MENILAI DAN MEMAKNAI TULISAN ORANG

MENILAI DAN MEMAKNAI TULISAN ORANG LAIN

Kita sering bertemu atau membaca tulisan orang, baik berupa artikel, komentar, tulisan status, dll. Tanggapan kita seperti apa, bagaimana menilai dan memaknainya; berikut ini urutan penalarannya.

1. Menilai tulisan atau penulisnya? ini bisa berbeda. Bisa jadi karena tulisan jelek tapi suka dengan penulisnya, maka tulisan akan dianggap bagus banget. Sebaliknya, tulisan baik tapi sudah terlanjur tidak suka pada penulisnya, maka apapun tulisannya 90% akan dikatakan jelek.
Nasehat bijak :
Jangan terjebak pada siapa yang berkata, tetapi apa yang dikatakannya.
Mengapa?
Karena dari mulut seorang penjahat bisa keluar kata-kata suci. Demikian pula dari mulut orang yang dianggap bijak, bisa keluar kata-kata kotor.

sekarang fokus ke tulisan saja ya….

2. Ketika seorang penulis melemparkan karyanya ke publik, pasti ada yang pro (suka) dan kontra (tidak suka). Alasan publik memang beraneka, tetapi dapat disederhanakan dalam logika pengajaran guru pada muridnya sebagai berikut :
Dalam kelas ada seorang guru dan 30 orang murid. Jika pengajaran guru itu bisa diterima oleh 25 orang dan 5 orang tidak paham, maka pengajaran dianggap berhasil. Tetapi jika sebaliknya, 25 orang tidak paham dan hanya 5 yang paham, guru itu harus instropeksi diri, mungkin ada yang salah dalam metode mengajarnya.

3. Menilai baik dan buruk terhadap tulisan harus dijelaskan pada bagian mana, sehingga mudah dikupas mana kalimat yang kurang pas. Jadi pembahasan pada kalimat per kalimat. Jika keluar penilaian “pokoknya tidak suka semua” maka indikasi penilaian ini lebih terbawa perasaan. Seperti kalimat dua sejoli yang salah satunya berucap “kamu itu sekarang menyebalkan”, maka ini adalah ungkapan emosional dan sulit dibahas tingkah mana yang menyebalkan. Apalagi jika jawabannya “pokoknya semua menyebalkan”.

4. Penulis yang baik adalah berusaha mengungkap fakta, seberapapun pahitnya. Bisa fakta diri, fakta orang lain, maupun fenomena sosial dan alam. Pengungkapan fakta diri dibolehkan selama penulis siap diketahui publik bahwa dia ini dan itu. Namun fakta orang lain sebaiknya tidak mencantumkan nama asli agar privacy-nya terjaga. Penulis yang terlalu jaim (jaga image) dan cenderung mengumbang kebohongan publik, ini ibaratnya menanam bom waktu, yang pada saatnya akan bisa dipermalukan apabila publik tahu fakta sebenarnya bertolak belakang dengan tulisannya. Misalnya tulisannya bijak, tapi faktanya ada yang melihat dia amat sangat tidak bijak.

5. Ada tulisan yang mudah dicerna secara tersurat, tapi ada juga yang butuh perenungan karena banyak kata bermakna yang ditulis tersirat, misalnya tulisan filsafat kehidupan, pemahaman hakekat, dan puisi. Kacamata awam akan mudah menangkap makna tersurat, tapi sedikit yang bisa memaknai yang tersirat.


Ketika awal belajar menulis, biasanya akan tidak percaya diri karena kritikan cenderung lebih banyak dari pujian. Saya pun begitu. Namun nasehat dari 3 orang sesepuh memotivasi yaitu “the show must go on” atau teruslah menulis dan menulis, nanti akan ketemu ritme yang pas. Dan akhirnya sebagian besar publik bisa menerima tulisan itu, bahkan menunggu tulisan-tulisan berikutnya. Tapi, tak mungkin juga 100% suka semua.

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s