Bermain Karakter

Setiap orang mempunyai karakter (sifat) yang khas, seperti : pendiam, ceriwis, kaku, penurut, dll. Masing-masing karakter ini akan turut mewarnai dalam alur kehidupannya, baik di dalam rumah, di lingkungan kerja dan suasana lainnya.

Perjalanan karakter manusia dari lahir sampai remaja, sangat dipengaruhi oleh garis keturunan dan pola pendidikan yang didapatnya. Biasanya mereka hanya mempunyai satu karakter yang khas. Dalam pergaulan, sangat mungkin terjadi benturan karakter, karena bisa saja satu kelompok punya kepentingan yang sama. Benturan-benturan ini akan menimbulkan konflik. Konflik mendorong seleksi alam, lalu mereka membuat kelompok-kelompok baru yang berisi karakter saling mengisi. Biasanya karakter yang sama cenderung sulit untuk berjalan bersama, seperti kaku dengan kaku, atau penurut dengan penurut. Sedangkan karakter yang berbeda (berlawanan) akan cenderung saling mengisi, seperti kaku dengan penurut.

Perkembangan karakter setelah remaja (pasca ABG) akan lebih tertata, karena mereka berjalan dalam pergaulan dengan kelompok yang saling melengkapi. Pertemanan masa ini bahkan sering terbawa ke masa tua. Namun modal seseorang dengan hanya satu karakter akan membuat dia harus hidup dalam lingkungan yang khusus. Misalnya orang yang keras kepala, jelas membutuhkan lingkungan yang mau melayaninya. Dia sulit berkembang pada wilayah lain yang sama-sama ada komunitas keras kepala. Karakter tunggal ini akan sulit mengembangkan karier dan memperluas pengaruhnya, karena semakin banyak orang dan semakin luas wilayah kekuasaan, membutuhkan “seni memainkan karakter” yang cukup bervariasi.

Bermain karakter sangatlah penting dalam menghadapi berbagai orang dengan karakter yang berbeda.
Bertemu orang penurut, kita harus cerdik untuk memberikan intruksi dengan ide-ide cemerlang.
Bertemu dengan orang kaku, kita harus pandai meluluhkan hatinya, sehingga tanpa sadar dia mengikuti ritme yang kita mainkan.
Bertemu dengan orang manja, kita harus bisa memanjakan dia, tapi ini hanyalah strategi, karena layanan kemanjaan itu akan dibarter dengan komitmen kinerja yang lebih tinggi.
Bertemu dengan orang otoriter, kita harus tahu bahwa dia sok kuasa, tapi tidak teliti dalam banyak hal karena terlalu fokus mengumbar nafsu kekuasaannya. Maka jadilah pelayan dengan kecerdikan tinggi, sehingga dia merasa sangat tergantung dengan ide-ide anda.

Bermain karakter ibarat kita bermain sandiwara dalam sebuah drama. Kita harus belajar luwes (fleksibel) dalam memainkan karakter yang beraneka macam. Walau tentu, setiap orang pasti punya karakter asli yang khas. Namun dengan kepiawaian kita memainkan karakter itu, orang sangat sulit membaca siapa sebenarnya kita (Who am I). Permainan karakter ini sangat penting dikuasai oleh mereka yang ingin menjadi pemimpin besar, wilayah kekuasaan yang luas, dan memimpin banyak orang dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Siapakah mereka yang mampu bermain karakter dengan baik?
Mereka adalah orang yang sudah mampu menemukan dirinya sendiri, mampu menggunakan hati, tahu akan kelemahan dan kelebihan diri, dan mau terus belajar dari orang lain (siapapun dan kapanpun).
Salah satu sifat manusia adalah suka bosan pada kondisi yang monoton, baik dalam keluarga, sekolah, kantor, maupun lingkungan lainnya. Permainan karakter akan leluasa digunakan untuk memeriahkan suasana, membangun kekompakan tim, meningkatkan kinerja, dan manajemen yang lebih baik.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s