AKIBAT MENJADI GUIDE

AKIBAT MENJADI GUIDE

Tidak semua anak mantan pejabat bisa bebas leluasa memanfaatkan jabatan orangtuanya. Salah satunya aku. Kenapa? karena hanyalah seorang mantan Ketua RW hehehe….

Maka mengais prestasi harus dimulai dari Nol. Pertama meyakinkan ke publik bahwa aku ini “bukanlah siapa-siapa” atau “tiada apa-apanya”. Maklum, nasib berbadan tinggi besar terkadang di-analog-kan dengan kemakmuran dan kekayaan. Bahkan ketika umur 30 tahun ngaku ke orang, bahwa aku belum pernah naik montor mabur (baca : pesawat terbang) tidak dipercaya. Ngaku belum pernah keluar Pulau Jawa, juga tidak dipercaya. Padahal itulah kenyataanya.

Agaknya titik balik dimulai tahun 2002, ketika aku berumur 29 tahun, ketika aku baru saja selesai sekolah S2, ketika masa kerjaku genap 5 tahun, dan ketika pertama kali aku terlibat pekerjaan riset kerjasama.
Saat itu pula, ketika aku jadi MC sebuah seminar, lalu berempati kepada salah satu pembicaranya dengan mengantar pulang ke hotel, lalu berlangsunglah rayuan anak kepada sang ibu yang mulia.
“Bu, mbok saya diajak kegiatan, ini di kampus saya banyak waktu luangnya..”, rayuku waktu itu
“Kegiatan tanpa ada duitnya, mau nggak”, kata Sang Ibu.
“Mau, Bu”, jawabku bersemangat.
Itulah titik awal kebangkitan karierku menjalin networking di luar kampus.

Tahun 2003 membuat debut yang cukup sensasional. Kerjasama di kabupaten tetangga langsung mengusung tugas sebagai team leader. Dalam waktu yang sama, ketika diri ini berhasil menjadi kerjasama kampus dengan perusahaan minyak di Riau, malah aku ngeper (mental down) ketika harus menjadi Team Leader. Ada 4 alasan mengapa seperti itu :
1. Dalam team riset, akulah yang paling yunior
2. Aku belum pernah naik pesawat terbang
3. Aku belum pernah keluar Pulau Jawa
4. Aku belum lancar berkomunikasi bahasa inggris
Padahal, kerjasama dengan perusahaan di Riau walau atas nama kampus, tapi memakai nomor HaPe-ku, memakai pula email pribadiku. Lucu juga ketika lelang yang ditelpon aku, tapi setelah menang, akunya tidak berani di depan hehee….

Menjadi Guide seorang Ibu Pakar tadi berlanjut lagi tahun 2004, ketika beliau mengucurkan sejumlah dana yang cukup untuk diskusi panel setengah hari. Bahkan beberapa tahun berikutnya juga demikian.

Nasib menjadi Guide tanpa terasa tumbuh dan berkembang. Ketika beberapa alumni mampir ke jogja dan mengontakku. Sering kudatangi beliau di hotel, lalu ngobrol dan jadi guide kuliner.

Demikian juga dengan sanak saudara dan teman luar kota yang beranjangsana ke Jogja, mendorongku menjadi Guide untuk urusan pembelian oleh-oleh dan kuliner.

Sekitar sebulan lalu, tanpa sengaja juga menjadi guide seorang celebritis ketika menuju Bandara Jogja dari Magelang, yi Bung Ray Sahetapy.

Seminggu yang lalu, mendapat tugas menjadi guide pembuatan film lingkungan di 4 lokasi di Jogja.

Sore ini berlanjut, tanpa sengaja menjadi guide seorang tokoh nasional, Pak Sarwono Kusumaatmaja, yang kuantar meninjau wilayah Sukunan – Gamping – Sleman, lalu mengantar beliau ke Bandara.

Kegiatan spontanitas sebagai Guide itu ternyata memberikan dampak yang luar biasa. Banyak jejaring lokal, regional dan nasional terjalin dengan baik. Terkadang aku sering mendapat kejutan-kejutan yang membanggakan.

Prinsip yang kupegang adalah niat silaturahmi dengan harapan menuju peningkatan ketaqwaan. Semoga….., Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s