DONGENG PADANG mBULAN

DONGENG PADANG mBULAN (cerita di saat bulan purnama)

Bulan purnama menjadi sebuah sensasi yang menakjubkan sejak jaman dahulu kala. Banyak cara pandang, banyak persepsi (anggapan), dan banyak kesan yang dirasakan. Tiap generasi, tiap orang, bisa berbeda pula pemaknaannya.

Cerita melo jaman dulu, di saat bulan purnama, aku berjalan kaki dari kampung tetangga, dengan seorang TTM (teman tapi mesra, naksir tapi gak berani bilang). Waktu itu kami pulang dari pengajian kelompok remaja. Menyusuri jalan sepi sepanjang hampir 1 km. Rasa romantis di bawah bulan purnama, dipadu dengan rasa senang mengalami itu, tapi juga super malu untuk memanfaatkan situasi itu menjadi….

Entah kenapa, waktu itu malah berjalan sok serius, dan jarak kami selalu lebih dari 1 meter ! hwarakadah! harusnya kan…..🙂

Ada lagi bait lagu daerah berbunyi:

“Padang mbulan, padange koyo rino..”

(terang bulan, terangnya seperti siang hari..)

Sepenggal lagu yang menggambarkan keceriaan. Bahkan masyarakat dulu sering merayakan datangnya bulan purnama ini untuk bermain aneka permainan, khususnya mereka yang masih anak-anak sampai remaja.

Adalagi mereka yang meyakini dunia spiritual dan kanuragan. Konon bulan purnama juga memancarkan energi yang bisa dijadikan saat yang tepat untuk melatih dan memperdalam ilmu tertentu.

Fenomena bulan purnama kali ini (Juni 2011) memang cukup menarik. Ukuran bulan terlihat sangat besar dan pancaran sinarnya jauh lebih terang. Secara ilmiah, cahaya bulan berasal dari cahaya matahari yang dipantulkan kembali menuju bumi. Siang hari bumi mendapatkan sinar matahari yang sangat terik, masih disusul pancaran sinar bulan di malam hari. Walau intensitas (kekuatan sinar) berbeda, tetapi hampir selama 24 jam bumi selalu diterpa sinar. Apalagi ini terjadi di saat sudah masuk musim kemarau.

 

Dampak yang sangat terasa adalah penguapan (evapotranspirasi) bumi dengan segala isinya, yang berlangsung sangat tinggi. Bumi sendiri di malam hari mengalami pendinginan yang jauh lebih cepat, karena pantulan panas ke angkasa tidak terhalang oleh awan. Penguapan dan pendinginan inilah yang dirasakan oleh kita sebagai hawa yang jauh lebih dingin dari biasanya. Istilah kuno disebut mbediding (bahasa jawa), untuk menyebut suasana dingin karena udara kering di musim kemarau. Akibatnya stamina tubuh menjadi turun karena badan tanpa disadari mengalami dehidrasi (kekurangan air).

Kondisi demikian perlu diantisipasi dengan banyak meminum air putih. Walaupun efeknya akan mempercepat keluargnya air kencing, tetapi suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran suhu normal. Suhu tubuh yang ikut turun bersama dinginnya suhu lingkungan, akan menyebabkan tubuh rentan terhadap serangan penyakit seperti flu dan radang tenggorokan.

Fenomena menarik berikutnya adalah ketika kemarin terjadi gerhana bulan yang cukup lama (sekitar 3 jam). Gelapnya bumi ini diduga memberi kesempatan untuk pendinginan suhu lingkungan dan pengumpulan awan di angkasa menjadi semakin banyak. Sehingga hari ini, ketika kita menengok ke angkasa, terlihat kumpulan awan makin tebal, sempat terjadi mendung dan gerimis. Dan, suhu lingkungan agak mengalami kenaikan yang cukup nyata.

Tulisan ini disebut ‘dongeng’, karena segala argumen hanya mengandalkan logika dan pengalaman pribadi (subyektif). Tetapi siapa tahu, andai berguna buat pembaca. Minimal buat menghibur hati yang lara…..hehhee….

 

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s