Dibuat Tergantung Gas

Waktu di kampung doeloe (th 1974-1991) dapur di rumah terbiasa dengan bahan bakar kayu. Banyak pelajaran bagaimana menyalakan, mempertahankan nyala, dan mematikan kayu tersebut. Biasanya menyalakan dengan bantuan sedikit minyak tanah. Mempertahankan nyala api dengan cara memperhatikan sirkulasi udara dari mulut pawon sampe ujung belakang, makanya pemberian kayu tidak boleh terlalu penuh. Sedangkan mematikan bara kayu dengan cara sedikit cipratan air. Kita harus memastikan bahwa seluruh bara sudah padam.

Pasca era kayu bakar, di kota-kota besar banyak yang menggunakan kompor minyak tanah. Berbagai model kompor tersajikan. Bahkan di era aku menjadi anak kos (1991-2000), tersedia 1 kompor minyak tanah untuk melayani 13 penghuni kost. Manajemen per-kompor-an ini biasanya harus rajin mengecek jangan sampai minyak tanah kehabisan, sehingga sumbu kompor cepat habis.

Beberapa tahun terakhir ini ketersediaan minyak tanah langka (atau sengaja di-langka-kan?). Propaganda penggunaan gas ada dimana-mana. Sebenarnya banyak orang malas berpindah karena konsekuensinya alat harus ganti. Tapi dengan langkanya minyak tanah dan murahnya harga gas 3 kg (waktu itu sekitar @ Rp 12 rb), serta berbagai keuntungan lain seperti dapur lebih bersih, dll., maka banyak orang beramai-ramai pindah ke bahan bakar gas. Bahkan para pedagang kaki lima, yang dulu sangat familiar menggunakan kompor minyak tanah, ikut berubah menggunakan gas.

Sekarang penggunaan gas sudah mewabah sampai ke desa-desa. 
Apakah harga gas stabil murah?
Dulu aku anggap begitu. Rumornya kan bahan bakar minyak stok terbatas, sementara negara kita kaya akan bahan bakar gas. Harusnya harga gas bisa stabil murah.
Tapi aku cukup kaget dengan berita sebulan terakhir ini, harga gas merangkak naik. Entah dengan alasan “subsidi dicabut” atau “tabung gas baru”. Wis pokoke intine harga naik. Jadilah sekarang harga tabung gas langgananku Rp 82 rb untuk ukuran 12 kg.
Belum lagi si tukang gas nyambi promo regulator-selang pake harga MLM. Katanya harga 380an rb, dibayar bertahap, dan konon berasal dari koperasi pensiunan yg punya pabrik gas. Dengan piawainya si tukas gas memanfaatkan kita yang tidak lincah memasang karet dan regulator, lalu dia pamerkan alat baru ini. Memang lebih bagus, tapi harganya 4x harga regulator di toko. Yang bikin ‘adem’, konon alat itu dijamin selamanya, termasuk servis kompor. Doaku dalam hati, semoga si penjual ini tetap mengawal kemana pun daku menetap. Maklum, masih “kontraktor” he he.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s