :p

Selasa, 12 April 2011

Layanan hotel ini memang unik. Katanya aku akan dapat snack dan minum. Tapi barang itu pagi2 ditaruh saja di teras kamar, tanpa memberitahuku. Sedang aku asyik dalam kamar. Se jam kemudian keluar kamar kaget deh, itu makanan dan minuman sudah keduluan oleh warga semut. Yo wis ngalah deh🙂

Teman-teman semarang datang jam 8an. Katanya mereka berangkat jam 3 dari Semarang, lewat Wonosobo-Banjarnegara. Lalu kami meluncur cari sarapan. Kulihat menu wader dan uceng (anak ikan gabus) goreng. Menu aneh dan khas lokal biasa aku pilih. Cuma yang unik, ibu-e warung ngedol-i (melayani) dengan cara ikan itu ditimbang dulu sebelum dimasukkan ke piringku hahahahaaa. Aku yakin ini bukan khas Purbalingga.

Jam 9-14 digunakan untuk presentasi di Kantor Lingkungan Hidup Purbalingga dan mengantar temanku ke Bappeda Purbalingga. Alhamdulillah berjalan dengan lancar.

Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan mobil avanza rental. Jalur yang ditempuh adalah purbalingga-banjarnegara-wonosobo-temanggung. Kami sempat menikmati makanan khas Wonosobo yaitu Mie ongklok plus sate. Dengan asumsi logika, bahwa teman disampingku yang beratnya kurang dari 50 kg saja makan satu porsi. Maka wajar donk, aku makan 2 porsi :p, lha wong beratku 114 kg he he he. Aku beli oleh-oleh teh tambi 250 gram, harganya hanya Rp 6.000. Kayaknya bakal gak habis dibuat minuman sebulan.

Aku turun di Secang, sebuah kecamatan di ujung utara Magelang, karena rombongan berlanjut ke Semarang. Waktu sudah pukul 18.30. Kata tukang parkir sudah tidak ada bus ke arah jogja. Sementara aku harus menunggu di emperan kios kecil agar bisa merada di pinggir jalan. Hujan pun turun cukup deras, sebagian pakaianku basah. Yo mau gimana lagi.

Setelah setengah jam, datanglah bus dari arah wonosobo mau ke terminal magelang. Aku numpang ini. Tapi belum selesai masalah, karena sesampai di terminal magelang tidak ada lagi angkutan bus ke Jogja, apalagi jembatan pabelan tidak bisa dilewati bus. Hanya ada 2 pilihan, mobil omprengan dan ojek. Mobil omprengan pasang tarif 20 rb, tapi harus nunggu penuh. Yang bikin aku kaget dan gak terima, masak ukuran mobil espas atau carry mau diisi oleh 10-15 orang. Hiks, aku aja dah makan 2 tempat.

Akhirnya setelah terkatung-katung 30 menit. Aku milih naik ojek dari terminal magelang ke terminal jombor jogja dengan tiket 50 rb. Haduh, ternyata bemper badan gak bisa diajak kompromi. Baru 1/4 jalan, sudah protes dan terasa kram, tapi kutahan dengan kesabaran hehe. Apalagi separoh perjalanan hujan gerimis cukup deras. Jas hujan hanya dipake mas ojek. Akunya… setengah basah lagi. Mantaf !

Sampai Jombor jam 21. Aku ngambil motorku dan meluncur pulang. Dekat rumah berhenti sebentar menikmati wedang ronde, untuk menghangatkan badan. Setelah sampai, langsung mandi dan tidur.
“Tidak makan dulu yank?”, tanya permaesuri
“Gak usah lah,” jawabku ngantuk.
hihihihi……, dia ga tahu, jam 17 sudah diganjal dengan 2 porsi mie ongklok :p

selesai

Hikmah
Perjalanan 2 hari ini banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik
dari ilmu berinteraksi dengan banyak orang sampai senang-susahnya perjalanan menyusuri separoh jawa tengah bagian selatan.

semoga tulisan ini berkenan…

Muhamad Kundarto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s