CERPEN POLITIK : SIMALAKAMA NYALON LURAH

cerpen politik
—————–

SIMALAKAMA NYALON LURAH

Fulan nekad ingin nyalon lurah. Dia mengumpulkan seluruh harta bendanya, dari sertifikat tanah sampai BPKB kendaraan. Ternyata itu pun tidak cukup, dia harus nyembah-nyembah ke handai tolan sanak kerabat agar diberi pinjaman sekarung uang. Buat apa?
1. Proses pendaftaran membutuhkan uba rampe biar lancar
2. Ketika masyarakat tahu dia akan nyalon, maka berbondong-bondonglah ratusan orang tiap pagi-siang-sore-malam datang ke rumahnya dengan aneka maksud, yaitu : dukungan / makan gratis / golek duit / memata-matai.
3. Fulan tahu persis, suara identik dengan isi amplop. Maka jurus bom-bom-an nyebar amplop sampai serangan fajar juga dilakukan.
4. Fulan juga memakai serangan memecah suara, dengan cara membayar seseorang di basis massa lawan untuk ikut nyalon.
5. Fulan juga harus sungkem sana-sini agar jalan makin lapang.

Hari H pemilihan pun menjelang. Ternyata bukan Fulan dan lawannya saja yang bermain. Ada pihak ketiga, yaitu Botoh taruhan, yang biasanya malah lebih menentukan pasar. Bahkan Botoh bisa ikut nimbrung nyebar amplop dan serangan fajar demi jagonya menang.
Fulan pun terpaku dalam kursi panas menunggu perhitungan. Spot jantung akan terjadi jika suasana “head to head” (satu lawan satu) dan suara bisa salip-salip-an.

Ketika pemenang diumumkan dan Fulan pun menang. Maka Fulan gemetar dan lawannya lemas tanpa daya. Jika lawan menemukan kecurangan, jalur teror dan hukum akan dilakukan. Tapi urusan curang, agaknya fifty-fifty dech. Si lawan lemas karena kehabisan modal dan hutangnya bertumpuk tak tahu kemana mencari dana untuk membayarnya. Sementara itu si Fulan walau menang, dia gemetar, karena baru tersadar bahwa kemenangan itu tidak gratis, tapi juga menumpuk hutang yang sama besarnya. Gemetar harus dia jalani sampai masa kerja karena berpikir keras “piye carane golek balen”.
Fulan jadi berandai-andai,
Andai proses politik itu gratis, tentu dia bisa bersih tanpa beban.
Atau proses seperti sekarang ini, tapi dia sudah kaya raya sejak lahir, jadi harta bukan tujuan dia mengabdi pada negara, karena di gudang sudah berkarung-karung uangnya.

Ah, si Fulan memang bisanya bermimpi.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s