Ki Asmoro Jiwo

Mengisi Liburan, Mengejar Kesenangan

December 28, 2009 · Leave a Comment

Fenomena masa liburan memang menarik, banyak orang berlomba berebut tiket transportasi, dari bus sampai pesawat terbang. Banyak orang berburu penginapan segala kelas. Banyak orang bernafsu mengunjungi tempat-tempat wisata, termasuk belanja dan kuliner. Banyak orang tanpa sadar meningkatkan kepadatan dan bahkan memacetkan jalan, karena hampir reflek menuju ke tempat-tempat yang sama.

Jika merenung sejenak, mengapa banyak orang sangat berambisi mengisi liburan dengan paket-paket acara – yang minimal menurut mereka – menyenangkan. Mereka tanpa berpikir panjang mudah merogoh kantong duit yang berlebih. Mereka mau meluangkan waktu dan tenaga untuk itu semua. Apa yang dicari? umumnya menjawab aklamasi : mencari kesenangan.

Mereka banyak bertebaran di muka bumi demi memburu ‘paket kesenangan’. Mungkin mereka lupa, bahwa rasa senang itu berada di dalam hati. Mungkin mereka lupa, bahwa diri kita sendirilah yang mampu memanaj untuk senang atau sedih.

Betapa banyak orang yang malah merasa sepi saat berada di keramaian. Mereka merasa jengah dan asing, karena keramaian dan kebisingan itu bukan sumber kesenangannya. Namun bisa juga sebaliknya.

Betapa banyak orang yang bisa tersenyum bahagia manakala dia sedang sendiri. Mungkin sambil menikmati pemandangan alam. Mungkin sambil merenung tentang hakekat kehidupan.

Lihatlah seorang kakek/nenek, yang sangat senang ketika melihat cucunya mulai bisa berbicara. Dengan bangga akan menceritakan bagaimana lucunya si cucu, kepada siapa saja yang ditemui. Kakek/nenek ini tidak perlu di bawa ke tempat-tempat wisata yang mungkin menarik bagi sebagian orang.

Lihatlah pengemis di perempatan jalan, yang bergitu terkesima dan senang, manakala ada dermawan/wati yang mengucurkan uang berlebih. Biasanya dia hanya mendapat 100-500 rupiah per penderma, lha ini ada yang memberi 5.000-10.000 rupiah. Itulah salah satu kesenangan mereka. Jangan salahkan mereka yang tidak mau dipindah tempat atau dikarantina di panti sosial, walaupun di perempatan jalan dia akan berjemur sepanjang hari. Mungkin jadi lusuh, mungkin menghirup udara tercemar. Tapi ternyata mereka mendapat kebahagiaan dari suasana itu, terlepas aktifitas ini melanggar atau tidak secara aturan lalu lintas.

Lihatlah para pelancong yang bernafsu jalan kemana-mana, yang katanya memburu kesenangan, tapi akhirnya malah mendapatkan keborosan, capek, sakit di badan, suntuk akibat kemacetan, resiko kecelakaan di jalan, dll. Lihatlah mereka yang merayakan hari pergantian tahun. Tanpa sadar terjebak kemacetan, kebisingan, pencemaran udara, kehujanan, resiko kesehatan, dll.

Bentuk-bentuk kesenangan tidak lebih hanya kesepakatan sosial dan persetujuan hati untuk itu. Namun hukum sosial tidak perlaku universal, karena sebagian orang punya dalil tersendiri. Satu sudut mengatakan, sumber kesenangan itu makan-makan, nonton film, berwisata, joget musik, mabok, pesta sex, dll. Sudut yang lain mengatakan, sumber kesenangan itu meraih jabatan, mendapat penghargaan, mendapat bonus, dll.

Apapun bentuknya, ya-tidak nya hal itu termasuk kesenangan adalah kesepakatan HATI kita menilai fenomena itu. Kuncinya ada di manajemen hati. Jika kita mampu mengendalikan rasa dan pikir, maka kesenangan itu tidak perlu dengan mengorbankan waktu, tenaga dan beaya yang besar. Lha wong melamunkan TTM juga sudah menyenangkan kok…. Apalagi ujuk-ujuk bin tiba-tiba bisa bertemu muka, wow……

Senin, 28 Desember 2009

Padepokan Ki Asmoro Jiwo

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Sosial

Membangun Kesetiaan

December 24, 2009 · Leave a Comment

Bagi cowok, menggapai cinta dari cewek yang didambanya adalah harga mati. Gunung kan didaki, laut kan disebrangi. Resiko gak kuat atau tenggelam di tengah jalan itu dipikir belakangan. Yang penting semangat juang meraih cinta tidak terukur oleh apapun saking tingginya. Bagi cewek, mendapatkan cowok yang ngayomi, dewasa, sabar, menyenangkan, dan mampu menyejahterakan hidupnya secara lahir-batin; adalah ukuran yang sering diidamkan. Bahkan ada yang sederhana mengukur kriteria ini dengan “yang penting materinya melimpah”.

Jika cita-CINTA itu terwujudkan, maka ada yang mengukur gerbang pernikahan adalah puncak kenikmatan dunia. Makanya malam pertama dianggap sangat sakral. Tapi tidak sedikit juga yang gak sabar untuk milih ‘curi start’ :p. Jadinya malem pertama yang dijalani sebatas formalitas status, bukan kejutan sensasi he he.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Perjalanan pasangan yang saling mendambakan ini terus menghitung waktu menjalani kehidupan ini. Ternyata, jalan kehidupan tidak selalu di puncak kemesraan, walau publik sering melihat pasangan ini terkesan fine-fine ajah. Jalan kehidupan demikian berliku, berkelok, berlubang, naik turun, dan kadang membuat kita sering terjatuh dan terjatuh lagi. Hingga, kesetiaan yang menjadi slogan terucap saat pertama kali berpegangan tangan bersumpah setia, menjadi sebuah kata kosong hilang rasa.

Ternyata godaan datang silih berganti. Namanya godaan, tentu terukur “lebih baik” secara logika, dibanding pasangannya kini. Bagi cowok, biasanya “baik” dimaknai ukuran “fisik”. Bagi cewek, biasanya dimaknai “kemapanan”. Fisik tidak lagi se-semlohai dan se-maknyuss dulu. Kemapanan kadang hanya tinggal janji. Betapa, terbukti sangat mudah mendapatkan pesaing yang jauh lebih baik dari pasangan kita. Masalahnya tinggal 2 hal, (1) apakah penggoda itu mau dengan kita, dan (2) apakah kita itu mau dengan penggoda itu.

Sang penggoda akan datang makin banyak jika kita mempunyai kelebihan harta atau kedudukan/jabatan atau status kebangsawanan atau profesi tertentu yang mampu memukau massa. Ngapain sih menggoda, kalo gak dapat hasil apa-apa. Begitu juga kita akan mudah tergoda makala merasa LEBIH cantik/ganteng, kaya, berpangkat, dan status superior lainnya. Alasan kita membuka diri untuk penggoda pun bermacam-macam dalih. Ada karena tidak dipuaskan lagi dengan pasangan, ada yang terpaksa, dll. Tapi yang jelas banyak diantara kita yang aslinya bosan dengan pasangan. Manusia memang di-cap dari orok punya sifat mudah bosan dan sulit berterima kasih, kecuali orang-orang yang terpilih.

Bagaimana membangun kesetiaan? ada yang beralasan karena punya rasa cinta mati, yang tak lapuk oleh kerut-kerut ke-tua-an. Ada yang setia dengan alasan menghormati pengorbanan pasangan. Ingat sejarah betapa dulu merangkak, jatuh, senyum dan menangis bersama (kompak bener dah, red). Ada juga yang karena gak ada lagi yang mau dengan kita he he.

Mengukur kesetiaan tidak hanya sekedar dari fisik, materi, sex, pangkat dan kekuasaan. Kesetiaan butuh rasa pengertian dari pasangan. Pasangan berarti 2 pihak yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Menentukan pasangan tentu berdasar kriteria kecocokan yang paling banyak, atau perbedaan paling kecil. Sejak awal membina, kita harus paham bahwa dibalik kelebihan yang menggoda, tentu tersembunyi kekurangan di banyak sudut.

Alangkah gegabahnya jika kita menuntut ke-abadi-an di dunia yang fana ini. Fana artinya tidak ada yang abadi. Keabadian adalah milik-NYA. Sebagai hamba, perlukah kita menuntut kekuasaan setinggi DIA. Pasangan adalah bagian ke-fana-an dunia ini. Namun pasangan dapat diajak menggapai kebahagiaan yang abadi di kehidupan berikutnya. Yaitu pasangan yang saling mengingatkan dan mendoakan untuk kebaikan semesta.

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 23 Desember 2009

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan

Angon Bebek

December 15, 2009 · Leave a Comment

Angon Bebek yang ini memang beneran, bukan ibarat “guru mendidik murid”. Kalau yang terakhir ini pasti banyak dinamikanya. Satunya kencing berdiri, satunya berlari. Satunya ngasi nasehat, satunya asyik melawan. dan seterusnya…

Kembali ke… Angon Bebek

Si Bapak satu ini memang sudah bertahun-tahun piawai angon bebek. Profesi ini merupakan jalan banting stir karena menjadi buruh tidak jelas penghasilannya. Maka mulailah beliau berwirausaha dengan menekuni angon bebek. Cerita di bawah ini utamanya bersumber dari hasil reportase dengan beliau, tentu saja dengan sedikit ‘bumbu’ dari lokasi lain yang sejenis.

Tahun 2005, seorang mahasiswi pertanian tingkat akhir begitu cemasnya ketika suatu sore gerimis melihat kandang bebek terbuat dari kelambu (biasanya untuk penutup kamar, pelindung dari nyamuk) hanya setinggi leher si bebek. Yakin bebek-bebek itu akan patuh dalam kandang, gak ngeyelan mo lompat pagar seperti si murid tadi. Ternyata bukan kandangnya yang menarik hati si mahasiswi ini, tapi dia bertanya dengan syahdunya :
“Pak, kasihan bebek itu, apa gak masuk angin ya?” keluhnya
“Lha emange kenapa to?” tanyaku mendadak khidmat.
“Lha itu bebeknya kan kehujanan,” jawabnya zuper polos tenan.
Mungkin ini salah satu potret remaja saat ini yang terlalu asyik dengan HaPe dan Fesbuknya, sampe lupa mengamati fenomena lingkungan sekitarnya.

Kembali ke… Angon Bebek

Siklus hidup bebek selama 2 tahunan. Sejak bayi-cemoer (pasca menetas) memerlukan waktu 6 bulan sebelum asyik bertelur setiap hari, sampai berumur 2 tahun. Beaya makan untuk bebek 50 ekor sekitar 30 ribu rupiah per hari. Sementara dalam usia produktif, 80% dari jumlah mereka akan bertelur setiap hari. Jika warganya 50 ekor, maka tiap hari menghasilkan 40an telur. Harga per telur untuk bebek angonan (dipelihara dengan jalan-jalan tiap hari) sekitar Rp 1.100,-. Kalo telor bebek kandangan, harganya berkisar Rp 950,-. Kok beda? karena yang hasil jalan-jalan ini banyak vitaminnya.

Ternyata si Bebek jantan juga menganut club poligami. Kadang tiap 50 ekor betina cukup dengan 1 bebek jantan.
“Itu aja bebek jantannya masih nedak-nedak ngejar mentok (entem) tetangga je, Pak”, jelas si Bapak.
Aku jadi senyum sendiri. Gimana ngatur jadwal ‘piket’ tiap harinya ya. Padahal 80% telur itu terbuahi semua. Gleks…..
Untung aja kaum bebek betina itu “Ok-Ok” aja ama manuver si pejantan, minimal gak ada yang berkicau di infoteinment per-bebek-an. Bisa-bisa nanti saingan ama si Komeng dan Valentino Rossi.

Harga bebek kecil yang baru netas sekitar 3 ribu rupiah. Kemudian harga bebek dewasa umur 2 tahunan berkisar 30-40 ribuan. Yang jelas harga pejantan jauh lebih murah, walau kemampuan poligaminya melebihi doping purwaceng atau STMJ-ginseng segala. Harga bebek betina lebih tinggi karena ada jaminan bertelur.
Ibarat debat si bapak dan si ibu, “mana yang lebih penting? sponsor atau yang melahirkan?”, ternyata: ibumu-ibumu-ibumu-bapakmu.

Makanan bebek yang terbaik adalah beras dkk (dedak, nasi, sego aking, dll). Makanya kalo angon bebek selalu mengarah ke petak-petak sawah yang baru saja dipanen. Di sana banyak terdapat bulir gabah yang rontok saat pemanenan atau jatuh dari tanaman padi-nya.

Kaum bebek juga punya kepatuhan dan perasaan yang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan modal topi lebar dan pecut super panjang, si Bapak mampu mengendalikan laju perjalanan ratusan bebek setiap hari. Yang mencengangkan lagi, Ada !
“Kalo hati kita kemrungsung (gak tentram, gak ikhlas), misalnya ada masalah rumah tangga, maka bisa dipastikan kemampuan bertelur kaum bebek kita bisa turun 50%-nya!”.
Jadi, ternyata si bebek dengan si Bapak ini ada ikatan batin (kalo bebek, namanya batin atau insting ya?) yang sangat kuat.

Kalo dunia manusia, kepatuhan anak buah bukan digambarkan dengan per-bebek-an, tapi malah si kerbau yang jadi korban (baca: seperti kerbau yang dicocok hidungnya).

Semoga cerita ringan ini menginspirasi anda yang ingin ber-angon bebek.

Ki Asmoro Jiwo

 
Catt: tulisan ini terinspirasi oleh keluarga tukang angon bebek di jl Imogiri Bantul

→ Leave a CommentCategories: Kahuripan · Sosial

Penguasa Bukan Pejuang, Pejuang Bukan Penguasa

December 15, 2009 · Leave a Comment

Sebuah fenomena, mungkin bukan kesimpulan, namun dapat merupakan kebanyakan yang terjadi. Sejarah mengatakan bahwa kebanyakan pejuang berujung pada makam pahlawan, itupun kalo perjuangannya terdaftar, diakui, atau disamakan (baca: terekam dan diberi penghargaan). Banyak pula pejuang dimana saat “tangan kanan” berbuat kebaikan, maka “tangan kiri” tidak diberitahu. Mengapa? karena perjuangan adalah tujuan, bukan alat mencapai tujuan lain, seperti : kekuasaan !

Sebaliknya, banyak para penguasa yang menempuh jalan sebagai ‘pejuang gadungan’. Seakan membela atas nama kebenaran, atas nama rakyat, atas nama orang banyak, dll. Yang benar “atas nama”-nya doank, buntutnya : untuk diri sendiri, keluarga dan kelompok pendukungnya. Label ‘perjuangan’ hanyalah sebuah slogan yang ditumpahkan pada media massa, sebagai suatu jalur karpet merah bertuliskan “membangun citra”. Sampai dalil demokrasi yang tidak pandang bulu siapa pemilihnya – entah pejabat atau penjahat, entah kyai atau peng-korupsi, entah ABG atau sang begawan – semua dinilai “one man one vote”.

Jika kita memilih jalur sebagai pejuang, siap-siaplah, jika berhasil belum tentu dipuji, sangat mungkin ditelikung (kudeta) oleh pejuang gadungan tadi. Jika tidak berhasil, harus siap dicela dan disalahkan satu kompi. Bahwasannya, kebanyakan orang memilih ‘jalur aman’ alias ‘melu katuting angin’ alias ’sing penting iso mukti’. Jadi mereka ini memilih slogan “diam itu aman, agak salah” dan “berbuat itu bisa salah”, jadi menunggu saat tepat untuk jual tampang dan kehormatan demi sebuah prestise.

Sejarah membuktikan, para nabi dan rosul yang jelas-jelas jaminan syurga, tidak otomatis bersih dari musuh. Bahkan kadang penuh cobaan dengan taruhan waktu, tenaga, dan harta benda. Bahkan nyawa pun sering terancam. Lha, kita-kita yang jelas jauh dari itu, jika berniat jadi pejuang, ya jangan kaget kalo ternyata banyak yang gak suka, banyak yang fitnah, banyak yang ngambil keuntungan dari jerih payah kita, dan bahkan saat kita jatuh tak satu pun yang tergerak membelanya. Kata Simbah doeloe, “banyak teman saat gembira, tapi sangat jarang ada teman berbagi derita”.

Memang idealnya Pejuang akan jadi Penguasa, sehingga ruh perjuangan tetap dilanjutkan. Tapi kebanyakan Penguasa lebih suka mengamankan posisinya. Jarang Penguasa yang mau berkorban dengan anak buahnya. Jarang pula pejuang sejati yang mengejar kekuasaan.

Akhirnya hanya ada 2 pilihan, jadi Pejuang atau Penguasa. Sangat jarang 2 pilihan itu ada pada 1 orang, walau tetap saja ada. dan berbahagialah suatu kaum yang pemimpinnya memenuhi 2 kriteria itu.

Yogyakarta, 1 Desember 2009

Ki Asmoro Jiwo

→ Leave a CommentCategories: Kahuripan · Sosial

Esek-Esek Jalur Pantura

November 24, 2009 · Leave a Comment

Konon,
Tempat lokalisasi di Jalur Pantura dapat dideteksi dari tempat mangkalnya Truk Gandeng. Sepanjang jalan, apabila terdapat banyak Truk Gandeng mangkal (parkir massal lebih dari 1 hari), bisa dipastikan di situ terdapat tempat lokalisasi. Tercatat sepanjang jalur pantura di Jawa Tengah terdapat lebih dari lima tempat, seperti SK, JBL, P, BP, C, dan M.
 
Bentuknya ber gang-gang layaknya perkampungan 1 RT. Tiap rumah ada sang Germo yang siap ‘ngabsen’ anakbuahnya. Jatidiri anak buah biasanya penuh kerahasiaan. Biasanya niat dan pamitnya dari kampunghalaman adalah ‘bekerja ke Jakarta’. Sehingga wajar apabila ada orang berbadan tegap berjalan di gang-gang tersebut, mereka sudah sangat cemas dan kabur ngumpet, karena disangka ada garukan atau minimal checking identitas.
 
Suasana ruang tamu di tiap rumah hampir seragam, yaitu penuh hiasan poster minuman Bir yang terkenal di negeri ini. Tapi yang jelas harganya terjangkau kantong sang sopir.
Biasanya si ‘pengguna’ selepas ‘action’ akan duduk kipas-kipas di teras rumah, sebelum kembali dari ‘penyamarannya’.
 
Para penjual barang kreditan juga cenderung laris manis, walau harganya 3x lipat harga umum. Cicilan bisa seribu atau lima ribu per minggu. Cicilan pun bisa offline jika ternyata si empu nya kedatangan ‘tamu bulanan’. Lha namanya juga PSK, terkadang apabila penagih merangsek terus, si empunya bisa langsung memamerkan lokasi TKP sebagai bukti yang meyakinkan.
 
Yang agak terenyuh kadang berseliweran anak-anak kecil di sana. Entah anak siapa mereka. Walau sudah ada ‘pengamanan’, bisa saja action si Hidung Belang berbuah anak manusia. Lebih nyampur lagi dalilnya, ternyata para PSK ini ada juga yang ikut pengajian secara rutin. PSK adalah pekerjaan karena terpaksa, ngaji adalah pelipur lara hati. Entah bagaimana Malaikat mencatat amalnya.
 
Ternyata lokalisasi bukan hanya di pinggir jalan besar. Tetapi bahkan berada di pelosok perkampungan. Suatu hari di tahun 2005, 2 orang surveyor (co dan ce) mampir ke sebuah warung desa yang banyak pengunjungnya. Si Cowok turun dari motor untuk membeli sesuatu, si Ce menunggu motor. Sesampai di warung, ada om-om yang nanya ke si Cowok, “Itu temanmu berapa, Mas? 75 ribu ya?” tanyanya dengan serius.
Gubrak!, ternyata itu lokalisasi berkedok warung. Si Ce yang datang dianggap barang baru hehehe.
 
Bagaimana ciri-ciri PSK pantura dibandingkan dengan PSK ala ayam kamp**. Perbedaanya cukup mencolok. Yang pertama cenderung berdandan menor dan pandangan mata yang ‘menjurus’. Yang kedua, sangat sulit dideteksi. Namun kata seorang Sopir taxi, “Biasanya berkulit pucat, Mas. karena sering ‘kerja’ malam dan jarang kena sinar matahari langsung”.
 
demikian,
Cerita detailnya mana kutahu… hehehe…
Aku hanyalah pengamat, bukan pengguna, apalagi pengedar :p

→ Leave a CommentCategories: Sosial

Pemimpin Yang Peragu

November 23, 2009 · Leave a Comment

Tidak ada yang salah untuk mendengarkan masukan banyak pihak, sebelum mengambil keputusan. Pasti maksudnya agar keputusan yang diambil mendekati kesempurnaan dan meminimalisir konflik horizontal (baca: rakyat/jamaah merasa puas).
Namun Sang Pemimpin tidak boleh lupa, bahwa tidak semua masalah punya waktu banyak untuk direnungkan lebih lama. Makanya Pemimpin harus berbekal tegas dan cepat dalam membuat keputusan di saat yang genting.

Terkadang, menunggu masukan banyak pihak, bahkan dengan membentuk tim ini-itu, komentar lembaga ini-itu, pooling ini-itu; malah akan membuat masalah-masalah lain semakin ‘antri’ untuk dipecahkan. Masalah-masalah yang menumpuk akan berdampak gerak solusi lebih lambat dari gerak fakta yang terus berjalan. Bahkan menumpuknya masalah itu akan menimbulkan masalah baru. Bahkan sampai bermuara pada ketidakpuasan rakyat/jamaah karena sudah terlalu lama berada pada kondisi ketidakpastian.

Setiap keputusan selalu menimbulkan pro dan kontra. Ada bagian yang merasa diuntungkan dan ada bagian lain yang merasa dirugikan.
Sang Pemimpin harus jeli memilih keputusan yang paling sedikit menimbulkan kontra, atau memilih yang tingkat kerugiannya paling kecil.

Terkadang pemimpin terjebak pada benar-salahnya keputusan. Kadang pula di suatu saat pihak yang salah akan dimenangkan, karena ada grand design untuk menjebak dan menangkap pihak yang salah lainnya secara lebih luas. Pemimpin memang perlu menatap (bervisi) ke depan. Boleh jadi rakyat/jamaah tidak tahu apa mau sang pemimpin. Mungkin, aroma kepemimpinannya akan harus beberapa tahun setelah dia tidak lagi memimpin. Itulah resiko seorang pemimpin. Terkadang keputusan yang tidak populer menimbulkan kecaman saat ini, tapi pujian di masa datang.

Setiap diri adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban pada apa yang dipimpinnya. Janganlah terlalu asyik menilai pemimpin sosial, jika ternyata kita tidak mampu memimpin ke-iman-an diri kita sendiri. Jangan-jangan, tanpa disadari, selama ini kiat ‘dipimpin’ oleh hawa nafsu bin ambisi bin keserakahan belaka.

Pemimpin boleh ragu, tetapi tidak boleh ragu dalam memimpin.

→ Leave a CommentCategories: Kahuripan · Sosial

Pengaruh Pasangan

November 19, 2009 · Leave a Comment

“Eh, si A itu kalo di kantor kok galak bener ya, suka killer ma orang..” keluh Topan pada Wijaya.

“Lha kamu gak tau po, dia itu di rumahnya kan kalah sama istrinya,” Jawab Wijaya enteng.

“Lho, maksudnya?”, tanya Topan ingin tahu.

“Yah, ulah A di kantor kan sebagai pelampiasan karena dia sangat tertekan di rumah. Istrinya mau dilawan, ntar KDRT pulak,” jelas Wijaya lagi.

“Byuh, KRDT bung!, lha kalo diomeli terus sepanjang waktu kan bisa tertekan juga. Dongkol tau!,” keluh Topan seakan membela A.

“Mo dongkol apa kagak, yang penting kayaknya ni, omelan kagak masuk pasal di KDRT ha ha ha,” jawab Wijaya berseloroh.

“Iya sich ya. Pantes juga aku punya teman juga gitu. di rumah istrinya galak banget. suaminya ‘ho-oh’ aja. tapi saat di tempat kerja, udah deh, kayak gantian mau nelen teman-teman kantor yang menghalangi ambisinya” komentar Topan setengah melamun.

Terkadang kita tidak begitu mempedulikan dampak lain dari sikap kepada pasangan yang cenderung menekan (mengatur, red). Kita merasa sikap yang diberikan wajar dan pasangan bisa menerima. Minimal saat pasangan ada di hadapan kita.

Kadang, kita tidak begitu tahu – bahkan gak mau tahu – bagaimana pasangan meresa sangat tertekan dan hanya bisa melampiaskan di tempat lain. Pihak yang tertekan pun kadang tidak punya nyali untuk melawan. Apalagi jurus perlawanan hanya terpaku pada bidang fisik. Fisik bisa diartikan kekerasan. Bahkan fisik bisa menimbulkan dampak lain yang di luar dugaan.

Tapi, pelampiasan mental juga tidak kalah bahayanya. Bahkan pihak ketiga yang tidak tahu menahu dapat terkena dampaknya.

Betapa banyak orang yang melampiaskan amarah di kantor, padahal penyebabnya kemelut di rumah.

Betapa banyak orang yang melampiaskan amarah dengan ngebut di jalan, padahal penyebabnya bukan dengan pak Polisi, tapi dengan pacarnya. Bisa-bisa malah akhirnya berurusan dengan polisi.

Betapa banyak orang yang merasa punya kekuasaan, dengan menekan anak buah tanpa mau mengerti keterbatasan anak buahnya. Hingga si anak buah melampiaskan dengan membuat masalah di tempat lain.

Betapa sering kita menuntut pelayanan prima dari orang lain, karena kita merasa sudah banyak berjasa buatnya. Tanpa, kita mau mengerti bahwa orang lain pun akan berharap layanan prima dari kita MENURUT versi mereka. Bolah jadi kita sudah merasa sangat baik, tapi bagi banyak orang, kita malah dianggap sombong dan angkuh.

Jalan pertama memang harus mengerti bagaimana diri kita sendiri. Namun langkah berikutnya yang terpenting adalah mencoba mengerti bagaimana pasangan kita, apa maunya, apa yang menyenangkannya, apa yang dia tidak suka.

Pasangan berarti bukan sekedar suami-istri, tetapi juga pacar, teman, tim kerja, atasan-bawahan, dan siapapun yang berinteraksi 2 orang atau lebih dalam suatu pekerjaan bersama.

catt: KDRT = kekerasan dalam rumah tangga

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, Yogyakarta, 19 November 2009

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Sosial

Belajar Mandiri

November 10, 2009 · Leave a Comment

Bayi terlahir dari buah kasih kedua orangtuanya. Sang Bayi tumbuh menjadi Balita. Mulailah Sang Balita belajar mandiri dengan berusaha berdiri di atas kedua kaki sendiri, walau awalnya perlu dipegang dan atau pegangan. Setelah berdiri, Sang Balita belajar berjalan di atas kaki sendiri.

Umur bertambah, pelajaran mandiri pun semakin beraneka dan kompleks. Si anak yang sudah bisa berjalan, akan berusaha mempelajari seluruh benda-benda se-isi rumah. Selanjutnya mengamati fenomena di sekitar rumah, kemudian tetangga, kemudian lebih jauh lagi. Dan seterusnya.

Proses seorang anak dalam mencari pasangannya, dari sekedar pacaran sampai pernikahan, adalah proses pembelajaran menuju kemandirian. Namun sangat ironi apabila langkah menuju kesana tidak diimbangi dengan jiwa/mental yang mendiri.

Fenomena sebagai manusia, Kita melihat banyak orang libidonya begitu besar untuk mencari pasangan, tapi pulang ke rumah, makan saja masih disuapi, apa-apa masih dikerjakan orangtuanya. Kita melihat banyak orang siap membuat anak (baca: ML), tapi ternyata tidak siap merawat anaknya. Jadilah kakek-neneknya sibuk mengurus cucu barunya. Kita melihat banyak orang mendambakan punya anak, tapi ternyata tidak siap membersihkan si bayi dari pipis dan buang air besar, dan sekaligus mengganti popoknya. Kita melihat banyak orang siap mandiri jadi anak kos, tapi bawaan di rumah yang selalu dilayani oleh orangtua dan para pembantu. Jadilah kamar kosnya bak kapal pecah. Kita melihat, banyak mahasiswa menjadi kutubuku dan berharap hidup sukses, namun ternyata tidak siap untuk gagal dan maunya langsung sukses. Padahal belajar berdiripun pasti pernah terjatuh.

Fenomena sebagai pemimpin wilayah, Kita melihat banyak daerah kabupaten menuntut otonomi sebagai pengejawantahan proses kemandirian. Ironisnya malah lupa pada pencapaian kemandirian bangsa dan negara. Mereka asyik mengeksploitasi sumberdaya tanpa mau tahu dampaknya. Mereka asyik merasa mandiri, padahal di sekitarnya banyak membutuhkan produknya.

Kita melihat bangsa ini bermimpi mandiri, tapi asyik impor, asyik pula pengelolaan sumberdaya diberikan kepada perusahaan asing. Betapa banyak pangan kita yang produk impor. Berapa banyak perusahaan tambang skala nasional yang dikelola secara mandiri. Memang sich, ada slogan Desa Mandiri Energi dan Desa Mandiri Pangan. Tapi jangan-jangan malah si desa itu dididik untuk tidak butuh desa lain, sebagai penerjemahan ‘mandiri’.

Kita melihat para penegak hukum sering mengatakan “kita bekerja secara profesional”, semoga maksudnya “mandiri dari tekanan dan intervensi”, bukannya “pandai mengarahkan berbagai kepentingan” hehe. Kita juga melihat pengacara super pandai bersilat kata, semoga mereka mandiri membela keadilan, bukannya percaya diri setelah suap sana dan suap sini.

Kita juga berharap para politisi punya prinsip berdasar nurani. Bukan ‘katut angin’ (terbawa angin), kemana suara media memberi justifikasi. Celakanya media juga kadang kurang mendiri, karena terbawa slogan “menggoyang yang mapan, dan membela yang tertindas”, jadi bukan dasar kebenaran.

Belajar mandiri telah dimulai sejak bayi. Apakah saat ini kita mandiri dalam segala hal? termasuk mandiri dalam menjalin komunikasi dan kerjasama, bukan mandiri diartikan “hanya untuk kepentingan diri sendiri”, karena hakekat perbuatan adalah untuk kemaslahatan semesta.

Padepokan Ki Asmoro Jiwo ing Ngayogyakarto, 10 November 2009

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Sosial

Cuci Otak

November 2, 2009 · Leave a Comment

Secara sederhana, watak manusia terbagi menjadi 2, yaitu pendiam dan periang. Pendiam lebih enjoy jika bekerja sendiri. Periang lebih suka kerja di tengah kerumunan. Sifat dasar ini akan bervariasi berdasar pengaruh jenis kelamin, umur, silsilah kelahiran dan lingkungan masa kecilnya. Ramuan watak dasar ini sering disebut ‘gawan bayi’ (bawaan orok). Watak dasar ini akan sangat sulit hilang, tapi bisa 90% berhasil dengan satu cara : Cuci Otak.

Cuci otak bukan dikonotasikan istilah biologis, tapi lebih tepat pada istilah psikologis. Terapi kejut (shock teraphy) yang sering diberikan mampu menggoncangkan keyakinan peserta (baca: korban cuci otak). Orang yang penakut bisa jadi pemberani, atau sebaliknya. Orang yang jujur bisa berubah menjadi jahatpenuh tipu muslihat, atau sebaliknya. Intinya, cuci otak akan dilakukan dengan target hasil sesuai harapan ’si sutradara’.

Bagi ladang penempaan prajurit, target akhirnya adalah membentuk prajurit yang punya jiwa nasionalisme di atas segala urusan, bahkan rela mengorbankan nyawa demi membela negara. Sehingga ada istilah “kontrak mati”, artinya siap bekerja apa saja sesuai komando dengan taruhan nyawa. Mereka tercetak untuk bagaimana menang perang, termasuk mampu membunuh musuh tanpa belas kasihan. Namun begitu, manusia tetap punya rasa, sehingga dalam tugas sering disiasati agar seminimal mungkin menimbulkan stress tinggi. Misalnya pasukan penembak hukuman mati, konon tidak semua senjata ada pelurunya, dan itu dirahasiakan. Jadi petugas tidak merasa bersalah berkepanjangn. dll.
Jika diingat, banyak karakter sebelum masukpenempaan, tapi saat lulus, hampir semua berkarakter sama, yaitu disiplin dan semangat juang tinggi.

Bagi seorang marketing, sangat penting menguasai teknik mempengaruhi orang lain untuk membeli produk yang dia tawarkan. Tahap mempengaruhi ini mirip dengan upaya cuci otak. Maksudnya, apapun minat si calon pembeli, akan segera tercuci bersih dan berubah menjadi berminat pada penawaran si marketing. Tahap yang ganas adalah model hipnotis atau gendam. Tahap yang halus adalah hipnoselling. Jualan yang wagu adalah langsung menawaran produk. Jualan yang cerdik adalah ‘berangkat’ dari topik pembicaraan yang diomongkan calon pembeli, kemudian dengan cerdik (argumentatif-persuasif) dibelokkan ke menariknya produk si marketing.

Bagi pelaku bom bunuh diri, bukan terbayang rasa sakit dan kematian atau dosa apabila dia melakukannya. Pelaku bom bunuh diri sudah dicetak paham sebuah kebanggaan berkorban nyawa atas pekerjaan mengajak mati banyak orang yang dianggap mulia oleh dirinya. Bahkan pelaku bom bunuh diri meyakini bahwa setelah mati dia akan masuk syurga.
Biasanya doktrin yang bersifat keyakinan sangatlah ditanamkan, seperti yakin pada agamanya, yakin pada negaranya, atau yakin pada pemahaman tertentu.

Bagi pegawai instansi yang suntuk dengan keseharian, mereka suka mengadakan meeting di puncak atau tempat-tempat wisata. Katanya sekedar mendinginkan otak dari kesibukan harian yang membikin stress. Jadi tahap meeting dipuncak ini juga bagian dari tahapan cuci otak atau me-refresh daya pikirnya.

Banyak sekali model cuci otak yang ada di sekitar kita. Bahkan kegiatan jurit malam juga mirip ke arah cuci otak. Betapa malam-malam ketika terlelap, dibangunkan secara mendadak. Kaget. Ketakutan. Tertekan. Dipermalukan. dll. Dengan cara dibentak, dimarahi, disalahkan, dst-nya. Kemudian dimasukkan doktrin sesuai ramuan ’si sutradara’. Celakany bila paham yang dimasukkan menyimpang. Kondisi ‘otak tercuci’ ini bisa lupa benar-salah. Semua doktrin bisa dianggap benar. Maka jangan sampe kita “ngunduh wohing pakerti”(memetik buah yang kita tanam) dengan paham yang keliru. Bisa-bisa akan terjadi paham menyesatkan secara turun temurun. Makanya sangat penting memastikan bahwa proses dan instruktur yang melaksanakan sudah terjamin kualitasnya.

Bahkan dengan proses cinta pun kita bisa masuk jebakan cuci otak ini. Kita tanpa sadar seperti kerbau yang dicocok hidungnya manakala orang yang kita cintai menyuruh kita berbuat sesuatu. Demi pacar, orangtua pun dilawan. Demi pacar, tantangan demi tantangan dilalui dengan semangat berapi-api. Bahkan banyak juga yang tanpa sadar mau melakukan tindakan bodoh yang tidak perlu, seperti mengorbankan harga diri, dll.

Begitu juga proses pendidikan di pondok, training keorganisasian, training masuk kerja, dll. Kesemua proses cuci otak ini sangat diperlukan agar si peserta mampu tercetak sesuai lingkungan baru yang diharapkan.

Sangatlah penting mencermati apabila kita sebagai peserta atau panitia atau instrukturnya. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal, bahwa langkah hidup kita pernah terlibat mencetak kader-kader yang paham-paham yang ketika ditanyakan pada hati nurani, kitapun mengakui kalo paham itu tidak pantas dan membahayakan iman dan akhlaq orang lain; serta jauh dari insan yang bermartabat baik secara vertikal (habluminallah) maupun horizontal (habluminannash).

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 2 November 2009

→ Leave a CommentCategories: Cinta · Kahuripan · Kampus · Sosial

Mendidik Anak di Jaman Fesbuk

November 1, 2009 · 2 Comments

Siapa sich yang gak senang ketika melihat anaknya duduk manis di rumah? sehingga orangtuanya tenang bekerja di tempat yang jauh dari rumahnya.

Mungkin ini anggapan tempoe doeloe, ketika pemahaman “di rumah” dikonotasikan hanya bermain di sekitar rumah dengan teman atau menonton TV bersama penjaga rumah. Namun saat ini, dimana hampir setiap anak punya HP (handphone), dan bahkan bisa ber-fesbuk-ria; maka anggapan di atas perlu dicermati secara hati-hati.

Memang benar si anak (baca: tubuh/fisik) berada di rumah, bahkan sering asyik di kamar sendirian sambil memainkan HP-nya. Apa yang dia lakukan? ternyata sedang asyik curhat atau berbagi rasa dengan teman-teman seantero jangkauan pertemanan yang dia lakukan di seluruh penjuru bumi ini. Sepuluh tahun lalu memang ada demam chatting mIRc, namun hampir selalu dilakukan di Warnet karena fasilitas internet masih terbatas.

dengan fasilitas masa kini, dimana berinternet – termasuk fesbuk – dapat dilakukan dengan HP yang bisa ditenteng kemana. Lalu muncul slogan : “ditinggal orang tua sehari gak apa-apa, tapi gak pegang HP sehari, wow ! dunia terasa sepi bin sunyi”.

Mungkin semua sepakat bahwa saat ini sebagian besar orang sudah keranjingan HP dan fesbukan. Termasuk juga mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Bahkan murid-murid SD juga sudah ‘dilatih’ oleh orangtuanya agar membawa/memakai HP dengan alasan sederhana “agar saat dijemput dari sekolah, mudah koordinasinya”. Semisal “Kamu dimana nak? Papa sudah hampir sampai di sekolah nich. Tunggu Papa di depan gardu Satpam yaaa..”.

Tapi, sadarkah orangtua bahwa si anak sudah dipasrahkan pendidikannya kepada ‘pembantu’ yang bernama HP bin fesbuk ini? sadarkah bahwa diam-diam mereka lebih sering berkomunikasi dengan khalayak daripada kepada orangtuanya sendiri. Bahkan dalam kegiatan sehari-hari yang notabene bersifat pribadi, seperti mandi, makan, bangun tidur, suntuk, dll. Mereka menjadikan media fesbuk sebagai “orangtua” berikutnya. Celakanya lalu lintas komunikasi di fesbuk mirip seperti celoteh orang di pasar, dimana semua komentar, dari yang wejangan sampai umpatan kasar lengkap.

Semua ini dapat berdampak pada sebuah proses ‘pendidikan’ yang tidak jelas aarahnya kemana. Bahkan bisa jadi orangtua akan terpana karena si anak berubah watak/karakter secara drastis. Bagaimana cara kita mendidik anak-anak yang sudah kecanduan fesbuk atau media komunikasi online lainnya??

Pertama, tentu orangtua dan guru/dosen harus memahami seluk beluk fesbuk cs ini. Paham apa itu pesan dalam status, chatting, group, dll.

Kedua, pendidik harus memantau setiap waktu bagaimana perkembangan psikologis si anak dalam fesbuk cs ini. Misalnya dengan mencermati komentar-komentarnya dalam status. Mungkin dia sedang sakit, sedih, patah hati, senang, marah, dll. Kita juga perlu melihat pertemanan dia dengan siapa saja, apa komentar teman-teman tentang dia. Dari sini kan kita bisa ‘mengukur’ sejauh mana pergaulan dan karakter teman-temannya.

Ketiga, pendidik bukanlah hakim, yang reaktif memberikan teguran atau sanksi manakala si anak terlihat mulai menyimpang. Pendidik harus koreksi diri, mungkin banyak metode dan aktifitas pendidikan yang tidak tepat sasaran. Pendidik harus multikarakter untuk membuat ramuan ‘obat’ yang tepat. Bila anak berprestasi, cepatlah beri penghargaan, minimal pujian. Bila anak melanggar, cepatlah memberikan solusi. Misalnya ketika tahu si anak curhat ke teman-temannya bahwa dia butuh sesuatu, maka pendidik atau orangtua cepat memberikan sesuatu tersebut, atau minimal memberi tahu kemana mendapatkannya.

Keempat, pendidik sering menggunakan media pembelajaran dengan sarana iptek yang menarik buat anak-anak jaman kini. misalnya film dokumenter, animasi, dll. Bisa jadi memberikan pesan secara online (email dll) kepada anak didik, akan lebih berkesan daripada diomongkan secara langsung. Dan si anak pun lebih leluasa mengemukakan pendapatnya.

Demikian, Silahkan bagi yang berkenan mengoreksi atau menambahkan.

→ 2 CommentsCategories: Kampus · Sosial