Meramu Obat

Hidup ini begitu dinamis. Kadang berjalan sesuai logika manusia, tetapi kadang juga semua terjadi di luar logika kebanyakan orang. Begitu juga dengan sesuatu yang namanya “sakit” dan “obat”. Sepakat, bahwa semua orang pernah sakit. Sepakat pula, semua orang suka mencari obat untuk sakitnya.

Masalah muncul ketika membahas sebab musabab datangnya sakit, apanya yang sakit, bagaimana dampaknya, dan apa pula obatnya yang tepat. Ada berbagai profesi orang terkait dengan “keahlian mengobati orang sakit”, seperti dokter, dukun, tabib, sinsei, dll. Sudut pandang masing-masing orang bisa berbeda, walau obyek pengamatannya sama. Apalagi bagi mereka yang punya latar belakang berbeda pula. Nah, tentu saja ramuan obat yang ditawarkan akan cenderung berbeda pula. Di sini pasien jadi seperti orang yang hanyut di sungai yang banjir, tiada pilihan kecuali ngikut dan menuruti segala ramuan yang diberikan.

Ada orang yang yang paham apabila dia mengalami gejala akan sakit, paham kalau dirinya sakit, dan paham harus bagaimana mencari obat untuk sakitnya. Tetapi banyak juga orang yang tidak menyadari bahwa dia sudah akan sakit atau bahkan sudah mengalami sakit. Dia hanya bisa menunggu vonis orang terdekatnya bahwa “kamu sakit”. Kenapa terjadi seperti ini? yah, karena banyak orang yang terlalu asyik menilai orang lain, tetapi terlena malah tidak tahu bagaimana dengan dirinya sendiri. Tidak tahu bagaiman memperlakukan tubuh sendiri yang aman dan terhindari dari sakit.

Ada berbagai jenis penyakit, namun disederhanakan menjadi sakit fisik dan sakit mental. Tetapi ada juga yang terkena dua-duanya secara berbarengan. Kesemuanya ini memerlukan identifikasi yang tajam dan harus mengena sampai sumber atau penyebab awal terjadinya sakit. Betapa banyak obat yang diberikan HANYA berdasarkan pada gejala yang dirasakan atau dideteksi tanpa memecahkan masalah ke sumbernya.

Sebaiknya tiap orang sakit berusaha untuk merenung dan mencari tahu apa penyebab sakitnya itu. Selanjutnya dia berusaha juga untuk mengobati sendiri, baik dengan olah fikir, olah tubuh, maupun tindakan dengan obat dari benda tertentu. Apabila pertahanan diri ternyata rapuh dan kalah kuat dengan penyakit yang ada, barulah dia mencari solusi dari bantuan orang lain.

Metode inilah yang sering dipakai manakala kedatangan tamu yang mengeluhkan sakitnya. Kita dorong dia untuk mencari sendiri penyebab dan menasehati agar dia bisa mengobati sakitnya sendiri. Toh sebenarnya yang merasakan sakit kan dia sendiri. Kita hanya menerjemahkan dari sinyal-sinyal yang ada, itu bisa salah interpretasi (perkiraan).

Langkah berikutnya adalah menguatkan mental. Banyak orang sakit makin parah karena mentalnya sudah kena. Banyak juga mental jatuh membuat fisik semakin melemah. Penguatan mental dimulai dari hati yang paling dalam. Kita dorong dia mengetahui diri sendiri, mau membaca hatinya sendiri, dan akhirnya meningkatkan kepekaannya merasakan segala hal guna mengantisipasi solusi.

Berikutnya menawarkan berbagai macam alternatif obat. Ada obat dokter, obat herbal, pijat, doa, dll. Masing-masing ada plus minusnya. Silahkan disesuaikan dengan kemampuan finansial dan keyakinan diri. Kecocokan dan kepasrahan pasien terhadap orang yang akan mengobatinya adalah syarat besar untuk menuju kesembuhan. Kepercayaan ini akan menimbulkan sinergi yang tinggi.

Terkadang kombinasi ramuan obat akan memberikan hasil yang luar biasa. Seperti upaya rileksasi dengan obrolan ringan dan canda ria, meditasi diri, memecahkan masalah kehidupan, pemijatan dan obat-obat yang harus dioleskan atau diminum. Kesemuanya tentu diberikan secara terukur dan tepat sasaran.

Jadi, tidaklah aneh apabila ternyata sakitnya bisa diobati dengan ‘ramuan’ obrolan dan diskusi jarak jauh. Tidak aneh apabila sakitnya hilang dengan perantaraan sentuhan tangan. Tidak aneh pula ketika tempat praktek pengobatan bisa dimana saja dan kapan saja.
Kesemua jalan mendapatkan ramuan obat merupakan seni tersendiri, yang hanya bisa dinikmati oleh ahli pengobatan dan pasiennya. Karena sensasi kadang dirasakan sangat subyektif.

Inilah perilaku manusia dalam mencari kesembuhan penyakitnya. Semua langkah itu tentu saja harus ter-amin-i oleh Yang Maha Penyembuh. Manusia adalah pelaksana tugas yang wajib berbuat dan berusaha sebaik mungkin, dan selanjutnya memasrahkan hasil kepada ridho-Nya.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s