Nge-MC DUA HARI

Nge-MC DUA HARI

13 dan 14 November 2012 menjadi hari penuh tantangan buatku, khususnya amanah untuk menjadi MC dalam kegiatan seminar nasional dan temu alumni. Boleh dibilang, keterlibatanku dalam 2 even ini baru mulai H-1, karena sebelumnya hanya ikut sekali rapat, itupun hanya membahas temu alumni saja. Bahkan saat H-1 tersebut, kepastian membantu seminar baru dilakukan siang hari, karena rencana keluar kota batal (agendanya diundur).

Adalah sebuah tantangan, ketika H-1, aku harus berkoordinasi dengan semua pihak.

Pertama, dengan partner MC, merupakan rekan alumni yang bekerja sebagai penyiar TV dan radio. Kami tidak kenal dekat saat kuliah, karena beda angkatan. Tapi yang jelas, kami baru kenal saat ini setelah pasca kuliah S1 doeloe (selama 15an tahun tidak pernah bertemu). Untungnya, aku punya partner profesional, sehingga sudah sangat paham harus apa dan bagaimana nge MC dan menyiapkan acaranya.

Kedua, koordinasi dengan rekan Sie Acara yang kebetulan pamit karena kesibukan yang overload dan baru pemulihan dari sakit radang tenggorokan. Kami MC mendapatkan penjelasan detail tentang acara dan pengaturan persidangan seminar nasional. Sedangkan acara temu alumni didominasi improvisasi kami sendiri.

Ketiga, kami melakukan koordinasi dengan panitia secara umum, seperti kepada ketua, wakil, sekretaris, dan perlengkapan. Kami perlu memastikan siapa saja pengisi acara seminar maupun temu alumni. Kami juga berkoordinasi dengan adik-adik mahasiswa yang diperbantukan sebagai running man dan running girl, yang siap membantu ke sana kemari.

Malam itu, masih H-1, saya dengan partner berkoordinasi dengan seragam yang akan kami kenakan selama 2 hari. Intinya, stok baju warna apa yang dipunyai. Lalu sepakat nuansa warna ungu untuk seminar nasional, dan warna hijau untuk temu alumni. Biar lebih mantap, kita kirim foto baju via BBM untuk meyakinkan warna yang bener-bener mendekati “sarimbit”.

Hari pertama : Seminar Nasional

Kami harus memastikan apakah para pengisi utama sudah hadir, seperti : ketua panitia, pejabat, pembicara kunci, moderator dan para narasumber. Jika sudah lengkap sampai jeda sesi berikutnya, kami akan minta persetujuan ketua panitia untuk memulai acara. Namun biasanya kita tunggu agar ruangan seminar terisi peserta > 50%.

Acara seminar biasanya dibuat kesan formal. Tapi saat doorprize dan pengumuman, kadang kita buat nge pop biar lebih berkesan santai dan meriah. Kami pun bergantian memandu acara. Bahkan terkadang merangkap sebagai sie acara, dengan kesana-kemari mencari info, posisi narasumber, dan merangkap tugas penyerahan cinderamata dan doordprize.

Porsi kerja kami lebih banyak saat sesi pagi sampai siang, dimana berlangsung seminar bentuknya diskusi panel. Sedangkan siang hari, lebih banyak kami memberikan interuksi kepada seluruh peserta agar tepat waktu dan masuk sesuai ruangan masing-masing untuk mengikuti pemaparan makalah. Adapun saat penutupan, jumlah peserta menurun drastis karena banyak yang keburu pulang.

Sekitar jam 17 aku langsung pulang. Baring 30 menit untuk rileksasi, lalu mandi dan kembali ke kampus lagi. Kami harus ikut gladi bersih untuk agenda temu alumni esok. Ndilalahnya, malam itu ada 2 acara lain yang mengundangku, yaitu ceramah pemberdayaan masyarakat dan rapat bakti sosial. Jadi praktis jam 22an baru bisa kembali ke rumah. Sebelum tidur, 1 jam buka laptop untuk merevisi acara esoknya.

Hari kedua : Temu Alumni

Bentuk gedung auditorium memang mewah dan nuansa pertunjukan musik/opera. Tapi masalah utama sejak dulu adalah pendingin ruangan dan gema suara dari soundsystem. Ternyata, kedua masalah ini pun menjadi kendala serius kali ini. Suara kami jadi tidak jelas dan peserta jarang yang bisa menerima pesan dengan tepat. Plus hawa gerak berkeringat yang weleh-weleh.

Sebelumnya kita sudah merancang joke-joke untuk memeriahkan suasana. Tapi apa dinyana, suasana badan yang gerah dan suara tidak jelas membuat pesan menjadi sering kacau. Padahal desain interior ruangan sudah demikian artistiknya dengan pameran taman alami dan hiasan furniture kualitas ekspor.

Kami pun harus lari kesana-kemari karena setting posisi dinamis, seperti di teras, tengah ruangan dan di panggung. Belum lagi harus mencari info kesana-sini untuk memastikan acara berikutnya. Belum lagi pula, mengarahkan acara dalam temu alumni adalah yang tersulit bagiku. Karena ketika alumni saling bertemu, biasanya mereka meluapkan rasa kangen dan asyik ngobrol diantara mereka sendiri. Jadilah kombinasi musik, sambutan, wejangan, joke, dan doorprize dibuat berselang-seling agar peserta tidak bosen.

Kami pun menjalankan ritual sebagai MC, yaitu tidak mengambil hidangan makan siang, kecuali minum dan makan snack sekedar pengganjal perut. Kenapa? karena acara harus selalu dibuat terkendali secara terus menerus. Untungnya ada beberapa MC khusus hiburan, sehingga ada kesempatan kami melepas lelah. Tapi itupun sore harinya tetap membuat stamina kami drop, sehingga konsentrasi kadang kurang fokus, seperti larut ikut ngobrol dengan sesama rekan alumni/panitia, duduk di beberapa tempat, dll. Untungnya kami didukung penuh oleh teman-teman alumni lain sehingga acara bisa dilaksanakan sesuai jadwal secara optimal.

Ohya,
total peserta seminar sekitar 200an
dan peserta temu alumni sekitar 240an

Inilah sebuah kebanggaan bagi kami dan semua pihak yang membantu melancarkan pelaksanaan kegiatan ini. Alhamdulillah…..

Akhirnya, aku menikmati istirahat total karena merasakan “capek tingkat dewa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s