Perjalanan ke Lombok – bagian dua

Bagian Kedua
PERJALANAN KE LOMBOK, SERBA YANG PERTAMA

Rabu, 26 September 2012

Bangun pagi terasa berat. Apalagi tengah malam baru tertidur, setelah menyantap menu pesanan hotel nasi goreng seafood dan teh hangat. Gile bener, harganya 100an ribu.

Aku bergegas menuju resto untuk sarapan pagi. Menu kesukaanku adalah omelet, sehingga sambil makan kadang membandingkan menu antar hotel yang pernah dikunjungi. Bahkan ketika sampai di rumah, aku suka iseng mencoba masak beberapa menu yang aku suka, termasuk omelet ini.
Jarak kamar dengan resto 500an meter. Ibaratnya datang lapar, di sana makan, nyampe kamar lapar lagi hehe.
Maklumnya, konon luas lahan hotel ini sekitar 12 ha, padahal jumlah kamar hanya 160an. Artinya, pemandangan atau keindahan lanhscape (bentanglahan) sangat diutamakan. Apalagi hotel ini persis berada di tepi laut.

Kami menuju lokasi kunjungan dengan naik taxi BB. hebat juga taxi ini, kirain hanya di jakarta saja, ternyata sudah lama mangkal di sini. Sang sopir yang ramah banyak menceritakan hal ikhwal tentang lombok, tentang bahasa lokal yang mirip dengan bahasa jawa, tentang bandara lama yang sebenarnya masih layak dan bandara baru hanya beda panjang 300 meter saja, tentang makanan plecing kangkung yang khas, dll. Kami diantarkan menuju sebuah lembaga lingkungan di kabupaten lombok barat.

Selanjutnya dengan mobil touring berumur kurang dari setahun, kami diantar menuju lokasi. Kita sempat diajak mampir ke lokasi yang terdapat embung penampung air hujan dan instalasi biogas dari kotoran ternak sapi.
Lalu kami diajak ke ketua kelompok masyarakat yang berada di tepi hutan dan lereng perbukitan. Kebanyakan masyarakat di sini pemeluk agama Hindu, sehingga suasananya mirip dengan masyarakat di Pulau Bali.

Aku tertarik mengamati beberapa jenis tanaman lokal, seperti jambu biji, duwet, asam lombok (baca: asam jawa), dll. Aku sempat mencicipi asam lombok tersebut, dan ternyata mulutku tidak tahan kecutnya. Tapi saat bapak-e setempat memetikkan jambu biji, aku makan sekitar 5 biji dan khusus kulitnya. karena untuk menelan biji jambu tanpa kunyah kok hati ini meragu hehehe….

Kami diperlihatkan mata air dan upaya masyarakat dalam melindungi dengan upacara adat dan kearifan lokal. Beberapa masyarakat juga menggali lahan untuk dijadikan bahan pembuatan batu bata. Konon setelah lahannya rendah, bisa digunakan untuk sawah tadah hujan. Masyarakat juga banyak memelihara anjing. Kebanyakan dibiarkan berkeliaran dan badannya kurus-kurus karena lokasi di daerah gersang. Anjing-anjing ini suka menyalak bersautan ketika melihat orang asing. Muka kupasang jaim dan cuek sambil waspada. Untunglah anjing-anjing ini hanya menyalak doank hehee…

Kami diperlihatkan seekor babi yang sedang berkubang tanpa diikat. Katanya babi ini sudah tidak kuat lari, karena berat badan mencapai 200 kg. Jadi hanya bisa berkubang dan berdiri di tempat. Konon, babi ini dipersiapkan untuk pesta pernikahan dalam waktu dekat ini. Aku pun sempat berpose di depatnya hehee….

Masyarakat juga mempunyai industri rumah tangga berupa pemintalan dan tenun secara manual. Kami diajak melihat cara pengerjaannya. Para pekerja kebanyakan kaum hawa. Anak-anak yang putus sekolah hanya sampai SD, dilanjutkan dengan belajar menenun. Sebagai buah tangan, aku membeli 2 kain tenun tersebut seharga @ Rp 125.000 (panjang 2,5 meter).

Sempat terjadi insiden kecil, ketika mau pulang, mendadak bateri remote mobil mati. Sehingga terjadi konsleting alarm dan mobil tidak bisa dinyalakan. Kami coba berbagai cara, termasuk melepas kabel accu, dll.
Sambil menunggu, bapak-e tuan rumah sikap memetik beberapa buah kepala muda berwarna hijau. Kami dikupaskan, minum airnya, dan dibuatkan sendok dari kulit untuk mengupas isinya. Wow, rasanya luar biasa ! aku sampai menghabiskan jatah 2 teman yang tidak habis hehhee…
Akhirnya kami minta jemputan mobil lain. Jarak kantor ke lokasi 6 Km-an. Sehingga jemputan datang dan membawa kami berpamitan dari desa itu.

Kami mampir di “warung jawa” dengan menu ayam goreng dan sambel penyetan. Waduh, ternyata selera pedas di sini jauh lebih pedas dari selera pedas di jogja. Sehingga aku sampai megap-megap kepedesan.
Setelah itu kami diantar kembali ke hotel oleh salah seorang staf.

Maunya sore hari buat menikmati sunset di tepi pantai. Tapi rabu petang ini sudah antri :p, teman alumni yang mau berkunjung. Kita sudah janjian di fesbuk. Aku sendiri tidak menyangka (karena tidak meneliti dulu fotonya), ternyata yang datang adalah adik kelas angkatan 99 bernama mas Luk.
Dia datang dengan membawakan sekantong oleh2 khas lombok. Kami saling bercerita dan berbagi nasehat dalam banyak hal. Temanku ini ternyata sudah menjadi koordinator penyuluh pertanian di lombok timur.
Tak terasa obrolan sampai 3 jam-an. Setelah itu aku membonceng motornya mencari warung tenda khas lamongan. Heran, makan di pinggir jalan ini malah rasanya lebih ‘nendang’ dibanding di hotel.

Kamis, 27 September 2012

Pagi itu aku menuju resto untuk sarapan hari kedua. Setelah sarapan, aku mencoba mencari jalan lain menyusuri pantai sambil memotret dengan kamera BB. Penataan kawasan begitu artistik antara pantai, pagar, taman dan bangunan. Bahkan pedagang keliling yang menawarkan kaos dan asesoris hanya berani berteriak dari luar pagar.

Usai sarapan ini, aku bersantai menikmati suasana kamar hotel. Selanjutnya mandi dan berkemas untuk checkout karena seorang sahabat mbak Ti akan datang.
Sekedar info, ini juga ketemuan yang pertama kali seumur-umur dengan mbak Ti, walaupun sudah sering bertegur sapa di fesbuk dan satu almamater.

Jam 10an kami dijemput oleh mbak Ti dengan temannya naik Kijang Innova. Jadilah berempat menyusuri pantai ke arah barat-utara, lalu kembali lagi menuju kota mataram. Karena beliau yang kebetulan bekerja di kota mataram, kami diperlihatkan suasana jalan nan asri dan jajaran perkantoran.

Kami diajak makan di sebuah rumah makan yang menjadikan menu plecing kangkung, ayam goreng dan ikan goreng serta tahu khas lombok yang kenyal-empuk. Siang itu kami dijamu bak tamu kehormatan oleh tuan rumah yang sangat terhormat hehhee…
Kami pun diantar ke BIL (bandara international lombok) dengan setengah ngebut.

Untunglah waktu masih tersisa 30 menit. Aku cepat2 masuk. Pesawatku WA tujuan surabaya. Sedangkan temanku GA tujuan jakarta. Aku delay 30 menit, temanku… 3,5 jam ! hehhee…
Beberapa teman yang melakukan perjalanan di Jambi dan Balikpapan malah mengabarkan kalau saat itu penerbangan juga tertunda karena kabut asap. Jadi delay kami masih ‘wajar’.
Namun, jadwal penerbanganku surabaya-jogja jedanya 4 jam-an. Untunglah aku bertemu dengan sahabat dosen Bu Dir, yang lagi-lagi, ini baru pertama kalinya bertemu muka, walau sekian lama sudah berkomunikasi online. Obrolan akrab ditambah traktiran makan, menambah suasana jadi sangat akrab.

Pesawat WA menerbangkanku dari surabaya ke jogja.
Tadi juga sampingku seorang ibu yang menggendong bayi yang nangis. Refleks saja aku menoleh ke kanan dimana ibu itu duduk di sampingku. Gubrak, ternyata sang ibu dengan cueknya memberikan ASI ke anaknya yang tetap saja menangis. Setelah 1 detik, aku melengos….*sensor (red)
Waktu pukul 20.10 WIB pesawat tiba di jogja.
“tidak ada perbedaan waktu antara yogyakarta dan surabaya”, kata mbak-e pramugari sing weleh-weleh….

Aku pun dijemput motor oleh seorang mahasiswa yang baik hati, mengantarkanku dari bandara jogja ke padepokan_bin_ngontrak.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s