autobiografi – Belajar Menyusun Kalimat

Sepenggal Autobiografi
BELAJAR MENYUSUN KALIMAT

Masa SD sampai SMP (1979-1988) adalah masa dimana aku lebih banyak menjadi seorang yang suka mendengarkan cerita dari orang lain. Cerita dari “kancil nyolong timun” sampai topik apa saja, yang penting aku banyak diam dan mendengarkan. Sudah biasa, ketika menjelang tidur, orangtuaku atau saudara dekat, menemani tidurku dengan sebuah dongengan baru. Sudah biasa juga, aku tiduran di bangku ruang tamu, untuk sekedar mendengarkan obrolan para tamu dengan orangtuaku. Sampai SMP, aku benar-benar menjadi cowok yang sangat pemalu. Saking pemalunya, aku lebih sering digoda perempuan daripada sebaliknya. Tentu hanya sebatas kata-kata🙂

Awal SMA, geliat menyusun kalimat mulai bangkit. Beranjak dari orang yang sangat pendiam, merangkak menjadi orang yang lebih berkreasi menggunakan mulut dan tangan untuk menyusun kalimat. Awalnya ada training keagamaan 24 jam, disana mendapat motivasi dan didorong berlatih diskusi. Kemudian kelas 2 SMA menjadi pengurus OSIS yang membidangi publikasi dan dakwah. Hal berkesan waktu itu adalah seorang diri mengisi majalah dinding, jadi mau tak mau harus mengetik artikel dan puisi, lalu dipasang sendiri. Ingat lho, waktu itu masih menggunakan mesin ketik manual merk Olimpia. Jadi huruf demi huruf harus diketik dengan tanpa kesalahan. Kadang juga harus masuk kelas lain, berdiri di depan kelas, mengumumkan berita duka seorang teman, lalu membuat topi dan keliling minta sumbangan.

Kegiatan organisasi semasa kelas 3 SMA sampai tahun pertama perkuliahan cukup fenomenal. Aku menjadi ketua pengajian di dusun sekaligus mengajar ngaji di mesjid setempat. Sementara di dusun lain, aku aktif ikut kelompok pengajian tingkat desa. Tingkat kecamatan membentuk kelompok kajian juga dengan aku sebagai ketua. Di SMA juga masih aktif sebagai pengurus OSIS. Bahkan tahun pertama kuliah masih bolak-balik ke kampung karena banyaknya tanggungan kegiatan tersebut.
Apa kaitan dengan belajar menyusun kalimat?
Sebagai ketua, aku mengetik surat undangan sendiri, dengan format kertas HVS dibuat landscape, jadi satu kertas bisa untuk 2 undangan. Bahkan pernah 1 kertas dibuat 4 undangan. Pengetikan master surat harus super hati-hati, agar tidak banyak stippo (cairan putih penghapus huruf). Akhirnya, aku terlatih membuat surat secara cepat dengan format baku seperti : kop organisasi, nomor, hal, lampiran, kepada, isi surat (pembuka, isi, penutup) dan pengirim/pengundang surat.

Setelah mengetik surat, kugaris batas dengan ballpoint dan pergi ke tukang fotocopy. Setiap kertas ditandatangan dan cap sendiri, karena aku ketua merangkap tugas sebagai sekretaris. Ditambah lagi harus keliling ke desa lain untuk menyebarkan undangan pada beberapa teman di sana. Wuah, pokoknya all out. Kok bisa ya waktu itu sesemangat itu. Yah, mungkin karena ada beberapa TTN (teman tapi naksir), belum sampai TTM (teman tapi mesra). Maklum, targetnya cuma ketemu dan ngobrol doank. Tanpa ada gerilya lain hehe.

Awal jadi mahasiswa juga aku hobby mengirim surat kepada TTN, apabila aku habis mengikuti kegiatan besar seperti kemah atau kisah perjalanan. Lucunya, aku sangat membenci tulisan tanganku sendiri. Banyaknya materi yang ingin dituangkan memicu gerakan tangan super cepat dan akhirnya tulisan jelek sulit terbaca.
(lha wong tulisan jelek saja pake alesan sana-sini :p)
Akhirnya aku tulis surat-surat itu dengan mesin ketik olimpia dengan 1 spasi. Setiap surat bisa 6-7 halaman. Benar-benar kayak redaktur majalah hehe.
Alhamdulillah, si penerima surat selalu senang membacanya dan sering menunggu kiriman surat berikutnya dan berikutnya. Jadi TTN-nya cuma sebatas surat-suratan manual. Untuk dibaca butuh jasa antaran perangko pak pos sampai 3-4 hari baru nyampe.

Jaman itu, aku cukup terlatih “mengaduk perasaan” dengan menyusun kalimat dalam puisi-puisi. Satu puisi yang cukup fenomenal adalah tentang cermin, karena konon si TTN itu sempat berlinang airmata saat membacanya. Ngakunya dia lho :p
(mosok fenomenal diukur ketika sukses me-nangis-kan orang lain :p)
Buku diary juga ludesa sampai 3 buku tebal, sekedar menampung catatan pribadiku tentang apa saja. Entah sekarang buku itu nyangkut dimana🙂

Di era internet tahun 1999 (selepas kuliah dan awal kerja), bakat menyusun kalimat ini kulatih dengan chatting ngobrol apa saja dan membuat pesanan puisi secara spontan. Sedangkan di era fesbukan (3 tahun terakhir), bakat menyusun kalimat disalurkan dengan aktif menulis status di fesbuk dan web blog.

Catt : kisah sebelum 1991 ada di Kab Kendal Jateng, setelah itu di Jogja (^_^)

Yogyakarta, 20 Juni 2013

Muhamad Kundarto

2 responses to “autobiografi – Belajar Menyusun Kalimat

  1. saya pengen curhat…gimana caranya…

  2. silahkan tulis di kalom curhat atau kirim ke email saya maskund@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s