Ki Asmoro Jiwo

Belajar Mandiri

November 10, 2009 · Leave a Comment

Bayi terlahir dari buah kasih kedua orangtuanya. Sang Bayi tumbuh menjadi Balita. Mulailah Sang Balita belajar mandiri dengan berusaha berdiri di atas kedua kaki sendiri, walau awalnya perlu dipegang dan atau pegangan. Setelah berdiri, Sang Balita belajar berjalan di atas kaki sendiri.

Umur bertambah, pelajaran mandiri pun semakin beraneka dan kompleks. Si anak yang sudah bisa berjalan, akan berusaha mempelajari seluruh benda-benda se-isi rumah. Selanjutnya mengamati fenomena di sekitar rumah, kemudian tetangga, kemudian lebih jauh lagi. Dan seterusnya.

Proses seorang anak dalam mencari pasangannya, dari sekedar pacaran sampai pernikahan, adalah proses pembelajaran menuju kemandirian. Namun sangat ironi apabila langkah menuju kesana tidak diimbangi dengan jiwa/mental yang mendiri.

Fenomena sebagai manusia, Kita melihat banyak orang libidonya begitu besar untuk mencari pasangan, tapi pulang ke rumah, makan saja masih disuapi, apa-apa masih dikerjakan orangtuanya. Kita melihat banyak orang siap membuat anak (baca: ML), tapi ternyata tidak siap merawat anaknya. Jadilah kakek-neneknya sibuk mengurus cucu barunya. Kita melihat banyak orang mendambakan punya anak, tapi ternyata tidak siap membersihkan si bayi dari pipis dan buang air besar, dan sekaligus mengganti popoknya. Kita melihat banyak orang siap mandiri jadi anak kos, tapi bawaan di rumah yang selalu dilayani oleh orangtua dan para pembantu. Jadilah kamar kosnya bak kapal pecah. Kita melihat, banyak mahasiswa menjadi kutubuku dan berharap hidup sukses, namun ternyata tidak siap untuk gagal dan maunya langsung sukses. Padahal belajar berdiripun pasti pernah terjatuh.

Fenomena sebagai pemimpin wilayah, Kita melihat banyak daerah kabupaten menuntut otonomi sebagai pengejawantahan proses kemandirian. Ironisnya malah lupa pada pencapaian kemandirian bangsa dan negara. Mereka asyik mengeksploitasi sumberdaya tanpa mau tahu dampaknya. Mereka asyik merasa mandiri, padahal di sekitarnya banyak membutuhkan produknya.

Kita melihat bangsa ini bermimpi mandiri, tapi asyik impor, asyik pula pengelolaan sumberdaya diberikan kepada perusahaan asing. Betapa banyak pangan kita yang produk impor. Berapa banyak perusahaan tambang skala nasional yang dikelola secara mandiri. Memang sich, ada slogan Desa Mandiri Energi dan Desa Mandiri Pangan. Tapi jangan-jangan malah si desa itu dididik untuk tidak butuh desa lain, sebagai penerjemahan ‘mandiri’.

Kita melihat para penegak hukum sering mengatakan “kita bekerja secara profesional”, semoga maksudnya “mandiri dari tekanan dan intervensi”, bukannya “pandai mengarahkan berbagai kepentingan” hehe. Kita juga melihat pengacara super pandai bersilat kata, semoga mereka mandiri membela keadilan, bukannya percaya diri setelah suap sana dan suap sini.

Kita juga berharap para politisi punya prinsip berdasar nurani. Bukan ‘katut angin’ (terbawa angin), kemana suara media memberi justifikasi. Celakanya media juga kadang kurang mendiri, karena terbawa slogan “menggoyang yang mapan, dan membela yang tertindas”, jadi bukan dasar kebenaran.

Belajar mandiri telah dimulai sejak bayi. Apakah saat ini kita mandiri dalam segala hal? termasuk mandiri dalam menjalin komunikasi dan kerjasama, bukan mandiri diartikan “hanya untuk kepentingan diri sendiri”, karena hakekat perbuatan adalah untuk kemaslahatan semesta.

Padepokan Ki Asmoro Jiwo ing Ngayogyakarto, 10 November 2009

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Sosial

Cuci Otak

November 2, 2009 · Leave a Comment

Secara sederhana, watak manusia terbagi menjadi 2, yaitu pendiam dan periang. Pendiam lebih enjoy jika bekerja sendiri. Periang lebih suka kerja di tengah kerumunan. Sifat dasar ini akan bervariasi berdasar pengaruh jenis kelamin, umur, silsilah kelahiran dan lingkungan masa kecilnya. Ramuan watak dasar ini sering disebut ‘gawan bayi’ (bawaan orok). Watak dasar ini akan sangat sulit hilang, tapi bisa 90% berhasil dengan satu cara : Cuci Otak.

Cuci otak bukan dikonotasikan istilah biologis, tapi lebih tepat pada istilah psikologis. Terapi kejut (shock teraphy) yang sering diberikan mampu menggoncangkan keyakinan peserta (baca: korban cuci otak). Orang yang penakut bisa jadi pemberani, atau sebaliknya. Orang yang jujur bisa berubah menjadi jahatpenuh tipu muslihat, atau sebaliknya. Intinya, cuci otak akan dilakukan dengan target hasil sesuai harapan ’si sutradara’.

Bagi ladang penempaan prajurit, target akhirnya adalah membentuk prajurit yang punya jiwa nasionalisme di atas segala urusan, bahkan rela mengorbankan nyawa demi membela negara. Sehingga ada istilah “kontrak mati”, artinya siap bekerja apa saja sesuai komando dengan taruhan nyawa. Mereka tercetak untuk bagaimana menang perang, termasuk mampu membunuh musuh tanpa belas kasihan. Namun begitu, manusia tetap punya rasa, sehingga dalam tugas sering disiasati agar seminimal mungkin menimbulkan stress tinggi. Misalnya pasukan penembak hukuman mati, konon tidak semua senjata ada pelurunya, dan itu dirahasiakan. Jadi petugas tidak merasa bersalah berkepanjangn. dll.
Jika diingat, banyak karakter sebelum masukpenempaan, tapi saat lulus, hampir semua berkarakter sama, yaitu disiplin dan semangat juang tinggi.

Bagi seorang marketing, sangat penting menguasai teknik mempengaruhi orang lain untuk membeli produk yang dia tawarkan. Tahap mempengaruhi ini mirip dengan upaya cuci otak. Maksudnya, apapun minat si calon pembeli, akan segera tercuci bersih dan berubah menjadi berminat pada penawaran si marketing. Tahap yang ganas adalah model hipnotis atau gendam. Tahap yang halus adalah hipnoselling. Jualan yang wagu adalah langsung menawaran produk. Jualan yang cerdik adalah ‘berangkat’ dari topik pembicaraan yang diomongkan calon pembeli, kemudian dengan cerdik (argumentatif-persuasif) dibelokkan ke menariknya produk si marketing.

Bagi pelaku bom bunuh diri, bukan terbayang rasa sakit dan kematian atau dosa apabila dia melakukannya. Pelaku bom bunuh diri sudah dicetak paham sebuah kebanggaan berkorban nyawa atas pekerjaan mengajak mati banyak orang yang dianggap mulia oleh dirinya. Bahkan pelaku bom bunuh diri meyakini bahwa setelah mati dia akan masuk syurga.
Biasanya doktrin yang bersifat keyakinan sangatlah ditanamkan, seperti yakin pada agamanya, yakin pada negaranya, atau yakin pada pemahaman tertentu.

Bagi pegawai instansi yang suntuk dengan keseharian, mereka suka mengadakan meeting di puncak atau tempat-tempat wisata. Katanya sekedar mendinginkan otak dari kesibukan harian yang membikin stress. Jadi tahap meeting dipuncak ini juga bagian dari tahapan cuci otak atau me-refresh daya pikirnya.

Banyak sekali model cuci otak yang ada di sekitar kita. Bahkan kegiatan jurit malam juga mirip ke arah cuci otak. Betapa malam-malam ketika terlelap, dibangunkan secara mendadak. Kaget. Ketakutan. Tertekan. Dipermalukan. dll. Dengan cara dibentak, dimarahi, disalahkan, dst-nya. Kemudian dimasukkan doktrin sesuai ramuan ’si sutradara’. Celakany bila paham yang dimasukkan menyimpang. Kondisi ‘otak tercuci’ ini bisa lupa benar-salah. Semua doktrin bisa dianggap benar. Maka jangan sampe kita “ngunduh wohing pakerti”(memetik buah yang kita tanam) dengan paham yang keliru. Bisa-bisa akan terjadi paham menyesatkan secara turun temurun. Makanya sangat penting memastikan bahwa proses dan instruktur yang melaksanakan sudah terjamin kualitasnya.

Bahkan dengan proses cinta pun kita bisa masuk jebakan cuci otak ini. Kita tanpa sadar seperti kerbau yang dicocok hidungnya manakala orang yang kita cintai menyuruh kita berbuat sesuatu. Demi pacar, orangtua pun dilawan. Demi pacar, tantangan demi tantangan dilalui dengan semangat berapi-api. Bahkan banyak juga yang tanpa sadar mau melakukan tindakan bodoh yang tidak perlu, seperti mengorbankan harga diri, dll.

Begitu juga proses pendidikan di pondok, training keorganisasian, training masuk kerja, dll. Kesemua proses cuci otak ini sangat diperlukan agar si peserta mampu tercetak sesuai lingkungan baru yang diharapkan.

Sangatlah penting mencermati apabila kita sebagai peserta atau panitia atau instrukturnya. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal, bahwa langkah hidup kita pernah terlibat mencetak kader-kader yang paham-paham yang ketika ditanyakan pada hati nurani, kitapun mengakui kalo paham itu tidak pantas dan membahayakan iman dan akhlaq orang lain; serta jauh dari insan yang bermartabat baik secara vertikal (habluminallah) maupun horizontal (habluminannash).

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 2 November 2009

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Kampus · Sosial

Mendidik Anak di Jaman Fesbuk

November 1, 2009 · 2 Comments

Siapa sich yang gak senang ketika melihat anaknya duduk manis di rumah? sehingga orangtuanya tenang bekerja di tempat yang jauh dari rumahnya.

Mungkin ini anggapan tempoe doeloe, ketika pemahaman “di rumah” dikonotasikan hanya bermain di sekitar rumah dengan teman atau menonton TV bersama penjaga rumah. Namun saat ini, dimana hampir setiap anak punya HP (handphone), dan bahkan bisa ber-fesbuk-ria; maka anggapan di atas perlu dicermati secara hati-hati.

Memang benar si anak (baca: tubuh/fisik) berada di rumah, bahkan sering asyik di kamar sendirian sambil memainkan HP-nya. Apa yang dia lakukan? ternyata sedang asyik curhat atau berbagi rasa dengan teman-teman seantero jangkauan pertemanan yang dia lakukan di seluruh penjuru bumi ini. Sepuluh tahun lalu memang ada demam chatting mIRc, namun hampir selalu dilakukan di Warnet karena fasilitas internet masih terbatas.

dengan fasilitas masa kini, dimana berinternet – termasuk fesbuk – dapat dilakukan dengan HP yang bisa ditenteng kemana. Lalu muncul slogan : “ditinggal orang tua sehari gak apa-apa, tapi gak pegang HP sehari, wow ! dunia terasa sepi bin sunyi”.

Mungkin semua sepakat bahwa saat ini sebagian besar orang sudah keranjingan HP dan fesbukan. Termasuk juga mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Bahkan murid-murid SD juga sudah ‘dilatih’ oleh orangtuanya agar membawa/memakai HP dengan alasan sederhana “agar saat dijemput dari sekolah, mudah koordinasinya”. Semisal “Kamu dimana nak? Papa sudah hampir sampai di sekolah nich. Tunggu Papa di depan gardu Satpam yaaa..”.

Tapi, sadarkah orangtua bahwa si anak sudah dipasrahkan pendidikannya kepada ‘pembantu’ yang bernama HP bin fesbuk ini? sadarkah bahwa diam-diam mereka lebih sering berkomunikasi dengan khalayak daripada kepada orangtuanya sendiri. Bahkan dalam kegiatan sehari-hari yang notabene bersifat pribadi, seperti mandi, makan, bangun tidur, suntuk, dll. Mereka menjadikan media fesbuk sebagai “orangtua” berikutnya. Celakanya lalu lintas komunikasi di fesbuk mirip seperti celoteh orang di pasar, dimana semua komentar, dari yang wejangan sampai umpatan kasar lengkap.

Semua ini dapat berdampak pada sebuah proses ‘pendidikan’ yang tidak jelas aarahnya kemana. Bahkan bisa jadi orangtua akan terpana karena si anak berubah watak/karakter secara drastis. Bagaimana cara kita mendidik anak-anak yang sudah kecanduan fesbuk atau media komunikasi online lainnya??

Pertama, tentu orangtua dan guru/dosen harus memahami seluk beluk fesbuk cs ini. Paham apa itu pesan dalam status, chatting, group, dll.

Kedua, pendidik harus memantau setiap waktu bagaimana perkembangan psikologis si anak dalam fesbuk cs ini. Misalnya dengan mencermati komentar-komentarnya dalam status. Mungkin dia sedang sakit, sedih, patah hati, senang, marah, dll. Kita juga perlu melihat pertemanan dia dengan siapa saja, apa komentar teman-teman tentang dia. Dari sini kan kita bisa ‘mengukur’ sejauh mana pergaulan dan karakter teman-temannya.

Ketiga, pendidik bukanlah hakim, yang reaktif memberikan teguran atau sanksi manakala si anak terlihat mulai menyimpang. Pendidik harus koreksi diri, mungkin banyak metode dan aktifitas pendidikan yang tidak tepat sasaran. Pendidik harus multikarakter untuk membuat ramuan ‘obat’ yang tepat. Bila anak berprestasi, cepatlah beri penghargaan, minimal pujian. Bila anak melanggar, cepatlah memberikan solusi. Misalnya ketika tahu si anak curhat ke teman-temannya bahwa dia butuh sesuatu, maka pendidik atau orangtua cepat memberikan sesuatu tersebut, atau minimal memberi tahu kemana mendapatkannya.

Keempat, pendidik sering menggunakan media pembelajaran dengan sarana iptek yang menarik buat anak-anak jaman kini. misalnya film dokumenter, animasi, dll. Bisa jadi memberikan pesan secara online (email dll) kepada anak didik, akan lebih berkesan daripada diomongkan secara langsung. Dan si anak pun lebih leluasa mengemukakan pendapatnya.

Demikian, Silahkan bagi yang berkenan mengoreksi atau menambahkan.

→ 2 CommentsCategories: Kampus · Sosial

Padepokan Asmoro Jiwo

October 28, 2009 · Leave a Comment

Mentari pagi menyusup diantara kabut yang dingin menusuk. Ayam jantan berkokok di kejauhan menyambutnya. Angin sejuk menerpa, membagikan ketenangan dan cinta semesta. Ki Asmoro Jiwo duduk khusyu menikmati keindahanNYA. Pandangan matanya menyapu panorama pagi di sekitar Padepokan, sambil sesekali menatap jauh ke atas puncak Gunung yang masih terselubung kabut.

Pondok bambu kombinasi bambu petung dan bambu kuning menghias di depan rumahnya. Pondok berupa panggung ini tepat berada di atas aliran sungai kecil dari meta air pegunungan. Air nan jernih dan gemericiknya menerpa bebatuan, membentuk suara nyanyian alam, sering mengantarkan lamunan Ki Asmoro Jiwo pada keindahan semesta yang tanpa batas.

Duduk dengan ditemani secangkir teh panas dan ubi rebus. Kadang pandangan tertarik pada beberapa semut yang berjalan beriringan menyusuri bambu pondokan. Seakan asyik dalam kebersamaan. Terkadang pula datang serombongan burung, hinggap di pohon beringin tua yang menaungi pondok itu. Kicauan burung yang bersautan, seakan mengajak bercengkerama hati akan dunia yang fana ini.

Ki Asmoro Jiwo sering menerima tamu dengan berbagai masalah yang di bawanya. Namun hampir kesemuanya membawa masalah kesedihan. Jika sedang senang, biasanya orang memang sulit berbagi, kecuali sekedar perayaan pesta. Jika sedang sedih, hal wajar orang akan merasa sendiri di dunia ini dan memanggul tulisan “help me please!”.

Padepokan ini serin menjadi saksi bisu, betapa sangat beragam para tamu yang datang. Ada yang bertanya hal ikhwal kehidupan, cinta, pergaulan, rumah tangga, alam, pengobatan, dll. Ki Asmoro Jiwo selalu berusaha menerima tamunya dengan baik. Bahkan secara jujur selalu mengatakan kepada para tamu bahwa dia tidak bisa apa-apa. Namun Ki Asmoro Jiwo akan berusaha menjadi teman yang setia mendengarkan apapun permasalahannya. Sering sang Tamu malah menemukan sendiri solusi masalah, setelah dia curhat habis-habisan. Sering juga Tamu merasa iri ingin seperti Ki Asmoro Jiwo yang tenang dan murah senyum, seakan tidak ada masalah berat. Ki Asmoro Jiwo lalu menjawab : “anggap saja masalah saya ringan, tapi dengan banyaknya tamu untuk berbagi cerita, otomatis sayapun sering larut pada judul-judul mereka juga. saya berusaha menjadi bagian tubuh mereka”.

 Ki Asmoro Jiwo memang bukan manusia sakti dengan benda pusakanya. Satu-satunya benda yang menemaninya adalah tasbih biru berbutir 61 dan bagian ujung terdapat 2 butir. Tasbih ini pemberian gurunya Ki Pasir Angin. Pernah dia menanyakan jumlah butir-butir itu, kenapa tidak 99 atau 33. Kebanyakan tasbih milik gurunya jumlahnya beragam. “Jangan terjebak pada jumlah, karena bacaan ikhlas itu bukan karena jumlahnya,” Jelas Ki Pasir Angin waktu itu. Ki Asmoro Jiwo sering merenungkan wejangan itu. Sehingga dia sering menyuruh kepada para tamunya “Bacalah sampai kamu lupa sudah membaca berapa banyak, dan kamu tidak mau mengingat berapa banyak, karena kamu sudah larut pada keasyikan membaca bacaan itu…”.

Bekal Ki Asmoro Jiwo melayani tamu tidaklah banyak. Bekal pertama adalah pemahaman ilmu watak manusia yang didasarkan pada jenis kelamin, silsilah keturunan, umur, dll. Secara sederhana watak dapat dikelompokkan hanya 2 jenis, yaitu pendiam dan periang. Kemudian diurai pada beberapa watak turunan dan kombinasi. Kajian watak inilah yang mendasari semua solusi. Masalah sama, orangnya berbeda, bisa berbeda solusinya. Bisa juga masalah beda, orangnya sama, ya berbeda pula. Ada tamu yang senang diajak bercanda mulu. Ada juga yang harus dihadapi dengan diam dan khusyu.

Ada juga tamu yang datang minta pengobatan. Ki Asmoro Jiwo selalu menekankan bahwa manusia harus berusaha dulu, lalu berdoa. Dalam usaha harus terpenuhi syarat rukunnya. Tentang sembuh atau tidak, goal penentu adalah dariNYA. Obat bisa beraneka, kadang obrolan bisa menjadi obat, kadang air putih, kadang doa bersama, kadang perlu penanganan medis, dan seterusnya. Ki Asmoro Jiwo sering memberikan wejangan “obat ini hanyalah media, marilah sama-sama berdoa, saya bantu. Apabila sembuh, artinya doa kita terkabul. Tapi bisa juga belum akan sembuh, karena semua atas kehendakNYA, tapi kita kan sudah berusaha”.

Demikianlah hari-hari dijalani berteman Padepokan yang menyejukkan dan banyak memberikan inspirasi. Jalan kehidupan harus terus dilalui, sampai tugas di muka bumi ini mencapai titik finish.

→ Leave a CommentCategories: Kahuripan

Bagaimana Memilih dan Memelihara Pasangan

October 6, 2009 · Leave a Comment

Tiap orang mendambakan kriteria yang ideal buat pasangannya. Dari ukuran wajah, anggota tubuh, materi, sifat, dll; kesemuanya punya alasan tersendiri. Namun banyak orang juga terlalu gegabah menentukan pasangan tanpa berkaca pada kondisi dirinya sendiri. Ibarat bernafsu beli kulkas padahal di desanya belum ada listrik. Ibarat pengen punya HP padahal di desanya belum ada sinyal yang masuk.

Artinya, menentukan pasangan harus disesuaikan dengan SIAPA yang dipasangkan. Makna pasangan artinya separoh bagian yang harus ‘klik’ manakala dipasangkan dengan bagian yang lain. Boleh jadi perhiasan emas permata sangat cocok dipakai, tetapi menjadi tiada bermakna apabila si pemakai menjadi pertapa (baca: bertahun-tahun tidak ketemu orang lain). Makna hakekat perhiasan adalah untuk dipandang oleh orang lain.

Boleh jadi orang yang cerdas, banyak ide dan hoby memerintah adalah pasangan yang menarik; tetapi menjadi kontraproduktif apabila pasangannya juga mempunyai karakter yang sama. Jadilah tiap hari bersitegang karena sama-sama ingin memerintah dan tidak mau diperintah. Maka dicarilah kriteria pasangan yang saling melengkapi.

Karakter umum lelaki adalah suka terima tantangan dan mudah bosan pada kemapanan. Karakter umum perempuan adalah suka menjaga kemapanan dan sering tidak berani mengambil resiko yang terlalu besar. Kriteria yang lebih spesifik ibarat Im-Yang, dingin-panas, pendiam-cerewet, manja-mengayomi, keras kepala – lembut/penyabar, dll.

Sebelum menentukan bagaimana pasangan, lebih baik secara tepat MEMBACA diri sendiri. “Menurut anda, siapakah anda ini?” begitu pertanyaan awal yang harus dijawab oleh batin secara tulus ikhlas. Langkah berikutnya menentukan karakter yang pas dan saling melengkapi dengan karakter diri sendiri. Karakter orang juga tidak boleh monoton, karena salah satu sifat manusia dan merupakan bawaan orok adalah “manusia mudah merasa bosan”.

Maka, dibutuhkan kedinamisan sifat dengan bentuk perubahan menyelaraskan perubahan yang dialami oleh pasangan. Kita tidak selamanya tegar, kadang juga rapuh, sedih dan bahkan kekanak-kanakan. Orang yang rapuh butuh pertolongan dan ketegaran. Orang yang sedih butuh sumber kegembiraan. Orang manja butuh pihak yang mau memanjakan. Tidak selalu yang tua mengalah terus. Tidak selalu yang muda tidak bisa tampil sangat dewasa. Tidak selalu si cewek manja melulu, kadang lelakipun butuh dimanjakan.

Artinya, seseorang harus belajar menjadi figur yang multi karakter. Kadang dia sangat dewasa, manakala pasangannya sangat rapuh dan butuh bimbingan. Kadang dia sangat ceria dan lucu, manakala pasangan butuh teman bermain. Dan seterusnya.

Manajemen konflik juga butuh kedinamisan. Terkadang rayuan tertentu akan ampuh pada saat ini, tetapi sangat menyebalkan manakala selalu diulang-ulang. Terkadang menasehati tidak selalu dengan menyalahkan, kadang kita perlu mengajak pasangan ke peristiwa lain tempat yang bermakna nasehat, misalnya nonton film dengan hikmah tertentu. Terkadang kita harus terdiam manakala pasangan sedang dalam puncak pe-ngomel-an.

Terakhir, kadang kita begitu sangat toleran pada teman dan sahabat pada sesuatu kekurangan atau kegagalan. Tapi, kadang kita terlalu bernafsu untuk menyalahkan dan mengatur manakala pasangan melakukan hal yang sama. Di sinilah kita perlu membangun jiwa besar, sehingga ritme hidup selaras dengan gelombang-riak aliran air kehidupan yang serba misteri dan butuh kewaspadaan.

Selasa, 6 Oktober 2009 pukul 23.30 WIB

Ki Asmoro Jiwo

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Sosial

Mengenal AGROEKOLOGI

October 1, 2009 · Leave a Comment

Agroekologi merupakan gabungan tiga kata, yaitu Agro (pertanian), Eko/Eco (lingkungan), dan Logi/logos (ilmu). Secara sederhana, Agroekologi dimaknai sebagai ilmu lingkungan pertanian. Secara lebih luas, Agroekologi dimaknai ilmu yang mempelajari hubungan anasir (faktor) biotik dan abiotik di bidang pertanian.

Pengertian faktor biotik dan abiotik di bidang pertanian agak berbeda dengan pemahaman terdahulu, terutama anggapan bahwa Tanah, Air dan Udara yang dulu dianggap benda mati, sekarang dipandang sebagai faktor yang ‘hidup’ karena di dalam tanah, air dan udara berlangsung sistem kehidupan yang saling mempengaruhi. Hal ini dapat dibuktikan dengan sifat dinamis tanah, air dan udara. Tanah dapat berubah dari subur menjadi gersang/tandus dan dari lestari menjadi tercemar. Air tidak selalu dipandang sebagai sumberdaya yang tak terbatas dan dapat diperbaharui. Kedudukan air berkualitas tinggi saat ini sangat mengkawatirkan karena banyaknya sumber pencemar yang dibuang ke badan-badan air. Udara juga bukan benda yang gratis lagi, terutama di daerah kota-kota besar dan kawasan industri, dimana kondisi udara semakin menurun kualitasnya.

 Agroekologi lebih menekankan pentingnya memperhatikan faktor lingkungan dalam budidaya pertanian. Pertanian bukan sekedar interaksi antara petani dengan tanamannya. Aktifitas pertanian secara kompleks melibatkan banyak faktor, terutama manusia, hewan, lahan dan iklim. Faktor manusia sangat didominasi kondisi sosial dan ekonominya. Faktor hewan terdiri dari hewan makro (ternak, ikan) dan hewan mikro (mikrobia). Faktor lahan meliputi kondisi fisiografi (kelerengan dan ketinggian tempat), tanah, air, dan tanaman. Faktor iklim terdiri dari sinar matahari, suhu, kelembaban, angin dan curah hujan.

Masing-masing komponen di atas dikaji lebih mendalam tentang sifat atau karakteristiknya. Kemudian interaksi antar komponen dan pola manajemen yang tepat dalam mengendalikan kondisi agroekologi di suatu tempat.

Konsep agroekologi mengenal model pengelolaan berdasar kondisi agroekologi yang bersifat spisifik. Masing-masing lokasi dapat berbeda kondisi agroekologinya, sehingga memerlukan manajemen/pengelolaan yang berbeda pula. Konsep pengelompokan agroekologi ini sering disebut sebagai Zone Agroekologi (Agroecological Zone).

Manajemen lahan berdasarkan kondisi agroekologi sangat penting dilakukan, terutama terkait dengan kegiatan pengembangan wilayah yang terkait dengan bidang pertanian secara luas (budidaya tanaman pangan & hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan). Faktanya masing-masing bidang ini terkait satu dengan yang lain.

Pengelolaan lahan yang berdasarkan kondisi agroekologi dapat dilihat pada penerapan Agroforestry/Wanatani (gabungan pertanian dan kehutanan) dan Agrocomplex/Biocyclofarming/Pertanianterpadu. Bentuk aplikasi yang lain dapat dilihat pada penerapan kebijakan dalam pengembangan wilayah, misalnya lahan yang subur tetap dipertahankan untuk pertanian-perkebunan-kehutanan, pengembangan komoditas tanaman berdasarkan tingkat kesesuaian lahan (land suitability), dll. Bahkan aktifitas bisnis di bidang pertanian (agribisnis) juga perlu mendasarkan pada kondisi agroekologi setempat. Hal ini dapat dilihat misalnya ada keterkaitan antara kondisi lahan dengan kualitas produk pertanian, antara kondisi lahan dengan jalur transportasi ke pasar, dll.

Mengingat pentingnya peranan agroekologi ini, maka pengembangan produksi dan bisnis di bidang pertanian sangat perlu memperhatikan kondisi ekologi setempat dan bagaimana upaya jitu dalam melestarikannya.

→ Leave a CommentCategories: Kampus · Lingkungan

Nilai Seorang Pembantu

September 26, 2009 · Leave a Comment

Ada pepatah mengatakan, saat ADA cenderung diabaikan, tetapi saat TIDAK ADA keberadaannya dinantikan. Pepatah ini salah satunya cocok untuk ditujukan kepada pembantu. Betapa banyak orang menghargai pembantu hanya sekitar setengah UMR (kecuali TKI/TKW lho ya), namun tuntutan pekerjaan demikian banyaknya.
Banyak juga yang berkilah, “khan enak, gajinya memang dikit, tapi khan full gak berkurang, karena makan minum sudah ikut saya, bahkan sering kita belikan jajan, bahkan pulsa. maklum, pembantu sekarang hobbynya kan ‘online’ dengan teman-temannya nun jauh disana”.

Sebelum kita menilai komentar di atas, ada baiknya kita coba mencermati pekerjaan apa saja yang dilakukan pembantu secara umum selama 24 jam. Bangun tidur, jelas gak tidur lagi seperti lagune alm mbah Surip. Biasanya mereka beribadah dan langsung kerja, seperti merendam-mencuci pakaian, menyapu-mengepel, membersihkan perabot rumah tangga dari debu, membuang sampah, menyiapkan sarapan, mematikan lampu, dan membuka pintu-jendela-pagar.

Menjelang siang, si pembantu sibuk membersihkan perabot dapur dan peralatan sarapan. Tugas berikutnya menjemur pakaian sampai kering dan menyetrikanya, memasang kancing, membersihkan kamar mandi, belanja, menyiapkan makan siang (insidentil – kadang2). Boleh jadi si pembantu tidak sempat untuk bobo siang.

Ketika sore datang, biasanya tugas berulang berupa menyapu dan mengepel, mencuci piring-gelas, menyalakan lampu dan menyiapkan makan malam.
Ketika malam, biasanya punya tugas juga menutup pagar, mengunci pintu, mencuci piring gelas, dll.

Tugas demi tugas mengalir kadang pelan kadang cepat, namun seperti tiada henti, kecuali saat menjelang tidur. Beberapa mereka mempunya hobi yang khas, biasanya sekitar nonton sinetron-gosip, ngerumpi dengan sesama pembantu di rumah tetangga, online (telp dengan sahabat dan TTM), dan jalan-jalan di keramaian dekat rumah.

Agar bisa merasakan tugas berat si pembantu, ada baiknya kita mencoba seminggu saja mengerjakan apa-apa yang sering dikerjakan pembantu itu. Coba catat berapa kali anda akan mengeluh dan berapa banyak agenda kerja tertunda karenanya. Mungkin saat itulah anda menyadari betapa beratnya tugas pembantu.

Pertanyaannya,
Sudahkah kita memperlakukan dia secara manusiawi? bahwa dia juga punya hoby dan keinginan, bahwa dia juga berhak untuk bergaul dengan komunitas yang dia inginan?
Sudahkah kita selalu membawakan makanan apabila di jalan kita sedang beli makan.
Sudahkah kita memuji pekerjaan-pekerjaan yang secara benar dia lakukan, dan menasehati dengan santun pada pekerjaan yang kurang pas.
Sudahkah kita mengajak dialog secara ’sejajar’, bukan sekedar menjelaskan daftar perintah yang harus dilaksanakan.
Sudahkah kita merawatnya seperti keluarga sendiri, seperti dia merawat dan melayani anda 24 jam?

Tanpa sadar, banyak tugas hidup yang dipindahtugaskan kepada pembantu kita, tetapi banyak rizki yang kita dapat akibat dari ‘waktu luang’ itu tanpa sedikit pun mengalir ke pembantu. Masihkah kita keukeuh termasuk orang-orang yang pandai bersyukur…..?

Tegal, 26 Sept 2009. 20.45 WIB

Ki Asmoro Jiwo

→ Leave a CommentCategories: Kahuripan · Sosial

Bagaimana Mendidik Anak

September 23, 2009 · Leave a Comment

Seorang sahabat perempuan telah menjadi seorang Ibu yang mempunyai anak menginjak usia remaja. Dia merasa kewalahan menghadapi anaknya yang sering bertingkah polah tidak sesuai dengan kemauan Ibunya, bahkan cenderung melawan. Sahabatku ini mengeluh dan minta nasehat kepada diriku. Akunya binun juga, lha wong belum pernah dapat amanah punya anak. Kalo mendidik anak orang sih kadang-kadang hehe. Namun untuk memperkuat argumen, aku berkonsultasi kepada Nyi Asmoro Jiwo, paling tidak untuk melihat dari sisi seorang perempuan.
“Jadikan dia teman”, wejangan Nyi Asmoro Jiwo singkat dan padat, namun sudah cukup membuka cakrawala luas membentang tentang metode pendidikan anak.

Banyak orang tua saat berhadapan dengan anaknya, memposisikan bahwa dia adalah orang TUA dan anaknya masih MUDA. Sehingga timbul 2 kutub posisi yang jauh berbeda. Yang tua merasa banyak pengalaman, banyak mengerti/tahu, dan selalu benar. Yang muda selalu dinilai oleh yang tua, sebagai orang muda yang kurang pengalaman, tidak banyak tau dan sering membuat kesalahan. Sehingga yang muda selalu merasa terhakimi manakala berada di hadapan yang tua. Yang muda berpikir, orangtuanya tidak bisa mengerti apa yang dipikirkannya, apa yang di-mau-i, apa mimpinya; yang boleh jadi kesemuanya itu sangat tidak menarik dari pandangan yang tua.

Tulisan ini sangat terkait dengan tulisan sebelumnya yang mendorong orang untuk mengerti orang lain. Mengerti bahwa orang lain bukan diri kita, walau dia ada hubungan darah atau berada pada satu tempat pendidikan. Argumen ini juga berlaku bagi pendidikan anak. Coba lihatlah psikologi anak secara umum, mulai bayi yang sangat tergantung pada orangtuanya, bahkan hanya sekedar untuk makan dan minum. Kemudian usia balita tergantung pada arahan orangtua untuk mengenali benda-benda dan perbuatan pokok dari kehidupan ini.
Menginjak remaja, dia akan mulai suka berteman dan tentu saja menjadikan teman adalah tempat bercurhat, tempat bermain dan saling memberi.
Usia baligh (puber) mendorong si anak mulai ingin pasangan lain jenis. Dia mulai menghias diri untuk menarik pasangannya.
Usia awal pernikahan penuh dengan kenikmatan sekaligus ujian besar. Rasa kenikmatan sering jadi tujuan utama, sampai lupa bahwa pernikahan jauh berbeda dengan pacaran atau sekedar persahabatan. Ternyata paket kenikmatan diikuti dengan permasalahan dalam menyatukan dua watak yang berbeda, dari dua sejoli, keluarga besar dan sahabatnya.
Usia awal punya anak, terkadang siap mbuat anak, tapi gak siap memelihara anaknya. Sehingga ada yang anaknya dibuang, dipasrahkan 100% pada pembantu dan si sapi (baca: minum susu sapi), dipasrahkan pada orangtua/mertua, atau total 100% menikmati kesibukan baru ini.

Mari kembali fokus pada pendidikan anak sampai remaja,

PERTAMA, perlunya pemahaman bahwa sangat mungkin karakter anak akan berbeda dengan orangtuanya, walaupun di beberapa sisi si anak mewarisi sifat ayah ibunya. Warisan sifat ini umumnya untuk mengarah pada kejahatan atau kebaikan, tergantung didikan yang diberikan. Dengan memahami bahwa anak berbeda dari orangtuanya, maka si orangtua tidak serta merta menuntut agar si anak sama persis dengan tingkah laku dan jalan hidupnya.

KEDUA, kehidupan si anak saat ini sangat berbeda dengan kehidupan orangtuanya 20-40 tahun yang lalu. Makin ke sini, bumbu kemajuan iptek sangat terasa. Lihat saja anak-anak sekarang sudah sangat familiar dengan HP, internet (fesbuka, email, dll), TV dan kemajuan teknologi lainnya. Lihat juga dengan era 30 tahun lalu, mungkin listrik belum ada, TV masih “satu RT satu TV”, komunikasi jarak jauh dengan secarik kertas atau pos surat, dll. Tentunya, pola kehidupan sekarang jelas sangat berbeda dengan pola dulu. Contohnya, dulu kalo anak sering di rumah dan di kamarnya, dianggap sebagai anak penurut dan orangtuanya tenang. Tapi saat ini, badan boleh di kamar, tapi dengan HP dan internet, dia sudah menjelajah kemana-mana. dst-nya.

KETIGA, berkomunikasilah sesuai dengan pola pemikirannya. Dari usia kecil sampai dewasa, selaras dari pola pikir sederhana sampai kompleks. Apabila berhadapan dengan usia balita, posisikan tingkat komunikasi kita juga seperti balita, misalnya tentang makanan yang “enak” dengan cara kita memberi contoh memasukkan makanan ke mulut kita agar si balita menirunya. Apabila berhadapan dengan usia remaja, maka posisikan kita sebagai remaja pula, misalnya menjadi teman bercanda, teman bercerita, dan menghindari ungkapan larangan (baca: gak boleh ini-itu). Mungkin kalimat “kamu gak boleh malas, nanti jadi anak yang bodoh”, perlu diganti dengan “Adik ingin jadi dokter? dokter itu harus pandai lho, karena harus tahu obat dari penyakit. makanya dokter itu banyak membaca”. Intinya kalimat perintah dibuat secara tersirat.

KEEMPAT, mengenal karakter orang dari jenis kelaminnya. Anak laki-laki suka pada tantangan dan mudah bosan pada hal-hal yang dia sudah menguasainya. Maka pandailah kita memberikan tantangan yang mendidik sekaligus inovatif. Anak perempuan suka pada keindahan dan kemewahan, namun sifat malunya besar. Maka, janganlah dia dipermalukan di depan publik. Maka, berikan dia cara untuk meraih keindahan dan kemewahan itu.

Empat tips ini mungkin bisa melengkapi khasanah metode pendidikan tiap orang tua yang mungkin punya ciri khas masing-masing.
Kata orang bijak “tidak semua ilmu bisa diwariskan, tetapi semua ilmu bisa dipelajari”.
Jadi, utamanya kita mendorong si anak untuk bersemangat tinggi dalam belajar untuk dirinya sendiri, bukan dengan mencekoki (menyuapi) anak kita dengan doktrin-doktrin yang kita anggap benar tetapi bisa jadi si anak akan tersiksa karena belum merasakan kebenaran itu.

Tegal, Rabu, 23 Sept 2009 pukul 08.05 WIB

Ki Asmoro Jiwo

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Sosial

Sarjana menjadi ibu rumah tangga

September 6, 2009 · Leave a Comment

Harapan orang tua menguliahkan anaknya, tentu agar si anak lulus menjadi sarjana dan mampu menciptakan/mendapat pekerjaan. Begitu juga dengan harapan para mahasiswi, kebanyakan mereka ingin bekerja atau berkarier setelah lulus jadi sarjana. Amat sangat sedikit sekali para sarjana perempuan itu yang bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Andaikan itu terjadi, “keadaanlah yang membuat saya menjadi ibu rumah tangga (tidak bekerja lagi)” jawab mereka. Sehingga wajar apabila mereka menjadi tidak PD (percaya diri) atau bahkan iri bila bertemu dengan teman-teman kuliah dulu yang saat ini sudah sukses dalam pekerjaannya. Bahkan rasa galau ini bisa memicu pada salah satu polemik dalam keluarga.

Lain lagi dengan cerita simbah tempoe doeloe, bahwa tugas utama perempuan adalah 3 M, yaitu Macak (dandan), Masak dan Manak (beranak). Ketiga tugas mulia ini banyak ditentang oleh aktifis emansipasi, yang menuntuk kesejajaran tugas dan tanggungjawab pria dan wanita. Bahkan ada juga yang menganggap ini bentuk keterkungkungan. Jadilah kemudian mencatut semangat Kartini agar sah mengatakan bahwa wanita punya hak sejajar dengan laki-laki. Namun kemudian ‘kesejajaran’ ini agak direvisi, mungkin melihat ada beberapa perempuan yang bekerja sebagai tukang becak, ojek, sopir bus, petugas pom BBM, tentara, polisi, dll. Revisinya adalah pekerjaan tersebut sedemikian rupa sehingga tidak menganggu organ reproduksi. Dalam bahasa gaul, pokoknya minta kesejajaran hanya pada posisi yang enak-enak saja…..hehe

Menurutku, tingkat kesejajaran untuk perempuan adalah sedemikian rupa sehingga tidak menganggu sifat kewanitaannya (kelembutan, keindahan, rasa malu, dan kecantikan). Jangan sampai profesi baru malah akan menafikan (menghilangkan) sifat kewanitaannya itu. Perlu juga mempertimbangkan faktor daya tarik. Sebagian besar lelaki tertarik pada perempuan karena alasan fisik. Bahkan sifat malu mempunyai porsi yang besar pula.

Kembali ke profesi Ibu Rumah Tangga….
Banyak orang menganggap profesi ini kurang bonafit. Pekerjaan ini dianggap sepele. Namun bagi yang sudah pernah merasakan sendiri plus membandingkan dengan pekerjaan kantor, ternyata pekerjaan rumah jauh lebih banyak menyita waktu dan tenaga. Coba kita cermati pekerjaan rumah, dari bangun tidur, ibadah, menyiapkan sarapan pagi, membersihkan rumah, mencuci baju, mengurus anak, dll. Andaikan ada program realty tukar nasib untuk tugas rumah dan tugas kantor, dimana perempuan mengerjakan tugas kantor dan lelaki mengerjakan pekerjaan rumah. Hasilnya sudah jelas, sebagian besar lelaki tidak siap dengan pekerjaan rumah ini, khususnya urusan mencuci, masak dan ngurus anak.
Artinya, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang luar biasa besar. Hanya kita saja yang kadang kurang bisa menghargai pengabdian ini.

Belum lagi, keberhasilan kualitas generasi penerus sangat ditentukan oleh jasa baik seorang ibu rumah tangga. Betapa banyak wanita berbangga dengan prestasi kariernya, namun di dalam rumah membuat raport merah karena kualitas anak-anaknya kurang membanggakan.
Banyak pula wanita karier yang mengklaim bahwa kondisi rumah (baca: pendidikan anak) baik-baik saja. Namun secara jujur dalam hatinya mengatakan dia akan berpikir keras untuk melakukan substitusi (pengalihan tugas) kepada pembantu, kepada playgroup, kepada guru private, kepada guru sekolahnya, dan kepada mall sebagai tempat bermain si anak. Tekanan pekerjaan kantor membuat si Ibu sangat sulit melaksanakan tugas rumahnya. Dari substitusi itu, baru bisa diukur berapa rupiah yang harus dialokasikan.

Kepada para suami, sudahkah anda mengetahui dan mencermati beratnya beban pekerjaan sebagai ibu rumah tangga?
Seperti halnya kepada semua orang yang kadang belum mengetahui dan mencermati besarnya kenikmatan yang diberikanNYA.

Kesadaran inilah yang akan membawa kita pada bentuk penghargaan yang tinggi pada profesi masing-masing. Profesi di belakang akan sama berharganya dengan profesi di depan. Profesi ngurus rumah tangga akan sama berharganya dengan profesi mencari nafkah di luar rumah.
Bahkan dengan status kesarjanaan yang ada dipundak ibu rumah tangga, ini berarti modal besar dalam mendidik anak-anaknya.
Apalagi banyak materi pelajaran anak-anak sekarang jauh melebihi materi pendidikan orang tuanya di masa lalu. Harusnya Ibu berbangga dengan hal ini…

→ Leave a CommentCategories: Kahuripan · Sosial

Rahasia Artikel Ki Asmoro Jiwo

September 5, 2009 · Leave a Comment

Perjalanan hidup memang kadang berliku. Kadang harus terjatuh, terluka, menangis, dan bersemangat bangkit lagi. Kadang kenikmatan datang setelah terjerembab dalam penderitaan di sekian waktu. Itulah salah satu “sebab” dari “akibat” yang menginspirasi tulisan Ki Asmoro Jiwo.

Banyak tulisan berasal dari penggalan pengalaman pribadi. Banyak pula yang merupakan hasil pengamatan terhadap semesta ini. Ide bisa muncul dimana saja dan kapan saja. Bahkan yang terbanyak muncul saat di kamar mandi. Dalam diam, pikiran tetap bekerja, mencoba membaca setiap fenomena di depan mata.

Sepuluh tahun terakhir akrab melayani curhat banyak orang, baik via sms, telp, face to face, email, facebook, dan webblog. Penggalan kisah kehidupan orang sering diangkat menjadi artikel, tentu dengan mensamarkan sang sumber.

Status masa lalu sebagai mantan “calon ustadz” juga turut mewarnai tulisan. Biasanya di alenia terakhir akan muncul nasehat secara tersirat, yang boleh jadi senafas dengan kajian agama (walau tanpa menyebut dalil secara tersurat).

Pengembaran dalam mencari guru juga mewarnai artikelnya. Bahkan beberapa merupakan hasi wejangan sang guru. Sosok guru bisa guru agama, guru spiritual, atau apapun; karena Ki Asmoro Jiwo meyakini bahwa petunjuk itu bisa datang darimana saja dan dimana saja.

Biasanya watak tulisan merupakan gabungan norak, lugu, apa adanya, politik, sosial, agamis dan kadang mengundang senyum. Terkadang hasil kupasannya juga mengundang pro dan kontra. Pro bagi mereka yang memandang tulisan adalah karya, yang bila bermakna dipake, bila ngga yang dilupakan. Kontra bagi mereka yang teguh punya pendapat lain.

Perilaku pembaca juga macem-macem. Ada yang terbuka mengaku. Ada yang diam-diam selalu baca. Ada yang selalu menunggu lanjutan karyanya. Ada yang gak suka. Ada pula yang gak tertarik. yah, namanya juga beda orang beda mau, silahkan saja hehehe….

Nama “Ki Asmoro Jiwo” terkait dengan warna tulisan yang umumnya memuat topik tentang cinta (asmara/asmoro) dan kehidupan/sosial (jiwa). Nama ini berasal dari perenungan seorang sahabat tentang ‘warna’ku.

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Kampus · Lingkungan · Sosial