JADI SUTRADARA SHOOTING FILM LINGKUNGAN

JADI SUTRADARA SHOOTING FILM LINGKUNGAN

Kali ini ada permintaan dari kolega, agar aku menemani kru film beberapa hari, yang akan melakukan pengambilan gambar kegiatan lingkungan di beberapa lokasi DIY. Sebelum hari H, aku coba merancang persiapan, seperti : bagaimana agendanya, kemana tujuannya, bagaimana rute dan kontak person di sana, apa misi pembuatan film itu, adakah skenarionya, dan tentu saja posisiku membantu di bagian apa.

Ternyata oh ternyata, hampir semua pertanyaan itu harus aku gali sendiri. Mulai dari mencari tahu jalan menuju lokasi (termasuk mencari teman penunjuk arah), wawancara dengan kontak person lokal, menjelaskan obyek yang mau di-shoot, memberikan arahan skenario, dan bahkan jadi figuran :p

Kesemua ini terbangun dari energi masa lalu. Sampai usia SMP hobby jadi pendengar setia ketika berada di dekat orang-orang yang ngobrol. Usia SMA belajar kultum (ceramah singkat), kepemimpinan (IPMOSIS, pengajian). Usia mahasiswa asyik kegiatan masjid, pengajian (khususnya buka puasa bersama :p), dan kepemimpinan (organisasi mahasiswa). Usia kerja mengembangkan bakat presentasi, pembaca acara (MC) dan pengarah acara (Sie Acara). Sejalan dengan itu semua terasah ilmu ‘membaca’ alam dan karakter manusia.

Modal di atas melatihku untuk belajar mempersiapkan sebelum hari H secara lengkap. Andai tidak bisa dilakukan, maka plan B adalah membuat rencana spontan di lokasi berdasarkan ide awal dan fenomena yang dilihat.

Pertama saya harus menyelami kemampuan tukang shootingnya. Aku agak heran ketika mereka mengeluarkan alat kamera DLSR, bukan video shooting. Kata mereka, trend sekarang shooting dengan kamera DLSR, karena hasilnya lebih bagus. Iseng kutanya harga kamera. Kirain hanya 5-6 jt an, ternyata….. baru kameranya saja sudah 17an jt. Belum tele-nya (alat bantu pembesaran jarak jauh). Belum lagi alat kaki tiga untuk menaruh kamera. Lalu ada papan logam sebagai penggerak kamera kanan-kiri. Di bawah kamera juga ada tuas untuk menggerakkan kamera ke segala arah. Wah !!
Dengar-dengar, mereka sudah level nasional, biasa dipekerjaan lembaga nasional, videa clip, dll. Wow !!

Karena tukang shootingnya belum paham tentang obyek alam dan proses alamiahnya, maka tugasku menjelaskan itu apa dan menawarkan ide mana saja yang harus diambil gambarnya. Misalnya pohon besar dengan mata air di bawahnya. Aku minta mata air di close-up, lalu seluruh tubuh pohon di-shoot semuanya dari akar sampai ujung tajuk paling atas. Kru film otomatis sangat paham harus bagaimana. Kulihat dia mengkombinasikan pengambilan gambar jarak dekat dan jarak jauh.

Ketika men-shoot gambar bergerak, misalnya petani yang sedang lewat atau sedang beraktifitas di ladang, kita pake 2 cara, yaitu spontan (dengan resiko alat harus siap dengan cepat) atau minta ijin dulu ke petani (dengan resiko rona wajah mereka kurang natural karena malu terganggung sorot kamera).

Setiap obyek juga kuceritakan proses alaminya seperti apa. Misalnya abrasi itu proses kerusakan akibat hempasan ombak air laut. Beberapa dampak yang terlihat, dll. Kesemuanya perlu direkam. Bahkan kadang proses perekaman diulang beberapa kali untuk mendapatkan gambar yang bagus.

Seringnya, ketika kamera sedang ON, aku berada di belakang kamera dan ngoceh menjelaskan obyek apa itu. Harapannya, saat edit film, si pembuat narasi di studio mendapatkan info tentang gambar yang dia edit. Karena biasanya film dokumenter itu disertai dengan keterangan tambahan seperti : wawancara, penjelan text, dan suara. Khusus untuk suara biasanya dicari suara orang yang merdu dan jelas, seperti pembaca berita TV atau MC.

Konon, semua hasil gambar film lapangan ini akan diolah distudio. Bahkan tukang edit film bisa bekerja 2 x 24 jam tanpa tidur. Itu pun hasilnya belum tentu final, kadang masih perlu direvisi dll. Yang jelas, pengambilan gambar beberapa hari di lapangan, ketika tayang hanya menghasilkan film beberapa menit saja, ada yang durasi 5 menit, 15 menit, 30 menit atau tergantung kebutuhan. Akhirnya kita pun paham, kenapa film bioskop yang hanya 100 menit dibuatnya sampai bertahun-tahun hehehe…..

Yogyakarta, 17 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s