Merasa Selalu Kurang

KETIKA jadi petani yang setiap hari ber-panas ria dengan bayaran sangat rendah dan hasil pertanian tergantung musim, hidup bahagia terasa di awang-awang. Setiap hari mengeluh dan merasa kurang. Kadang iri melihat kemewahan dalam tayangan sinetron dan gossip artis. Atau iri melihat keluarga yang anak-anaknya ke luar negeri bisa kirim uang untuk beli kebun dan sawah.

KETIKA jadi TKI/TKW keluar negeri yang mendapat gaji bulanan melimpah untuk ukuran honor/gaji pada pekerjaan yang sama di Indonesia, tetep saja merasa kurang. Apa itu? memang gaji tinggi, tapi harus dipisahkan dengan keluarga dan teman-teman sekampung. Jadwal bertemu hanya 2-3 tahun sekali. Uang yang banyak hanya bisa dikirimkan dan tidak bisa dirasakan sendiri. Belum lagi godaan di tempat kerja, yang kadang malah ikutan membelanjakan dengan pola boros.

KETIKA merantau kerja ke kota, ada kesan “wah” dan dianggap lebih baik dari kehidupan di desa. Faktanya, di kota apa-apa serba mahal. Jika di desa 500 rb bisa untuk sebulan, maka 1,5 juta di kota belum tentu cukup untuk sebulan. Belum lagi di kota tidak tersedia kaplingan warisan kebun/pekarangan untuk rumah. Harga rumah juga melambung tinggi. Kadang terpikir, enak ya hidup di desa, walau pendapatan pas-pas an tapi sudah ada kebun, pekarangan dan ternak sebagai investasi utama keluarga.

KETIKA jadi PNS, orang lain memandang kita sangat beruntung. Betapa tidak, jaminan pensiun menjadi impian banyak orang. Gaji tetap pun mengalir setiap bulan. Namun yang menjalani sebagai PNS sering merasa kurang juga. Hidup dalam kerja rutin, pendapatan yang cenderung tidak ada peningkatan. Kadang iri juga dengan mereka yang berwirausaha, memang tidak ada nama besar, tapi ternyata penghasilannya mengalahkan gaji PNS. Dan ternyata pula PNS juga masih bergelut dengan kredit multitahununtuk bisa beli rumah dan kendaraan.

KETIKA berwirausaha, memang asyik saat banyak order (pesanan), sampai-sampai harus lembur berminggu-minggu. Tapi pada bulan-bulan sepi, hidup terasa gersang dan sangat menderita karena pengeluaran terlanjur banyak setiap bulannya. Apalagi tanggungan beberapa pekerja yang minta honor harian tetap jalan. Kadang pengin juga jadi PNS yang kerja santai, punya gaji tetap dan uang pensiun.

KETIKA jomblo, merasa tidak laku dan hidup seperti sebatangkara di dunia ini. Tapi saat punya pasangan, asyiknya hanya sedikit, banyakan malah konflik. Belum lagi muncul kebosanan dan tertarik pada orang lain. Ada juga yang melampiaskan pada selingkuhan, tapi ternyata tidak cukup selingkuh hanya sekali. Yah, selalu kurang puas dengan apa yang ada. Dan kayaknya sesuatu yang belum dirasakan, terasa lebih menarik dan menggoda !

TERNYATA “Merasa selalu kurang” adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua. Kita sering fokus pada apa-apa yang kurang, dan sering melupakan apa-apa yang sudah ada di tangan. “merasa kurang” itulah yang memicu kita meraih dengan cara apapun, bahkan dengan melanggar norma dan aturan.

TERYATA kepuasan itu letaknya bukan pada apapun di luar badan kita. Kepuasan itu adalah ukuran hati / rasa. Banyak orang terlena memuaskan hati dengan cara memperbanyak “materi” di luar badan. Maka fokuslah untuk memuaskan hati masing-masing, dengan cara meningkatkan rasa syukur kepada-Nya.

Anekdot :
Kita sering membayangkan ingin mempunyai mobil super mewah, tapi kantong sendiri tidak mampu membeli kebutuhan perawatan mobil tersebut, seperti bensin pertamax, pajak tahunan, beaya service dan penggantian suku cadang. Nah Lho !?

Yogyakarta, 21 Februari 2014 pukul 7.20 WIB

Padepokan Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s