SERASA MIMPI, 3 HARI DI PULAU DEWATA

Serasa mimpi, dapat undangan meeting 2 hari di Sanur dan 1 hari kunjungan lapangan ke Gianyar di Pula Bali. Memang aku pernah ke bali sekitar 10 tahun lalu, tapi ke sana pp dengan naik bus bersama rombongan widyawisata mahasiswa. Lha yang ini dilakukan dengan transportasi pesawat garuda pp dan 2 malam menginap di Sanur Beach Hotel !

Perjalanan ke Bali dilakukan seorang diri karena rombongan lain berasal dari Jakarta, Bandung dan Solo. Biasanya beberapa kali naik pesawat di bandara Jogja tujuannya ke Jakarta. Sehingga waktu nunggu terasa harus pasang telinga agar fokus pada panggilan “GA tujuan Bali”. Enaknya naik Garuda, entah kenapa, take off (lepas landas) dan landing (mendarat) terasa sedikit goncangan. Apa karena harganya beda hehe..

Sampai di bandara Bali, aku baru tahu kalau terbagi menjadi dua, yaitu penerbangan domestik dan internasional. Aku turun di bandara domestik. Terasa asing, karena memang baru sekali. Ternyata pula tidak ada penjemput (lha wong bukan pejabat :p). Akhirnya aku harus sms-telp ke salah satu nomor kolega yang kukenal.
“Depan circle K, mas! di bagian ‘international’ jelasnya
Aku pun jalan kaki 100 m an untuk mencari dan menemui mereka. Kemudian kami bersama menuju Sanur beach hotel. Kebetulan mereka masih ada meeting dengan tim lain, sedangkan aku free time sampai makan siang tiba.

Menerima kunci (baca: kartu) kamar, aku setengah grogi bertanya bagaimana cara memakainya. Ternyata pula kamarku 512 berada di ujung yang berkelok sana-sini dan berjalan 100an meter. Cukup jauh dari loby. Melihat muka kamar, tidak ada yang istimewa karena hanya bentuk gang biasa. Masuk kamar juga bingung karena kartu sudah dimasukkan kok lampu-listrik tidak nyala. Manggil petugas, eh ternyata tombol sentral untuk lampu ada di dekat tempat tidur, belum dinyalakan. Katrok dah :p

Membuka korden bagian belakang kamar yang terdiri dari dinding 100% kaca bening, aku melongo. Seakan nonton film baywatch, cuma bedanya ini tidak berseragam merah :p. Persis di belakang kamarku 15 meter an adalah tepi kolam renang, dimana sekelilingnya banyak sekali bule-bule segala umur, man and woman :p, sedang berjemur dengan pakaian bikini. Waduh…!
Belum lagi seberang kolam ternyata pantai sanur dengan hamparan pasir putih (batuan kuarsa).

Aku sempat setengah jam bingung, mau di kamar terus atau memberanikan diri berjalan ke pantai. Tapi, melewati bule-bule yang sedang berjemur itu…..kira-kira sopan gak yaa…
Akhirnya aku memberanikan diri menuju pantai. Dengan pandangan sok jaim, melewati bule-bule ini. Lalu aku terbengong menikmati suasana pantai. Terlihat banyak bule berlalu lalang, serta pemandu lokal melayani mereka. Ada paralayang (konon 150 rb per 4 menit), speedboat, volly pantai dan tentu saja ajang berjemur. Heran, mereka bisa berjemur seharian !
Di pantai ini aku hanya berdiri mematung, aku seperti makhluk halus di dunia nyata. Seperti melihat TV. karena aku diam membisu di tengah suasana ‘asing’ ini, dan mereka pun seperti tidak peduli dengan kehadiranku.
Aku iseng menulis status di BB dan FB bahwa di lokasi ini aku ada 2 kesan :
– sedang melakukan observasi mana bule-bule yang alim :p
– heran, bule kecil-kecil sudah pinter bahasa inggris !!

Setelah puas lihat paralayang dan memotret dengan BB, aku kembali ke kamar. Berharap ada panggilan makan siang.

Inilah kalo repotnya jadwal gak jelas, beda waktu 1 jam (WIB dengan WITA), dan tidak ikut acara. Parahnya aku juga tidak bawa cemilan (snack). Karena, panggilan makan baru datang jam 15 sore, setelah aku super lemas dan minum beberapa kali aqua di kamar. Aku pun semangat 45 mendatangi lokasi makan siang.

Gleks, ternyata tempat makan siang di restoran yang posisinya persisi di tepi pantai. Paling hanya 50 meter dari garis pantai. Jadi sambil makan, kita lihat keindahan pantai beserta ‘isi’nya :p
Aku fokus pada makanan di depanku. Apalagi cara makan ala hotel berbintang yang disajikan satu per satu, bikin gemes saja, karena ada pembuka, minum, menu utama, dan menu penutup. Gemesnya, menu berikut belum disajikan kalo diantara kita masih asik makan. Jadilah waktu makan ini banyak memerlukan waktu, sekitar 30-45 menit.

Selanjutnya 2 hari full digunakan untuk meeting dalam ruangan sampai malam. Malam kedua, kami sempat keluar jalan walau sudah jam 22. Kami menuju ke tempat penjualan oleh-oleh. Aku memilih kaos super murah, buat cangkingan (bawaan) ke rumah. Pulangnya kami menikmati makan malam nasi pedas. Benar-benar pedas sampai nangis tapi senang hahhahaa….

Hari ketiga pagi, kita meluncur ke gianyar, tepatnya di desa kerta. Belum sempat sarapan, sehingga perjalanan ini cukup menyiksa bagi perut, walaupun pemandangan indah ada dimana-mana. Alam begitu asri dan lestari. Aku kebagian melakukan wawancara pada kepala desa tentang kearifan lokal di sana, terkait dalam pelestarian lingkungan. Setelah itu kami mengunjungi subak, hamparan lahan pertanian tanaman padi yang dikelola secara menakjubkan.

Siang itu kami diantar oleh kolega setempat untuk menikmati makan siang di warung bebek “tepi sawah”. Menunya sangat luar biasa, aku sampai nambah nasi 1,5 + 0,5. Ceritanya jatah nasi 1 dikit banget. Lalu teman sengaja naroh 2 tambahan di depanku. 1 porsi sigap aku ambil. porsi ke 2 aku ambil separoh, jaim lah. sisanya diambil teman sebelah kiri. Kirain finish, ternyata teman sebelah kanan hanya nambah 0,5. ya sudah daripada mubazir, 0,5 sisanya aku habiskan hehehe….

Kemudian kami meluncur ke bandara. Aku ngikut saja karena belum tahu masuknya lewat mana. Ketika masuk ruang tunggu, karena jadwal masih 2 jam lagi, seorang teman menawarkan aku masuk lounge (ruang tunggu istimewa). Karena dia terbang ke Jakarta, dia nraktir aku tapi dianya malah gak masuk karena langsung masuk pesawat. Di dalam lounge aku bingung, “apa makanan-minuman ini bebas diambil..”, kok tadi lupa nanya ke yang nraktir. Akhirnya setelah sms sana-sini, aku makan dengan lahapnya.

Pas waktunya, aku keluar lounge. Melihat jadwal penerbangan. Haduh, ternyata delay (terlambat) 40 menit. Ya sudah kembali berbaur duduk menunggu di ruang umum. Super percaya diri aku di siru 30 menit. Tengok tiket lagi, gubrak, ternyata salah ruang tunggu. Ini gate 17-18. Sedangkan aku di gate 16. Langsung deh ngacir ke ruang sebelah…..dan pas panggilan masuk pesawat. Duduk manis, eh sebelahku seorang hawa. Sebenarnya mau iseng tanya ke dia :

“Turun dimana mbak?”, tapi takut dicuekin…..

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s