Aksi Menanam dan Merawat Pohon

Hari Bumi 22 April 

Oleh : Muhamad Kundarto 

Berbagai kegiatan manusia, entah atas nama peningkatan peradaban ataupun atas nama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, turut ‘mengantarkan’ kondisi bumi seperti saat ini.

Berbagai manusia banyak yang berbantahan, merasa benar ‘memperlakukan’ bumi dan heboh menyalahkan pihak lain yang dianggap merusak bumi. Apapun, semua pihak ini berada di dalam satu tempat, yaitu BUMI. Sehingga muncul slogan “Satu Bumi”, untuk menggambarkan dampak terhadap bumi akan dirasakan bersama oleh siapapun.

Salah satu aksi terhadap bumi, yang dapat bernilai mitigasi (pengurangan emisi) sekaligus adaptasi (penyesuaian) perubahan iklim adalah aksi menanam pohon. Aksi ini biasanya dilakukan pada awal sampai akhir musim hujan. Tapi ada juga yang nekad melaksanakan di musim kemarau karena ‘alasan yang tidak bisa dihindarkan’ (baca: momen tanggal-bulan tertentu, dll.).

Pohon-pohon besar yang rindang akan berfungsi efektif mengurangi pencemaran udara dengan menyerah gas CO2 dan menghasilkan O2 yang banyak dibutuhkan makhluk hidup. Pohon-pohon ini juga membantu menciptakan iklim mikro dengan memberikan hawa yang sejuk nan asri. Fungsi konservasi juga dijalankan yang berperan pada perlindungan dan konservasi tanah dan air.

NAMUN, aksi menanam biasanya berhenti pada kegiatan menanam saja. Saat menanam penuh ceremonial yang jadi konsumsi media massa, seperti umbul-umbul beraneka warna dan slogan membahana, berkumpulnya banyak orang, foto-foto dan shooting, dan berbagai sambutan dari para pihak terkait. Setelah itu, lokasi penanaman ditinggalkan sunyi-senyap tanpa ada tindakan perawatan. Ada yang berdalih, masyarakat setempat lah yang wajib melakukan pemeliharaan. Fenomena ini ibarat kita menaruh kendaraan lalu tukang parkir disuruh menjaga keamanan, tetapi kita tidak memberikan uang parkir.
Aksi menanam sudah bagus, tetapi keberadaan pohon perlu sentuhan ‘keamanan’ (baca: perawatan, pemeliharaan). Jika memang tugas itu diberikan pada masyarakat setempat, maka sudah kewajiban penanam untuk memberikan ‘uang parkir’ (baca: dana perawatan dan pemeliharaan tanaman).

Perawatan pohon terutama adalah penyiraman, pemberian pupuk dan perlindungan dari gangguan. Penyiraman dapat ‘ditolong’ oleh musim hujan apabila penanaman dilakukan pada awal sampai pertengahan musim hujan. Artinya air siraman mengandalkan curahan air hujan. Pemberian pupuk dapat diawali pada 1-2 minggu sebelum tanam dengan pemberian pupuk kandang atau kompos. Pupuk ini akan menjadi modal jangka agak panjang untuk ketersediaan unsur hara dalam tanah dan membantu menjaga kegemburan tanah. Adapun perlindungan dari gangguan terutama dari tangan-tangan jail yang mencabut tanaman itu atau hewan yang memakan dedaunan atau hama penyakit.

Aksi perawatan berbeda dengan penanaman. Penanam cukup dilakukan sekali di awal, tetapi perawatan membutuhkan rentang waktu yang lebih panjang, bahkan idealnya sampai tanaman berumur 2 tahun atau tanaman mampu tumbuh dengan baik secara mandiri. Jadi porsi perawatan membutuhkan perhatian yang lebih besar, mengingat banyak orang lebih tertuju pada aksi penanaman saja. Perawatan pun membutuhkan dana yang lebih besar.
Untuk itu kepada semua pihak, marilah kita lebih peduli terhadap bumi ini, salah satunya dengan kombinasi aksi penanaman dan perawatan pohon. Sehingga bumi ini semakin lestari untuk kehidupan makhluk hidup di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s