Kebiasaan dalam bulan puasa dan lebaran

Terkadang kita sulit membedakan antara kebiasaan yang terjadi turun-temurun dan tutur-tinular, dengan aturan yang sesungguhnya mengiringi peribadatan di bulan puasa dan lebaran. Bahkan kebiasaan ini sering mengalahkan ritual yang seharusnya.

Ketika menjelang bulan puasa, yang biasa dilakukan bukan bagaimana menahan hawa nafsu, tetapi cenderung melampiaskan hawa nafsu sepuasnya, sebelum memasuki bulan puasa. Yang terpikir adalah mengumpulkan banyak bahan makanan, dengan dalih persiapan untuk berbuka dan sahur. Yang terpikir adalah mengumpulkan pakaian baru, selagi harga belum naik, selagi ada waktu sebelum mudik, dan persiapan sebelum lebaran tiba. Maka, jadilah tempat belanja penuh sesak, karena kebanyakan orang berpikir dan berdalih yang sama.

Ketika menjelang puasa dan masuk hari lebaran, banyak orang saling bermaaf-maafan. Tidak ada yang salah dalam fenomena ini. Tetapi yang kurang pas adalah manakala meminta maaf hanya menunggu waktu ini saja. Budaya meminta maaf sebaiknya dilakukan setiap waktu, terutama disaat nurani kita membisikkan ada kesalahan yang diperbuat.

Ketika menjelang puasa, banyak fenomena ‘mendadak alim’. Iklan TV berubah agamis sebulan sebelumnya. Topik sinetron berubah agamis-islami. SMS dan BBM mendadak jadi penuh tebaran salam dan ayat-ayat-Nya. Tapi, kebiasaan lama cenderung kembali saat lebaran sudah lewat. Begitu terus berlangsung secara berulang setiap tahunnya.

Konon, hakekat puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu manusia. Tapi logika sering dipahami, bahwa pengendalian hawa nafsu manusia dilakukan HANYA pada saat puasa saja. Sehingga kebiasaan pengendalian ini sangat sukses di bulan puasa ini, tetapi akan kembali pada kebiasaan lama setelah bulan puasa dilewati.

Konon, puasa dapat mengendalikan pola makan karena tidak makan-minum di siang hari (dari shubuh sampai maghrib). Tapi kebiasaan makan seperti ‘dipindahkan’, dari pola siang lalu ‘dipadatkan’ pada porsi makan sahur dan berbuka. Akhirnya siang kelaparan, malam cenderung kekenyangan.

Konon, lebaran itu hari kemenangan, karena sukses mengendalikan hawa nafsu sebulan. Tapi merayakan kemenangan bukan dengan cara mengumbar makanan dan kemewahan. Kadang kita nekad menyediakan makanan overdosis dan membeli pakaian melebihi kewajaran. Nekad juga karena sebenarnya keuangan cenderung dipaksakan.

Hati-hati,
kebanyakan orang di bulan puasa dan lebaran ini hanya berbekas pada pengalaman lapar dan haus. Tidak lebih.

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang mampu menjadi lebih baik secara fisik dan rohani.

Ki Asmoro Jiwo

Nama Grup di Facebook :

ASMORO JIWO – menerima artikel Ki Asmoro Jiwo ke dalam semua inbox anggota

Asmoro Jiwo – interasi komunikasi dua arah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s