Dimensi Ruang dan Waktu : sebuah pemahaman kekuasaan-Nya

Sebuah benda (materi) dikatakan menempati suatu ruang tertentu. Secara sederhana, bayangkan saja posisi kita ini ada dimana. Kita ada di kamar. Kamar di dalam rumah. Rumah di dalam kota. Kota di dalam pulau. Pulau di dalam Negara. Negara di dalam Bumi. Bumi dalam tata surya. Tata surya dalam semuah Galaksi. Galaksi berada diantara banyak galaksi, dan semakin besar lagi sampai daya nalar manusia tidak bisa menjangkau sampai dimana.

Kita dikatakan bergerak, apabila berpindah dari suatu ruang satu ke ruang lain. Atau berpindah dari titik lokasi satu ke titik lokasi lain. Bahkan perpindahan dianggap tidak terjadi apabila kita kembali ke titik awal. Coba cermati, kita dikatakan bergerak, karena ada pembanding benda lain sebagai tolok ukur pergerakan kita.

Pernahkah kita bayangkan, seandainya di alam semesta ini hanya ada satu titik benda. Apakah benda itu bisa dikatakan bergerak? padahal tidak satupun pembanding benda lain. Itulah makna pergerakan yang bersifat relatif. Mirip dengan ketika kita berada dalam kereta yang berjalan. Orang lain yang sama-sama duduk dalam kereta, akan menganggap kita diam. Tapi orang yang tidak naik kereta, akan menganggap kita berjalan/bergerak (bersama kereta).  Contoh lainnya adalah pergerakan umat manusia di bumi ini, yang bisa saja dianggap tidak bergerak oleh pandangan dari galaksi lain, karena toh semuanya tetap berada di dalam satu titik, yang bernama bumi dan seisinya.

Selanjutnya, mari kita berpikir tentang waktu. Ada detik, menit dan jam yang kita sepakati untuk menguraikan ukuran waktu siang dan malam. Ingat, waktu siang dan malam berlaku di bumi, yang terbentuk karena pergerakan bumi secara relatif dengan posisi matahari. Siang karena pas matahari menyinari. Malam karena pas sinar matahari terhalang tubuh bumi. Bagaimana dengan matahari yang selalu bersinar, mungkin kita sebut “matahari selalu siang”. Lalu, bagaimana pula dengan waktu di tata surya atau galaksi yang lain. Tentu ukurannya berbeda.

Bahkan berdasar ukuran waktu yang kita sepakati ini. Waktu yang dipunyai manusia sangat terbatas. Katakanlah umur rata-rata manusia 50-70 tahun. Bagaimana dengan umur bumi, umur tata surya, dll. Tentu umur satu periode hidup manusia ini amat sangat tiada apa-apanya dibanding dengan umur semesta ini. Kita hanya bisa membayangkan masa lalu, masa kecil, masa orang-orang pendahulu yang sudah lebih dulu wafat. Tapi daya nalar kita terhenti ketika membayangkan masa depan, terutama masa setelah kita sendiri wafat. Apakah akan sama dengan masa lalu, ataukah berbeda. Apalagi jika mengingat perkembangan peradaban itu berlangsung sangat cepat, misalnya jaman majapahit, jaman penjajahan, dan jaman kini hanya berproses ratusan tahun saja, sementara hitungan geologi sering menaksir waktu dalam hitungan jutaan tahun. Sungguh perbandingan yang tidak sepadan.

Satu hal yang perlu kita renungkan, bahwa ternyata ruang dan waktu itu sangat relatif. Bahkan yang bisa kita nalar kebanyakan hanya di sekitar kehidupan di bumi ini saja. Tanpa bisa menjelaskan lebih rinci pada fenomena ruang dan waktu di tata surya atau galaksi yang lain.

Apakah kita sepakat bahwa ruang dan waktu itu tidak datang dengan sendirinya? Seperti halnya terbentuk segala isi semesta ini. Apakah kita sepakat bahwa ruang dan waktu juga merupakan salah satu ciptaan-Nya? Jika ruang dan waktu adalah hasil penciptaan-Nya, maka Sang Pencipta tidak bisa diukur dengan ruang dan waktu, misalnya dibayangkan Sang Pencipta menempati ruang tertentu dan waktu tertentu, karena kedua ukuran itu adalah ciptaan-Nya. Segala ruang yang kita bayangkan, baik di dalam bumi maupun di bagian alam semesta lain, adalah dalam kuasa-Nya. Begitu juga waktu masa lalu, masa kini dan masa depan; juga dalam kuasa-Nya.

Masihkah kita berpikir bahwa alam semesta ini, termasuk ruang dan waktu, terjadi begitu saja? ataukah yakin bahwa semua ini atas kehendak Sang Pencipta. Lalu untuk apa alam semesta dengan luas tanpa tahu batasnya ini diciptakan? padahal kehidupan manusia masih sebatas di bumi dan lokasi terdekatnya (baca: bulan). Wallahualam Bishowab !

3 responses to “Dimensi Ruang dan Waktu : sebuah pemahaman kekuasaan-Nya

  1. ahh kirain mau menjelaskan hakekat waktu, ternyata hanya banyak pertanyaan yang tak terjawab….. he.he.he. saya masih belum ngerti tentang waktu

  2. Kenapa manusia selalu ingin tau ? Karena manusia adalah alam yang selalu berevolusi mnyesuaikan kebutuhan alam pikirnya
    Sdangkan tuhan menyediakan perangkat kebutuhan dalam berevolusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s