Saatnya Meminta, Saatnya Memberi

Ketika peluang itu ada dan memungkinkan, banyak orang berharap untuk ingin selalu dimanja, dimengerti dan dilayani segala kebutuhannya. Layanan sekian lama itu membuat rasa sayang tumbuh kepada orang tersebut. Dalam hati mengakui “aku sayang dia, karena dia sayang dan memperhatikan segala kebutuhanku”.

Model hubungan ini masih menjadi tanda tanya, karena kebanyakan hanya berlangsung satu arah. Maksudnya, kita hanya menerima kasih sayang (baca: layanan berlebihan) dari dia, tetapi kita tidak memberikan sebaliknya secara seimbang. Apabila benar demikian, maka hubungan ini akan sangat rawan dalam jangan panjang dan penuh nuansa pelampiasan keegoisan diri.

Masalah pertama akan muncul ketika pihak yang memberi tidak selamanya bisa memberi. Terkadang malah tidak bisa memberi lagi. Terkadang lagi malah gantian meminta kasih sayang (baca: layanan berlebihan) yang sama kepada kita. Sedihnya, banyak diantara kita yang tidak siap untuk itu. Kita siap disayangi dan diperhatikan, tetapi kadang sangat pelit untuk memberikan kasih sayang dan perhatian yang sama. Jika hal ini dibiarkan, dapat memicu meledaknya bom waktu, yaitu dia akan sakit hati dan berpaling dari kita.

Masalah kedua akan muncul manakala dia pergi, bisa pergi untuk pindah ke lain hati, atau malah pergi untuk selamanya. Banyak diantara kita yang sekian lama ter-nina-bobo-kan (terbuai/terlena) pada curahan kasih sayang yang sangat besar, sehingga tidak mampu lagi tegar dan mandiri. Dalam rintihan kehilangan itu muncul kalimat :
“Aku tidak bisa hidup tanpamu”
“Engkau sangat berarti bagiku”
“Tiada orang yang bisa menggantikan dirimu”
“Aku kangen saat-saat dulu bersamamu”, dan seterusnya…
Ratapan ini tidak hanya berlaku pada hubungan cinta lelaki dan perempuan, tetapi juga hubungan anak-orangtua, adik-kakak, antar sahabat, pegawai-atasan, dll.

Makin sering meminta layanan kasih sayang, tetapi tanpa ada upaya sebaliknya untuk memberi secara berimbang; maka kondisi kita akan semakin rapuh dan nelangsa. Kita akan semakin berat menanggung “hutang budi”. Tapi banyak dari kita yang tidak menyadari. Banyak tersadar, ketika semua telah terlambat.

Betapa banyak orang yang akhirnya hanya bisa meratapi tanpa ujung, karena dia tidak sempat membalas budi pada orang-orang yang dulu sangat mencintai dan memperhatikannya. Yah, tidak sempat karena orang-orang yang mencintai kita tersebut sudah meninggal….
Hanya doa lirih nan perih, yang bisa terbisikkan, manakala ingatan tertuju pada rasa kehilangan yang dalam.

Kadang kita tidak tahu, bahwa orang-orang yang mencintai kita itu sebenarnya banyak sekali berkorban. Bahkan kadang tidak mau mengeluh dan merasakan sakit parah yang dia derita. Karena dia tidak ingin membagi duka dan kekawatiran kepada kita.

Kadang kita tidak tahu, bahwa sebenarnya dia juga butuh ‘istirahat’ dari kegiatan mencintai dan melayani kita. Dia juga butuh layanan yang sama untuk dirinya. Dia butuh disayangi, diperhatikan, dan dimanjakan. Tapi semua itu tidak terucap dari mulutnya….

Wahai saudaraku,
Selagi masih ada waktu. Cermati siapa saja orang-orang yang berkorban mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada kita saat ini dan waktu lalu. Bersegeralah, berikan layanan cinta dan kasih sayang kita untuk dirinya.
Mungkin dia sakit, butuh sentuhan perawatan menuju kesembuhan.
Mungkin dia jenuh, butuh hiburan yang kita ciptakan khusus untuknya.

Selagi masih ada waktu,
Selagi belum terlambat……

KiAJi
(Ki Asmoro Jiwo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s