PUISI next

Kumpulan Puisi lanjutan…….

KATANYA MENUNGGUKU

Pertemuan demi pertemuan
Pandangan demi pandangan
Bait kata terujar penuh makna
Langkah berdua seakan tertuju sama

Kami dalam keluguan cinta ingusan
Ingin bertemu sepanjang waktu
Tanpa tahu kenapa begitu
Hanya senyuman slalu jadi penantian

Suatu kesempatan
Kami duduk di rerumputan
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Suatu kesempatan
Kami berjalan membedah malam
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Sampai waktu terus berjalan
Sampai jarak yang memisahkan
Sampai bulan berganti tahunan

Ketika aku tidaklah sendiri
Sedang menapaki pulau seberang
Terdengar dering penantian
“katanya engkau menungguku….”

Begitu lemah penuh pengharapan
Sukmaku menerawang kelu
Tanpa mampu berucap pembelaan

Walau dulu tiada perjanjian
Namun rasa mengalahkan segala
Semoga semua jadi keabadian
Semoga semua jadi kebahagiaan

Ki Asmoro Jiwo

CARIKAN AKU SEPERTIMU

Dawai kisah masa lalu
Menyeruak dalam angan kosong
Ketika keluguan mewarnai langkah
Antara mau dan senyum tersipu

Kadang aku tersenyum ragu
Mengapa langkahku serba lugu
Selalu kalah dalam kesigapan peran
Hingga menerima uluran tanganmu

Waktu terus berjalan sendu
Sering kita bicara antar hati
Walau terbatasi jendela berjeruji
Tapi mesra menyusup pasti

Sampai suatu ujung perpisahan
Ketika kita mengambil jalan berbeda
Engkau memohon penuh tersirat
“Carikan aku sepertimu…..”

Berasa kelu lidah terucap
Tiada kata pas kan terlontar
Sendu hati memaknai ucapmu
Duka menyusup dalam batas antara

Lepas waktu melewati sewindu
Ketika langkah menemukanmu
Santun kutanyakan kabarmu
Tapi engkau lupa permohonan nan lalu

Sementara aku sangat mengingatnya
Walau bukan janji bersama
Sementara aku mengukir prasasti rasa
Meramu kasih dalam doa-doaku

Ki Asmoro Jiwo

Bunda Malam

Malam…
Ketika selimut sepi menemani hari-harimu
Keceriaan itu hanya pengalih rasa
Senyum itu mengguratkan duka

Malam…
Mungkin engkau selalu kelihatan ceria
Seakan semua berjalan tanpa cela
Sampai langkah tegap mengukir makna

Malam…
Ketika waktu tergelincir pagi
Kegelisahanmu makin menjadi
Bahwa semua hari kian sepi

Malam…
Engkau ingin tersenyum manja
Bersama orang-orang tercinta
Bukan sekedar kata bersambut kata

Kala Sejenak Kita Merenung

ini hari ulangan yang ke sekian windu
dimana awal tahun dahulu kala
sudah terhitung ratusan tahun
sebelum masehi menjadi hitungan
sebelum hijriah menjadi patokan

kala sejenak kita merenung
betapa perjalanan umat manusia
dari generasi lintasi zaman
sering tiada lagi tali komunikasi
kecuali yang tersirat dari prasasti

kala sejenak kita merenung
aku dan kamu bagian dari semua itu
menikmati, lalu tergilas sejarah
jangan bermimpi orang mengingatmu
karena mereka senasib denganmu

kala sejenak kita merenung
“prasasti” apa yang tlah kita ukir?
warisan apa yang akan kita tinggal?
kata diam dalam keheningan jadi jawabnya

 

 

Siap Menang, Siap Kalah
Ketika ajang pertandingan dimulai,
Ketika waktu pemilihan suara dimulai,
Banyak orang mengaku pantas untuk menang
Banyak orang tak percaya akan kalah
Ketika logika sayembara mengumandang
Dimana pemenang hanyalah satu
Dimana yang kalah lebih dari satu
Suara pro dan kontra sontak meradang
Yang menang, tak siap untuk menang
Merasa tak perlu merangkul yang kalah
Merasa meraih menang tanpa fitnah
Merasa bisa berbuat apapun dengan kekuasaan
Yang kalah, tak siap untuk kalah
Mencoba mencari kelemahan pemenang
Mencobati menyusun aksi pemboikotan
Merasa lepas dari semua tanggung jawab
Mengapa yang menang dan kalah saling mendiamkan
Bukankah permainan hanya persitiwa biasa
Mengapa permusuhan menjadi episode lanjutan
Bukankah agenda suci banyak yang menanti
Mengapa kita paling hoby untuk mencaci
Mengapa kita suka memupuk permusuhan
Semua terjadi bukan karena mereka
Semua terjadi akibat emosi diri
Marilah membangun dengan cinta
Pemenang punya kelemahan, butuh bantuan
Yang kalah punya kelebihan, butuh rangkulan
Sang mantan punya sejarah, untuk belajar hikmah
Sangatlah memalukan suatu kaum
Ketika asyik dengan pertempuran sesama
Ketika lupa menatap tantangan di muka
Ketika iri-dengki menghancurkan cita-cita
Mari siap untuk menang, siap untuk kalah
Jadilah yang terbaik dalam melangkah
Cerita anak cucu menantikan baktimu
Wahai orang-orang yang bermutu
Yogyakarta, 16 Feb 2010 pukul 12.23 WIB
————————————
MENCARI DALAM GENGGAMAN

 

 

 

Ikan bertanya, dimanakah air itu berada

Hewan bertanya, dimanakah bisa melihat udara

Manusia berkeluh kesah, dimanakah mencari bahagia

Saat pengemis dan pengamen mengharap belas kasihan

Saat sang penguasa mengharap kekalnya kehormatan

Saat politikus mencari jalan putih dari yang hitam

 

Kenapa kita sibuk mencari yang sudah ada

Mencari barang yang ada dalam genggaman

Saat ada, tidak pernah dimanfaatkan

Saat hilang, selalu merasa kehilangan

 

Kebahagiaan bukan dari harta yang menggunung

Kebahagiaan bukan dari kekuasaan tanpa saingan

Kebahagiaan bukan karena terlahir dari darah biru

Kebahagiaan itu dari dan ada dalam hatimu

(3 buah puisi di bawah ini khusus buat anak-anak)

BAKTIKU
Terbayang kasih sayangmu, Ibu
Terkenang perlindunganmu, Ayah
Sungguh aku bangga menjadi anakmu
Sungguh aku bahagia bersama waktu
Aku ingin jadi anak berbakti
Kepada orangtua dan ibu pertiwi
Aku ingin orangtuaku bangga
Melihatku berprestasi dan jadi juara
Aku selalu berdoa,
Ya Allah, berikan limpahan pahala kepada Ayah-Ibu
Ya Allah, berikan kesempatan menunjukkan baktiku
Ya Allah, bahagiakan keluarga kami
Ya Allah, kepadaMU aku memuji
AYO BERJUANG
Pahlawanku,
Engkau telah gugur di jaman dulu
Engkau korbankan nyawa untuk negara
Engkau wariskan kami, Negeri nan kaya
Gemah ripah loh jinawi,
Tata tentrem kerto rahardjo
Kami anak bangsa,
Siap berjuang mengisi kemerdekaan
Siap belajar menuju prestasi dunia
Kami anak bangsa,
Selalu beribadah dan bertaqwa
Selalu berjuang untuk bangsa dan negara
MUTIARA HIDUP
Tuhanku,
Engkau berikan orangtua yang mengasihiku
Engkau limpahkan nikmat tak terukur waktu
Engkau ampunkan dosa dengan taubatku
Tuhanku,
Berikan waktu untuk mengukir ibadahku
Berikan jalan untuk menempuh ilmu
Berikan cinta kepada semua ummatMU
Tuhanku,
Aku ingin menjadi mutiara hidup
Aku ingin membahagiakan orangtua
Aku ingin belajar dan berprestasi
Tuhanku,
Kabulkan doa dan harapanku… .
————
PERJUANGAN KAUM HAWA

GERSANG

Meradang jalan mencari pemuasan

Menerjang segala halang rintang

Meniti jalan dalam halusinasi cinta

Kadang rasa terjebak stagnasi

Mimpikan cinta dalam sepinya diri

Duka menyusup pusat ragawi

Wahai malam yang slalu menemani

Datangkan jiwa pengobat sepi

Bangkitkan lunglai songsong mentari

———————–
CERMIN HATI
Kadang maksud hati ingin berbagi
Betapa cermin hati kadang menyapa
Betapa cinta kadang harus mendua
Betapa makna tergantung kata siapa
Alangkah sedih dan bimbang menerpa
Jika pikiran dan hati beda maunya
Jika mimpi tak pernah jadi fakta
Jika tubuh di sini, rasa di sana
Berkata benar tidak selalu dari orang suci
Berbagi cinta tidak untuk menebar pesona
Berbagi emosi bukanlah jalan anarki
Rangkaian kata datang,
Ketika hakekat menyusup qalbu ini
Rangkaian cerita terucap,
Ketika keunikan menjadi jalan berbagi
Mari belajar menjadi diri sendiri
Mari berpikir tentang ciptaan Illahi
Mari berbuat dengan niat melayani
————————-

Kami bukan sekedar bisa masak, macak dan manak
Bukan pula hanya kawulo wingking sang suami

Kami adalah sigaraning nyawa suami
Kami penanggungjawab cetak-biru generasi
Kami berjuang tanpa kenal ruang
Kami berjuang tanpa kenal waktu

Mungkin pandangan hanya sebelah mata
Terhadap fisik yang lemah dibanding pria
Namun kelembutan dan kasih sayang kami
Melahirkan para pemimpin di bumi ini

Kami ingin berjuang dalam kesejajaran
Mari membagi porsi sesuai kemampuan
Membagi kelebihan, tuk menutup kelemahan
Menebarkan cinta, tanpa memandang strata

Kami ingin mengisi kemerdekaan
Dengan pemikiran dan perbuatan
Tuk menuju pembangunan yang diidamkan
Keadilan yang merata dan kesejahteraan

—————————–

SEDIH ITU….. (puisi buat Suci)


Ketika jalan panjang arungi bersama
Terbentang mendung ragukan harapan ini
Entah esok khan bisa bersama lagi
Kala rindu kadang menusuk diri

Aku tak bisa pungkiri hati
Betapa cinta ini masih khan bersemi
Walau kadang kau katakan pergi
Walau kadang aku merasa sendiri

Sedih itu
Untuk memulai jalan ini
Mencari dan mencari semua cinta
Sambil berharap langit berpelangi

Sedih itu
Awal dari semua bahagia
Walau kadang tetes air mata mengering
Walau kadang mimpi penuh derai tangis

Aku berharap dalam sepi
Menanti gapai rengkuhan tangan mesramu
Aku nanar tengadahkan doa
Semoga jalan kita kembali bersama

———————————————-

3 responses to “PUISI next

  1. siang bapak saya mau nanya, bapak ini statusnya dosen inmu tanah apa dosen sastra or filsafat yach???

  2. kata orang pintar, seimbangkan otak kirimu dan otak kananmu. saya sedang belajar menuju ke sana. sisi ilmiah jalan, sisi seni jalan, sisi batin juga jalan. makanya isi web ini jadi sangat bervariasi.
    menulislah apa saja, asal tidak menyakiti orang lain. toh pembaca akan cermat mana tulisan kita yang disukai akan dibaca khan…….
    terima kasih

  3. puisi buat Suci. Suci itu siapa mas Kun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s