MENGUKUR ARTI PENTING SESEORANG

Apakah kita merasa sebagai orang penting? dalam keluarga? di tempat kerja?
Sejauh mana kita dipentingkan oleh orang lain? Jangan-jangan hanya kita saja yang merasa penting, padahal aslinya keberadaan kita tidak penting bagi orang-orang sekitar.

Dalam sebuah keluarga secara umum, ada ibu, bapak dan anak. Masing-masing mempunyai peran dan arti penting. Pada saat rentang waktu kelahiran anak sampai remaja, peran ibu sangat penting untuk memberikan ASI, memandikan, menyuapi dan mengenalkan anak pada dunia yang lebih luas. Sementara sang bapak menjalankan tugasnya mencari nafkah dan pemimpin keluarga. Anak pun akan dipentingkan karena berperan sebagai mutiara kebahagiaan keluarga. Ternyata peran masing-masing ini tidak selalu bisa di-substitusi (ditukar) dengan baik, misalnya bapak menggantikan tugas ibu, atau ibu menjadi lebih kekanakan dibanding anaknya, atau sang bapak sebagai pemimpin keluarga malah sering labil dan tidak bisa membuat keputusan secara cepat dan akurat.

Kita dapat melihat betapa ketika sebuah keluarga kehilangan salah satu komponen (bapak / ibu / anak), maka keluarga tersebut akan mengalami kegoncangan yang nyata. Misalnya jika bapak meninggal, maka ibu harus bertugas ganda yaitu sebagai pengasuh anak sekaligus pencari nafkah dan pemimpin rumah tangga. Jika ibu meninggal, bapak akan merangkap sebagai pencari nafkah sekaligus mengurus rumah tangga dan kebutuhan anak. Jika anak meninggal, maka ibu dan bapak bisa gamang memikirkan hilangnya pelita jiwa dan generasi penerus. Apalagi jika anak hanya satu (tunggal), maka posisinya menjadi amat sangat penting. Maka wajarlah bila ibu bapak yang punya anak tunggal akan sangat lemah dan cenderung tidak berani menghukum anak tunggalnya yang salah, kenapa? Karena itu adalah generasi penerus satu-satunya. Sebaliknya keluarga yang punya banyak anak, cenderung mudah menerapkan sistem demokrasi atau kebersamaan karena arti penting anak tersebar.

Demikian juga dalam dunia kerja. Untuk mengukur apakah kita ini penting adalah mudah. Penting, apabila kita mengerjakan tugas yang vital dan kita satu-satunya yang bisa mengerjakan itu. Dampaknya bisa dilihat ketika kita cuti atau tidak masuk kerja, maka tugas tersebut akan terbengkalai atau tertunda. Sebaliknya, kita menjadi tidak penting, manakala pekerjaan yang dilakukan juga mudah dilakukan oleh orang lain. Jadi saat kita cuti atau tidak masuk kerja, perusahaan mudah menunjuk orang lain untuk menggantikan tugas kita dengan hasil yang relative sama. Yang dimaksud “tugas” tersebut berlaku untuk semua jabatan. Jadi tidak selalu atasan lebih penting dari bawahan atau sebaliknya.

Maka kita jangan terburu-buru mengatakan kita adalah orang penting, padahal ke-tidak-hadir-an kita tak mampu mengguncang kinerja perusahaan, apapun posisi atau jabatan yang kita sandang. Misalnya kita sebagai pimpinan, mungkin merasa penting karena banyak surat harus melalui paraf atau tanda tangan kita. Tetapi di perusahaan biasanya ada pelapis, misalnya wakil pimpinan, dimana saat pimpinan berhalangan maka si wakil dapat membuat keputusan atau membubuhkan tanda tangan walaupun diawali dengan “atas nama pimpinan”. Begitu juga dengan bawahan, betap sangat mudahnya tugas tersebut digantikan oleh orang lain.

Posisi yang sering sangat penting adalah di level menengah, yaitu mereka yang bertugas pada urusan vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan atau hal lain yang berpengaruh pada kemajuan perusahaan.

Misalnya seorang penilai citarasa teh di sebuah pabrik teh, tiap hari dia harus mengecap atau mencicipi produk teh dan mengkelaskannya. Dia harus mengandalkan kemampua lidah yang tajam sebagai indera perasa kualitas minuman.

Misalnya dia seorang programmer dari suatu system komputerisasi. Hanya dia yang tahu program dan hanya dia pula yang tahu bagaimana memecahkan masalah apabila program error. Bahkan dia pun mampu merusah seluruh program hanya dalam hitungan detik.

Dan banyak lagi posisi yang sangat vital dalam laju perusahaan. Sehingga, kebijaksanaan perusahaan biasanya menerapkan penghargaan yang tinggi (baca: gaji optimal) untuk posisi vital tersebut dan berusaha keras menggunakan “manajemen berlapis”, artinya jika si A yang sangat penting itu berhalangan, maka ada si B dan C yang siap menggantikan posisinya. Posisi perusahaan akan sangat mengkawatirkan apabila hanya bergantung pada satu orang saja di posisi-posisi yang penting.

Dalam hakekat “arti penting” ini kadang sebagian manusia terlalu jauh memaknai dirinya sendiri, sehingga karena hidup yang serba bergelimang logika dan kesuksesan, terkadang sering tergelincir pada upaya menghilangkan arti penting dari Sang Maha Penting dan Dipentingkan oleh manusia itu sendiri. Apapun posisi dan ruang lingkup urusannya, semoga kita tidak termasuk orang merasa penting tetapi aslinya tidak penting, dan tidak termasuk pula orang yang menghilangkan arti penting Sang Maha Penting. Semoga kita termasuk orang yang berjuang untuk posisi penting dengan cara prestasi dan keinginan besar menjadi lebih baik seiring waktu.

Yogyakarta, 11 Mei 2012 pukul 09.00 WIB

Ki Asmoro Jiwo

6 responses to “MENGUKUR ARTI PENTING SESEORANG

  1. Mencerahkan. Sangat bagus.

  2. luar biasa…
    saya merasa sangat tersindir, mas.
    matur nuwun…

  3. Saya merasa bukan orang penting karena selalu berada diluar perusahaan atau institusi tertentu, tetapi saya merasa seringkali menjadi bagian SANGAT PENTING karena kelakuan saya yang seringkali bukan kemauan saya tetapi terpaksa saya lakukan yangmana bagi orang lain menjadi sandungan sehingga kemudian perusahaan atau institusi tersebut berkepentingan untuk “menahan” saya dengan memposisikan saya sebagai obyek yang tak berdaya atas usulan atau tekanan orang lain yang merasa terganggu oleh kelakuan saya itu. Salam Ki Asmoro Jiwo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s