KRL : SALAH TEMPAT, TIKET 2000 & WAJAH PASARAN

KRL : SALAH TEMPAT, TIKET 2000 & WAJAH PASARAN

Kurang lebih sudah 10 tahun aku tidak naik KRL (kereta listrik) di Jakarta. Hingga ketika kali ini mau naik KRL dari stasiun Bogor ke Depok, aku mengalami beberapa hal unik yang tiada terduga.

Ketika menuju Stasiun Bogor, aku diantar seorang teman dengan mobil. Beliau sampai harus memutar 2 kali karena belum menemukan tempat pemberhentian yang tepat dan lalu lintas sekitar stasiun cenderung macet. Katanya, kadang beliau harus berlagak masuk bank tertentu agar bisa parkir di dekat stasiun, lalu berlagak masuk ke ruang ATM, biar berkesan sebagai pengguna bank, padahal aslinya hanya agar bisa numpang parkir.

Aku jalan kaki mencari pintu masuk stasiun. Karena ragu dan memang salah jalan, kubertanya pada seorang pejalan kaki lain yang kutemui. Masuk stasiun, aku langsung menuju loket untuk membeli tiket. Di atas loket tertulis kelas ekonomi. Aku pun membelinya. Wow, hanya Rp 2.000,-. Murah bener untuk jarak Bogor – Depok yang kalau ditempuh dengan mobil bisa satu jam perjalanan (paket dengan macetnya tentu saja).

Setelah beli tiket, aku bertanya kepada seorang security seragam biru tua yang berdiri di dekat kereta yang sudah terisi penumpangnya.
“Jurusan Depok mana ya, Mas?”, tanyaku memang tidak tahu dan asing
“Ini Pak yang berangkat dulu”, kata dia menunjuk serangkaian gerbong KRL
Aku pun langsung masuk ke pintu terujung dan terdekat. Kulihat semua kursi sudah ditempati. Ada 1-2 orang yang berdiri, termasuk aku yang sambil membawa tas punggung berisi laptop dan seperangkat pakaian untuk menginap di rumah ponakan di Depok.

Aku berdiri di dekat seorang ibu separuh baya yang disampingnya duduk anak lelaki yang masih seusia anak SD. Sesekali ibu itu bercanda dengan anaknya, bahkan mereka kadang tukeran tempat duduk. Sementara aku tak bergeming, berdiri dengan pegangan tiang KRL yang terbuat dari stainless steel.
Sedang asyik berdiri memandang keluar, aku tersadar oleh teguran orang di belakangku. Ternyata petugas security :
“Maaf Pak, ini gerbong khusus perempuan!”, kata dia tegas
“Ohh, maaf!”, aku salah tingkah dan langsung beranjak ke gerbong selanjutnya.
hhhh….., ternyata aku salah gerbong. Tapi agaknya peraturan itu tidak berlaku untuk anak-anak hehee.

Kereta berjalan dengan cepat. Aku mencermati setiap stasiun pemberhentian, takut bablas. Aku sudah lupa, stasiun pondok cina yang jadi tujuan itu pada pemberhentian yang keberapa. Setelah berdiri 20 menitan, aku beranikan bertanya pada seorang bapak di sampingku.
“Maaf Pak, stasiun Pondok Cina yang mana ya?”, tanyaku
“Ini kita di stasiun Depok Lama, lalu Depok Baru dan sampailah di stasiun Pondok Cina”, jelas bapak tersebut
“Terima kasih”, kataku pada sang bapak yang agaknya bersiap mau turun di stasiun Depok Lama.

Aku mencermati kereta yang berjalan lagi. Aku harus turun pada pemberhentian yang kedua. Ketika aku sedang bersiap-siap untuk turun, dan kereta sudah melewati stasiun Depok Baru, dari belakang petugas pemeriksa tiket datang. Dengan lugunya kusodorkan tiket Rp 2.000 yang aku beli tadi. Saat petugas membaca, dia berkata :
“Bapak salah beli tiket. Ini untuk kelas ekonomi. Sedangkan kereta ini kereta AC dengan tiket Rp 9.000”, kata petugas
“Wow, maaf..”, aku pun gugup merogoh kantong mau bayar lagi. Tapi petugas berkata lagi :
“Silahkan Bapak turun pada stasiun pemberhentian berikutnya, beli tiket, dan silahkan naik lagi”, kata petugas sambil pergi.
Gleks, kok bisa pas, aku kan memang mau turun di stasiun pondok cina. Yo wis aku turun saja hehheee……
Sebenarnya aku gak srek dengan istillah “kereta AC” karena faktanya siang itu tetap terasa panas dan aku harus berdiri di bawah kipas agar tidak terlalu gerah.

sehari semalam kuhabiskan waktu di rumah ponakan untuk istirahat karena masuk angin dan kelelahan, sambil bercengkrama dengan cucu (anaknya keponakan) dan beberapa kucing tetangga yang bersliweran. Menu makanan yang maknyuus dan layanan ponakan yang luar biasa, membuatku enjoy aja.

esoknya aku kembali ke Bogor lagi dengan naik KRL. Kali ini aku beli tiket Rp 9.000. entah karena sore hari, atau keretanya beda, kali ini AC nya benar-benar terasa. Sambil berdiri, aku baca peraturan yang ditempel. Ada pasal yang kira-kira bunyinya “jika penumpang kedapatan tidak membeli tiket, didenda Rp 50.000,”.
Aku jadi senyum sendiri ketika ingat kemarin dan ngeyelku keluar (walau bicara dalam hati), karena kemarin aku kan beli tiket, jadi tidak sah kalo didenda hehhee…..

Turun di stasiun Bogor, aku tanya pada pejalan kaki.
“Maaf pintu keluar dimana ya?”, tanyaku
Seorang Bapak terbelalak melihatku dan bilang :
“Ini Ade?”, tanya beliau kaget
“Bukan pak, saya Kundarto “, jelasku yakin :p
“Bukan mas Ade yang tinggal di XXXXX ya?”, tanya beliau masih belum percaya
“Bukan pak, saya jogja”, kataku. Maksudnya asal jogja
“Oh maaf, karena sangat mirip banget”, kata beliau sambil kita pisah jalan.
Duh….. apa wajahku pasaran yaa……..
Atau karena kumis dan jenggotku sudah semingguan belum dicukur lagi :p :p

Bogor, 7 Oktober 2012

Muhamad Kundarto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s