Mencium Bau

Indera penciuman mempunyai keunikan tersendiri, yang dapat dilatih dan dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Banyak diantara kita yang menganggap indera penciuman hanya sekedar alat pencium bau yang biasa kita temukan sehari-hari. Padahal apabila indera penciuman ini dapat dilatih dengan baik, akan memberikan keahlian tersendiri.

Dalam sebuah film pernah kita lihat, betapa rombongan cowboy berkuda dan bersenjata pistol memerlukan seseorang dari suku tertentu untuk menelusuri keberadaan musuh dari jejak-jejak yang ditinggalkan. Selain jejak kaki, seseorang tersebut juga menggunakan indera penciuman untuk mendeteksinya.

Dalam kasus super ringan, ketika kita berada dalam mobil berisi rombongan orang, lalu tanpa ada suara mencurigakan, tiba-tiba tercium bau kentut yang sangat menyengat. Kontan saja beberapa orang akan saling tuduh. Biasanya si pelaku akan terdiam pasang muka tanpa dosa, atau malah sebaliknya, si pelaku menuding korban lain sebagai kambing hitam.

Lain lagi bagi penyuka kuliner, aroma sedapnya masakan dapat dideteksi dari baunya, walaupun masih berjarak puluhan meter. Bahkan kita bisa menebak itu masakan apa dan bumbunya apa saja.

Bagi ibu rumah tangga atau yang biasa memasak, bocor tidaknya tabung gas juga bisa dideteksi dari bau yang ditimbulkan. Apabila tercium bau, maka segeralah memperbaiki saluran gas dari tabung ke kompor gas.

Atau bagi mereka yang bukan perokok, biasanya akan punya sensivitas penciuman bau rokok yang lebih tajam, seperti ruangan yang pernah dipakai buat merokok, atau baju yang berdekatan dengan asap rokok.

Ada 2 sifat indera penciuman yang dapat diceritakan pada tulisan ini. Pertama, indera penciuman dapat tertipu oleh aroma lain yang lebih tajam. Contoh, salah satu metode mendeteksi pencemaran minyak mentah di hamparan tanah adalah dengan mencium baunya. Tapi penciuman ini akan terganggu apabila tangan yang digunakan terlebih dahulu untuk makan kuah santan ala menu nasi Padang.

Kedua, indera penciuman akan mengalami adaptasi apabila dilakukan lebih lama. Contoh, ketika masuk kamar mandi yang habis dipakai orang lain, kita akan mencium bau yang beda dari kebiasaan kita, seperti bau sabun, bau kotoran, atau bau yang lain. Namun ketika kita lama berada di kamar mandi tersebut, bau yang tadi tercium seperti hilang. Demikian juga setelah itu, saat keluar kamar mandi, kita merasa tidak meninggalkan bau. Tapi bagi orang lain pemakai berikutnya, bau yang kita tinggalkan akan tercium olehnya. Maka, paket cairan pembersih kamar mandi biasanya dibarengi dengan pewangi untuk melawan bau yang kurang sedap.

Teori ini pula yang agaknya dipakai oleh si Fulan, walau mungkin dia tidak memahami mekanismenya. Alkisah, suatu waktu aku naik kereta ekonomi jurusan Jogja-Bandung. Kereta super sesak/padat, sehingga aku harus berdiri (tanpa bisa duduk) selama 4 jam persis di depan WC kereta. Kebayang kan bagaimana WC kereta ekonomi yang jarang tersedia air bersih.  Di depanku ada seorang lelaki ABG yang kayaknya biasa hidup merantau, kelihatan tidak sabar dengan kondisi berdesakan ini. Di luar perkiraan banyak orang, dia memutuskan masuk ke dalam WC tersebut, menggelar koran di sana, dan tertidur. Tadinya aku bayangkan dia tidak betah karena baunya, tapi dugaanku keliru, karen belakangan kuketahui bahwa hidung kita mempunyai daya adaptasi bau dengan baik.

Di waktu yang lain, aku pergi ke sebuah kampus tetangga. Kucium aroma bau limbah saat aku berada di halaman dan teras kampus. Aku bertanya, apakah mencium bau kurang sedap? beberapa orang menjawab “tidak”. Lalu aku bertanya lagi, apakah di dekat kampus ini ada pabrik industri yang menghasilkan limbah? jawab mereka “iya”. Aku tidak bertanya lagi, karena sudah tahu apa yang terjadi. Mereka yang sudah terbiasa mencium bau limbah ini akhirnya menjadi merasa “tidak berbau”.

Mungkin beberapa contoh inilah yang bisa menjelaskan beberapa profesi yang berdekatan dengan bau-bau yang menyengat hidung, tetapi mereka betah dan menganggap hal itu biasa, seperti penjual minyak wangi, tukang masak, ahli forensik, petugas kamar mayat, petugas kebersihan sampah, dll. Memang beberapa menggunakan masker dan kadang bubuk kopi untuk pengusir bau, tapi akhirnya mereka pun akan beradaptasi dengan bau-bau tersebut.

Masih banyak fenomena dalam memanfaatkan indera penciuman ini. Tips mudahnya adalah berlatih dan berpikir tentang proses, lalu memanfaatkan untuk kebaikan masing-masing orang. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dalam urusan “manajemen bau” ini.

MENGENAL KEHIDUPAN KUCING

Doeloe tahun 80an di kampoeng halaman (Kendal-JawaTengah), aku terbiasa memelihara beberapa ekor kucing. Bagaimana cara memberi makan, cara mengelus agar dia tunduk, dan mengamati pola kehidupan kucing dan anak-anaknya.

Untuk memberi makan, kami biasa mengunyah gereh (ikan asin, red) goreng tepung, kemudian hasil kunyahan itu dicampur dengan nasi secukupnya. Ramuan nasi terselimuti oleh aroma gereh, membuat kucing-kucing lahap memakannya. Kalau aroma ikan asin tidak merata dengan nasi, maka kebanyakan hanya ikannya saja yang dimakan, kecuali si kucing memang sudah super kelaparan. Bahkan gorengan atau roti kering pun disantap. Kalau sudah darurat hehe….

Untuk mengelus agar kucing menjadi lebih jinak, elus bagian atas hidung ke arah kepala atas dan tengkuk. elusan di atas hidung biasanya membuat mata kucing menjadi terpejam. Elusan terus menerus membuat mata terpejam terus menerus, sehingga tangan lain bisa mengelus bagian badan. Kesemuanya ini mampu merileks-kan si kucing. Bahkan saat jinak, dia akan selalu mendekati kita, duduk di samping kita, tertidur, atau bahkan bisa kita pangku.

Untuk pola reproduksi, kucing betina suka didatangi oleh kucing jantan dalam kurun waktu tertentu. Tetapi saat hamil, melahirkan dan merawat anak, dilakukan oleh kucing betina sendirian. Bahkan konon kalo anak-anaknya jantan telon (telon:telu, mempunyai 3 warna), akan dibunuh oleh bapaknya, karena dianggap sebagai pesaing. Alhasil, induk kucing betina akan berusaha mencari tempat aman untuk melahirkan seperti gudang, kolong langit-langit atap rumah, lemari, dll. Setelah lahiran, si induk kadang memindahkan anak-anaknya beberapa kali dengan alasan keamanan. Teknik membawa anaknya cukup unik karena si induk akan menggigit seluruh leher si anak, tapi tanpa melukai, lalu di bawa ke tempat aman. Kalo anaknya 3, ya induk betina akan mondar-mandir 3 kali.

Selang waktu 30 tahun berikut, khususnya sebulan terakhir ini, dalam kehidupan di rumah kontrakan, ada beberapa kucing liar (baca: tidak dipelihara) yang hilir-mudik berseliweran sering mendatangi rumah, khususnya area tempat sampah. Agaknya mereka mencari makanan yang bisa dimakan. Kehidupan liar membuat bulu-bulu tubuhnya menjadi kusam dan tidak menarik. Sampai suatu waktu si kucing beranak seekor berwarna kuning tua (orange).

Dasar si kucing masih balita, ternyata pola sifatnya jauh berbeda dengan induknya. Kucing-kucing liar induk biasanya pantang kita sentuh. Tapi beda dengan anak-anak kucing. Sentuhan tangan kita seakan memberikan kehangatan dan perlindungan. Di awal memang mereka meronta, takut atau malu. Tapi lama kelamaan mereka akrab dengan sentuhan tangan kita. Bahkan dia akan cenderung mendekati kita, lalu mencoba menempelkan bagian kepala digesek-gesekkan ke kaki kita. Kalo dia sedang lapar, suara “meong” akan sering terdengar. Tapi kalo sudah kenyang, dia mendekat tanpa suara. Kode panggilan “ck ck ck!” sudah cukup memanggil kehadirannya. Atau dengan sebutan “pus…pus…”.

Kadang aku tersenyum sendiri melihat perilaku si kucing balibul (bawah lima bulan) ini. Kalo kucing besar, sekali dibentak akan kabur. Tapi kucing kecil ini ketika dibentak malah bengong melihatku. Matanya yang bening lugu seakan tidak tahu kode bahwa aku menyuruh dia pergi. Bahkan sekali disentuh, dia akan mengajak bergumul lucu, seakan benda lain dianggap sebagai teman bermainnya.
Kadang dia ditinggal lama oleh ibunya. Pertemuan sesekali dimanfaatkannya untuk meminta ASI atau sekedar tidur dengan selimut kehangatan dari induknya. Saat belajar mandiri, dia mencoba mencari alas karpet untuk mendapatkan kehangatan.

Beberapa hari yang lalu aku membeli anyaman kawat 2 meter untuk menutup pintu samping agar kucing tidak masuk ke wilayah dapur di belakang rumah. Maksudku agar wilayah jelajah mereka cukup di halaman depan. Tapi karena 2 mingguan si kucing kecil ini sudah akrab denganku, bahkan 2x aku mandikan dengan shampoo sisa, juga waktu mata kirinya sakit, aku coba tetesi dengan tetes mata bekas. Dan dia sering aku ajak main-main agar badanya reaktif seperti berkelahi; maka ‘perpisahan’ dengan pagar ini membuat dia 2 malam berjuang keras masuk ke halaman belakang. Hebatnya dia berhasil masuk 3x lewat celah sempit di pintu satunya lagi. Kadang sedih juga melihat dia berjuang keras agar bisa kembali ke halaman belakang. Sedih, karena aku seperti merampas kenyamanan hidupnya.

Setelah dia di halaman depan, kadang aku melatih dia dengan menaruh di atas cabang pohon rambutan dengan ketinggian 1,8 meter. lucunya, dia bukannya takut lalu lompat, tapi malah main-main dulu di atas, jalan ke beberapa cabang, menggigit beberapa ranting. Setelah 5 menitan baru dia nyadar, bingung gimana turunnya hehe. Akhirnya dia bisa turun walau harus melompat dari ketinggian 1 meter. Setelah kejadian itu, 4-5x aku sering menaruh dia di cabang yang sama. “buat latihan otot”, pikirku tersenyum sendiri.

Dia belum juga dewasa, ibunya sudah reproduksi lagi dengan 3 anak mungil dan lucu. Perilaku 3 anaknya ini lebih gemes lagi. Tadinya mereka beranak di rumah depanku, tapi karena pemiliknya pindah, mereka tahu harus ‘transmigrasi’ kemana.
Entah ide darimana, tahu-tahu aku mendapati 3 anak itu sudah menyusup di bawah mesin mobil tua-ku, tepatnya di atas besi body. Bertiga menyusup tanpa suara, agaknya mereka mencari kehangatan. Aku ngeri dan kawatir, andai tidak ketahuan, lalu mesin kujalankan, mereka bisa mati kepanasan. Gemesnya lagi, kalo kucing besar dibentak akan kabur, ini bertiga ketika tahu ada aku, malah menyusup makin erat diantara besi. haduh!
Akhirnya aku pindahkan ke dus mie bekas, sekedar mengamankan saat mobil mau jalan. Tapi mereka tidak nyaman dengan kotak kardus itu, karena saat aku pulang mereka entah ada dimana.

Ketika rutinitas memberika makan kucing-kucing dewasa sebanyak 2-3x sehari, aku menemukan kucing-kucing kecil itu menyusup di selokan depan rumah. Kebetulan ada selokan kering dengan tinggi lubang hanya 10 cm dengan panjang antar lubang 4 meteran. Mereka bertiga kompak menyusup di ruang itu dari pagi sampai sore. Hanya muncul saat induknya datang dan minta ASI. Saat aku datang, mereka kompak ngumpet ke dalam lubang. lucu dan menyenangkan memandang perilaku mereka ini. Semoga tidak nekad lagi menyusup ke mesin mobil yaa……

Kucing memang bukan manusia. Memberikan perhatian sewajarnya kepada sesama makhluk-Nya, adalah bagian dari upaya mempraktekkan untuk berbagi kenikmatan kepada seluruh alam ini. Berinteraksi dengan kucing membuat fenomena hikmah tentang kehidupan lain dari sisi kebinatangan, yang punya lapar dan butuh kasih sayang pula.

Yogyakarta, 20 September 2011 pukul 22.34 WIB

Ki Asmoro Jiwo

Data Statistik Kunjungan ke web ini sejak akhir 2007 sampai Juli 2011

Top Posts for all days ending 2011-08-04 (Summarized)

All Time

Title Views
Home page More stats 7,469
Teknik Pendekatan pada Wanita More stats 3,744
Penelitian More stats 2,270
Mari Belajar Bahasa Jawa More stats 1,663
Mengenal AGROEKOLOGI More stats 1,086
Layanan Curhat More stats 1,011
Who am I More stats 988
PEMANASAN GLOBAL DAN PERTANIAN PERKOTAAN More stats 945
PUISI More stats 825
PENATAAN KAWASAN PESISIR SELATAN DIY More stats 754
MANAJEMEN ITU ILMU DAN SENI More stats 718
OUTBOUND dan JURIT MALAM More stats 668
Profil Tokoh Wirausaha : Pak Bagyo – Kebun Asri – Cangkringan Sleman DIY More stats 666
Trend Anak Muda Sekarang More stats 652
Human Relation More stats 631
KETIKA MUSIM HUJAN DATANG More stats 594
Menatap Sisi Dunia Spiritual More stats 576
SUSAHNYA JADI PEMIMPIN More stats 574
Kuliner : Garang Asem More stats 574
Konsultasi Ilmiah More stats 518
Tanah Gambut, Embun Upas dan Purwaceng More stats 396
Makna Kejujuran More stats 386
Dinamika Bisnis di Yogyakarta More stats 374
Faktor UMUR dalam pernikahan More stats 366
PUISI next More stats 313
Kanker Paru Stadium IV, chemoteraphy? More stats 301
Community Development More stats 294
CSR, PES dan PDRB Hijau More stats 276
Materi Kuliah WIMAYA More stats 275
membangun UPN : darimana? More stats 264
Mengatasi Depresi More stats 247
Mental Tentara : Disiplin-Kejuangan-Kreativitas More stats 236
“Ilmu Tanah” yang salah asuhan More stats 233
Nikah Yuk, Khan Rizki dari Allah More stats 229
LAHAN KERING YANG KEKERINGAN More stats 225
Sekilas Ayam Kampus More stats 196
Era Sabuk Kulit Asli More stats 192
Menggapai Cinta Yang Hilang More stats 184
Ilmu Titen More stats 175
ADIPURO : desa di atas awan More stats 171
Pojok Angkringan : Kos Putri yang BEBAS dimana? More stats 170
LASKAR PELANGI DI GUNUNG GAMBAR More stats 150
Penat dan Gelisah More stats 147
Indahnya alam Palu More stats 132
Menjadi Komandan Upacara, bukan mimpi More stats 120
Spirit of Kamar Mandi More stats 112
EMPATI PERGAULAN DAN KOMUNIKASI BISNIS More stats 105
Aku Ingin Melupakan More stats 104
Bahasa KENDAL More stats 102
Khasanah Pengobatan More stats 98
Asbabul Nuzul : Menulis artikel dan puisi More stats 98
Makna Keikhlasan More stats 92
Cerpen Ramadhan : Nasehat Istri More stats 91
Pengangguran Bakal Naik : so what? Wirausaha ! More stats 90
KENAPA MALAS More stats 90
MEMOTIVASI ORANG More stats 90
MENEBANG DAN MENANAM POHON More stats 90
Apa nama tanaman itu? Entahlah….. More stats 90
PIJAT ENAK More stats 87
Cerita tentang Lahan di Kudus dan sekitarnya More stats 84
fenomena hidup : 2 penjual angkringan More stats 84
Cara Mundur Teratur More stats 80
Budaya Lebaran dan Idul Fitri More stats 78
REKAM JEJAK KOMUNIKASI INTERNET More stats 78
Pejabat Karier vs Pejabat Politik More stats 77
Angon Bebek More stats 76
Harga Ayam di Tangan Paranormal More stats 75
Membaca Yang Tersirat More stats 74
Kisah Perjalanan Separuh Jawa Tengah More stats 73
Misteri Teknik Pengobatan More stats 73
PASRAH More stats 73
Bil Hikmah : Pengganti Buah Kesabaran dan Keikhlasan More stats 71
DIKWAL PTY : Pendidikan Awal Pegawai Tetap Yayasan More stats 69
Uniknya Pasar Tradisional More stats 69
Orang Dewasa, Orang Bertopeng More stats 68
Sumbangan Pemikiran untuk KLH RI More stats 67
Mengapa kita perlu Asuransi? More stats 64
JOB FAIR More stats 63
Bagaimana Memilih dan Memelihara Pasangan More stats 61
Nasib Si JOMBLO More stats 59
Hidup adalah pengabdian More stats 56
Sarjana menjadi ibu rumah tangga More stats 56
Menjelang Ujian, Belajar? More stats 54
MENABUR BENIH DALAM POLITIK INSTAN More stats 54
Meremehkan Orang Lain More stats 53
Kasih Sayang dan Kekuatan More stats 53
Mari Hijaukan Bumi More stats 51
TINGKAT IKATAN RASA More stats 50
Meramu Pupuk More stats 49
KEBUTUHAN DAN KEPUASAN More stats 49
Berbagi cerita dalam kegiatan Seminar Motivasi di Desa Beji – Ngawen – GK – DIY More stats 48
Pemberdayaan Masyarakat Indrokilo – Ungaran More stats 45
Mahasiswa Recycle More stats 45
Membaca dan Menangkap PELUANG More stats 44
Niat jadi Guide Tour, Bonusnya Dialog dengan Sesmen LH RI More stats 44
PERTEMANAN ATAU KEPENTINGAN YANG ABADI ? More stats 43
Sambel Bawang aroma Daun Kemangi More stats 43
Mitigasi dan Adaptasi Bencana : Siapkah kita? More stats 43
Hasil Visum Tahun Politik : Mengendus Sepak Terjang Politikus More stats 42
Karakter Pemimpin More stats 42
Keseimbangan Cinta More stats 40
Jejak-Jejak Cinta More stats 40
Mendidik Anak di Jaman Fesbuk More stats 40
DARI PRODUK PETANI SAMPAI OUTLET SUPERMARKET More stats 39
Otonomi Kampus : bagi siapa? More stats 38
MENGHAKIMI ORANG LAIN More stats 38
Nak, tujuanmu KULIAH itu untuk apa to……? More stats 37
DEMO UNTUK SIAPA More stats 37
Belajar Mandiri More stats 37
Lomba Paduan Suara : merdu atau sumbang? More stats 37
Marketing Kampus More stats 36
Mengobati Orang Lain More stats 36
Membangun Kesetiaan More stats 35
Usulan RTL (rencana tindak lanjut) dalam Pemberdayaan Masyarakat Kawasan More stats 35
Esek-Esek Jalur Pantura More stats 34
Anggapan Masyarakat (Baca: Hukum Sosial) More stats 33
INGIN KAYA, JADILAH PEDAGANG More stats 33
MENDIDIK BUKAN MEMAKSA More stats 32
TOT Pengelolaan DAS dengan konsep Wanatani berbasis Masyarakat (catatan perjalanan) More stats 32
Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Borobudur (kisah perjalanan) More stats 32
PERJALANAN ILMU More stats 31
Bagaimana Mendidik Anak More stats 30
Hakekat ke-SENDIRI-an More stats 29
Rekam Jejak Kegiatan Mahasiswa More stats 29
ide Program Alumni Peduli Ilmiah More stats 29
Konsistensi Nama More stats 29
Cuci Otak More stats 29
Rahasia Artikel Ki Asmoro Jiwo More stats 28
Pengaruh Pasangan More stats 27
Seminar Motivasi More stats 27
KENAPA BANJIR di BATANG timur – KENDAL – SEMARANG More stats 27
Manajemen Prioritas More stats 26
Watak Bumi dan Langit More stats 26
Bermain Karakter More stats 26
Menjadi Diri Sendiri (as be yourself) More stats 26
Musibah atau Berkah? More stats 26
Sinyal Diri More stats 26
Padepokan Asmoro Jiwo More stats 25
Sumberdayalahan Kendal (Kendal landresources) More stats 25
Menggapai mimpi dalam dunia MLM More stats 25
Berpikir tentang RUANG dan WAKTU More stats 24
Meramu Obat More stats 23
Hidup Bersih More stats 23
Keluarga Bahagia More stats 23
Mengistimewakan WAKTU More stats 22
Romance Corner : I Knew I Love you before I meet You More stats 22
Jangan Sakit di Hari Sabtu More stats 21
Test Kesehatan Peserta Dikwal More stats 21
Politik Santun More stats 21
Titik Balik Ke-Manusia-an More stats 20
Mencari Sumber Kebahagiaan More stats 20
BERTAMU More stats 20
Hidup Mandiri More stats 20
Masalah MENTAL pada LULUSAN terkini More stats 19
DIBUTUHKAN ORANG More stats 19
Merapi ‘mbangun’, Jogjaku sendu More stats 19
Membangun Kepedulian Hati More stats 19
Nasehat untuk orangtua yang meratapi anaknya More stats 19
Tanda-tanda jadi…… More stats 19
SATU HATI More stats 19
Komunikasi yang EMPAN PAPAN More stats 19
Mengatur & Mengerti More stats 18
JALAN PINTAS More stats 18
Kebiasaan Diri More stats 18
Tinggal Separoh More stats 18
Arogansi Karakter More stats 18
KULINER : AYAM CHA DOJO More stats 18
Warna Petani More stats 18
Penjara Sepi Sang Pemimpin More stats 18
TRANSISI MASA More stats 17
Manajemen Kambing Hitam : Sanksi OK, Bonus No way ! More stats 17
TELISIK MASALAH More stats 17
Musuh Utama More stats 17
Kitab Suci : pusaka atau pustaka? More stats 17
Bagaimana JUJUR itu…. More stats 17
Identitas Warna Tidak Jelas More stats 16
Memberdayakan Masyarakat Perlu Waktu More stats 16
MANAJEMEN ”TUGAS BERGILIR” More stats 15
Menyapa Wong Cilik More stats 15
Kebiasaan dalam bulan puasa dan lebaran More stats 15
DONGENG PADANG mBULAN More stats 14
PUNYA MUSUH More stats 14
Sinetron SS : shock dan sadis ! More stats 14
Celoteh tentang Bursa Pencalonan More stats 13
Terbayang Kenangan More stats 13
Keluarga Bahagia More stats 13
Layanan Curhat – lanjutan More stats 13
PAHLAWAN BUKAN PEDAGANG More stats 12
Sholat Kahuripan More stats 12
Ber- TERIMA KASIH More stats 11
Nilai Seorang Pembantu More stats 11
#1 (deleted) More stats 10
Budaya Salah Naroh bin Salah Kaprah More stats 10
Kuliah Bersama More stats 10
Pemimpin Yang Peragu More stats 10
Obama orangnya humanis More stats 10
Lahan Reklamasi, untuk apa? More stats 10
Negara = Agama = Ummat = individu ??? More stats 9
The First : behind the scene More stats 9
Bakmie Godhog special More stats 9
Dinamika Penyebutan ARAH More stats 9
Melawan EGO More stats 8
Manajemen Venus More stats 8
Mengisi Liburan, Mengejar Kesenangan More stats 8
ke-AKU-an More stats 7
Strategi Bakal Calon pada T-1 More stats 7
SERASA MIMPI, 3 HARI DI PULAU DEWATA More stats 6
Dingin euy More stats 6
Bangsa Instan Pemakan Tempe : Siapa pegang Kran? More stats 6
mbangun apa ngrusak yaa? More stats 5
#24 (deleted) More stats 5
Mencari MUKA More stats 5
MENGHARGAI JARINGAN BISNIS More stats 5
#17 (deleted) More stats 4
#40 (deleted) More stats 4
PATAH More stats 4
Penguasa Bukan Pejuang, Pejuang Bukan Penguasa More stats 4
Pelajaran dari seorang Ajudan More stats 4
Insting Memasak More stats 4
Saatnya Meminta, Saatnya Memberi More stats 4
Real Estate Mortgage More stats 3
Jika More stats 3
Habits More stats 1

Kebiasaan dalam bulan puasa dan lebaran

Terkadang kita sulit membedakan antara kebiasaan yang terjadi turun-temurun dan tutur-tinular, dengan aturan yang sesungguhnya mengiringi peribadatan di bulan puasa dan lebaran. Bahkan kebiasaan ini sering mengalahkan ritual yang seharusnya.

Ketika menjelang bulan puasa, yang biasa dilakukan bukan bagaimana menahan hawa nafsu, tetapi cenderung melampiaskan hawa nafsu sepuasnya, sebelum memasuki bulan puasa. Yang terpikir adalah mengumpulkan banyak bahan makanan, dengan dalih persiapan untuk berbuka dan sahur. Yang terpikir adalah mengumpulkan pakaian baru, selagi harga belum naik, selagi ada waktu sebelum mudik, dan persiapan sebelum lebaran tiba. Maka, jadilah tempat belanja penuh sesak, karena kebanyakan orang berpikir dan berdalih yang sama.

Ketika menjelang puasa dan masuk hari lebaran, banyak orang saling bermaaf-maafan. Tidak ada yang salah dalam fenomena ini. Tetapi yang kurang pas adalah manakala meminta maaf hanya menunggu waktu ini saja. Budaya meminta maaf sebaiknya dilakukan setiap waktu, terutama disaat nurani kita membisikkan ada kesalahan yang diperbuat.

Ketika menjelang puasa, banyak fenomena ‘mendadak alim’. Iklan TV berubah agamis sebulan sebelumnya. Topik sinetron berubah agamis-islami. SMS dan BBM mendadak jadi penuh tebaran salam dan ayat-ayat-Nya. Tapi, kebiasaan lama cenderung kembali saat lebaran sudah lewat. Begitu terus berlangsung secara berulang setiap tahunnya.

Konon, hakekat puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu manusia. Tapi logika sering dipahami, bahwa pengendalian hawa nafsu manusia dilakukan HANYA pada saat puasa saja. Sehingga kebiasaan pengendalian ini sangat sukses di bulan puasa ini, tetapi akan kembali pada kebiasaan lama setelah bulan puasa dilewati.

Konon, puasa dapat mengendalikan pola makan karena tidak makan-minum di siang hari (dari shubuh sampai maghrib). Tapi kebiasaan makan seperti ‘dipindahkan’, dari pola siang lalu ‘dipadatkan’ pada porsi makan sahur dan berbuka. Akhirnya siang kelaparan, malam cenderung kekenyangan.

Konon, lebaran itu hari kemenangan, karena sukses mengendalikan hawa nafsu sebulan. Tapi merayakan kemenangan bukan dengan cara mengumbar makanan dan kemewahan. Kadang kita nekad menyediakan makanan overdosis dan membeli pakaian melebihi kewajaran. Nekad juga karena sebenarnya keuangan cenderung dipaksakan.

Hati-hati,
kebanyakan orang di bulan puasa dan lebaran ini hanya berbekas pada pengalaman lapar dan haus. Tidak lebih.

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang mampu menjadi lebih baik secara fisik dan rohani.

Ki Asmoro Jiwo

Nama Grup di Facebook :

ASMORO JIWO – menerima artikel Ki Asmoro Jiwo ke dalam semua inbox anggota

Asmoro Jiwo – interasi komunikasi dua arah

SERASA MIMPI, 3 HARI DI PULAU DEWATA

Serasa mimpi, dapat undangan meeting 2 hari di Sanur dan 1 hari kunjungan lapangan ke Gianyar di Pula Bali. Memang aku pernah ke bali sekitar 10 tahun lalu, tapi ke sana pp dengan naik bus bersama rombongan widyawisata mahasiswa. Lha yang ini dilakukan dengan transportasi pesawat garuda pp dan 2 malam menginap di Sanur Beach Hotel !

Perjalanan ke Bali dilakukan seorang diri karena rombongan lain berasal dari Jakarta, Bandung dan Solo. Biasanya beberapa kali naik pesawat di bandara Jogja tujuannya ke Jakarta. Sehingga waktu nunggu terasa harus pasang telinga agar fokus pada panggilan “GA tujuan Bali”. Enaknya naik Garuda, entah kenapa, take off (lepas landas) dan landing (mendarat) terasa sedikit goncangan. Apa karena harganya beda hehe..

Sampai di bandara Bali, aku baru tahu kalau terbagi menjadi dua, yaitu penerbangan domestik dan internasional. Aku turun di bandara domestik. Terasa asing, karena memang baru sekali. Ternyata pula tidak ada penjemput (lha wong bukan pejabat :p). Akhirnya aku harus sms-telp ke salah satu nomor kolega yang kukenal.
“Depan circle K, mas! di bagian ‘international’ jelasnya
Aku pun jalan kaki 100 m an untuk mencari dan menemui mereka. Kemudian kami bersama menuju Sanur beach hotel. Kebetulan mereka masih ada meeting dengan tim lain, sedangkan aku free time sampai makan siang tiba.

Menerima kunci (baca: kartu) kamar, aku setengah grogi bertanya bagaimana cara memakainya. Ternyata pula kamarku 512 berada di ujung yang berkelok sana-sini dan berjalan 100an meter. Cukup jauh dari loby. Melihat muka kamar, tidak ada yang istimewa karena hanya bentuk gang biasa. Masuk kamar juga bingung karena kartu sudah dimasukkan kok lampu-listrik tidak nyala. Manggil petugas, eh ternyata tombol sentral untuk lampu ada di dekat tempat tidur, belum dinyalakan. Katrok dah :p

Membuka korden bagian belakang kamar yang terdiri dari dinding 100% kaca bening, aku melongo. Seakan nonton film baywatch, cuma bedanya ini tidak berseragam merah :p. Persis di belakang kamarku 15 meter an adalah tepi kolam renang, dimana sekelilingnya banyak sekali bule-bule segala umur, man and woman :p, sedang berjemur dengan pakaian bikini. Waduh…!
Belum lagi seberang kolam ternyata pantai sanur dengan hamparan pasir putih (batuan kuarsa).

Aku sempat setengah jam bingung, mau di kamar terus atau memberanikan diri berjalan ke pantai. Tapi, melewati bule-bule yang sedang berjemur itu…..kira-kira sopan gak yaa…
Akhirnya aku memberanikan diri menuju pantai. Dengan pandangan sok jaim, melewati bule-bule ini. Lalu aku terbengong menikmati suasana pantai. Terlihat banyak bule berlalu lalang, serta pemandu lokal melayani mereka. Ada paralayang (konon 150 rb per 4 menit), speedboat, volly pantai dan tentu saja ajang berjemur. Heran, mereka bisa berjemur seharian !
Di pantai ini aku hanya berdiri mematung, aku seperti makhluk halus di dunia nyata. Seperti melihat TV. karena aku diam membisu di tengah suasana ‘asing’ ini, dan mereka pun seperti tidak peduli dengan kehadiranku.
Aku iseng menulis status di BB dan FB bahwa di lokasi ini aku ada 2 kesan :
- sedang melakukan observasi mana bule-bule yang alim :p
- heran, bule kecil-kecil sudah pinter bahasa inggris !!

Setelah puas lihat paralayang dan memotret dengan BB, aku kembali ke kamar. Berharap ada panggilan makan siang.

Inilah kalo repotnya jadwal gak jelas, beda waktu 1 jam (WIB dengan WITA), dan tidak ikut acara. Parahnya aku juga tidak bawa cemilan (snack). Karena, panggilan makan baru datang jam 15 sore, setelah aku super lemas dan minum beberapa kali aqua di kamar. Aku pun semangat 45 mendatangi lokasi makan siang.

Gleks, ternyata tempat makan siang di restoran yang posisinya persisi di tepi pantai. Paling hanya 50 meter dari garis pantai. Jadi sambil makan, kita lihat keindahan pantai beserta ‘isi’nya :p
Aku fokus pada makanan di depanku. Apalagi cara makan ala hotel berbintang yang disajikan satu per satu, bikin gemes saja, karena ada pembuka, minum, menu utama, dan menu penutup. Gemesnya, menu berikut belum disajikan kalo diantara kita masih asik makan. Jadilah waktu makan ini banyak memerlukan waktu, sekitar 30-45 menit.

Selanjutnya 2 hari full digunakan untuk meeting dalam ruangan sampai malam. Malam kedua, kami sempat keluar jalan walau sudah jam 22. Kami menuju ke tempat penjualan oleh-oleh. Aku memilih kaos super murah, buat cangkingan (bawaan) ke rumah. Pulangnya kami menikmati makan malam nasi pedas. Benar-benar pedas sampai nangis tapi senang hahhahaa….

Hari ketiga pagi, kita meluncur ke gianyar, tepatnya di desa kerta. Belum sempat sarapan, sehingga perjalanan ini cukup menyiksa bagi perut, walaupun pemandangan indah ada dimana-mana. Alam begitu asri dan lestari. Aku kebagian melakukan wawancara pada kepala desa tentang kearifan lokal di sana, terkait dalam pelestarian lingkungan. Setelah itu kami mengunjungi subak, hamparan lahan pertanian tanaman padi yang dikelola secara menakjubkan.

Siang itu kami diantar oleh kolega setempat untuk menikmati makan siang di warung bebek “tepi sawah”. Menunya sangat luar biasa, aku sampai nambah nasi 1,5 + 0,5. Ceritanya jatah nasi 1 dikit banget. Lalu teman sengaja naroh 2 tambahan di depanku. 1 porsi sigap aku ambil. porsi ke 2 aku ambil separoh, jaim lah. sisanya diambil teman sebelah kiri. Kirain finish, ternyata teman sebelah kanan hanya nambah 0,5. ya sudah daripada mubazir, 0,5 sisanya aku habiskan hehehe….

Kemudian kami meluncur ke bandara. Aku ngikut saja karena belum tahu masuknya lewat mana. Ketika masuk ruang tunggu, karena jadwal masih 2 jam lagi, seorang teman menawarkan aku masuk lounge (ruang tunggu istimewa). Karena dia terbang ke Jakarta, dia nraktir aku tapi dianya malah gak masuk karena langsung masuk pesawat. Di dalam lounge aku bingung, “apa makanan-minuman ini bebas diambil..”, kok tadi lupa nanya ke yang nraktir. Akhirnya setelah sms sana-sini, aku makan dengan lahapnya.

Pas waktunya, aku keluar lounge. Melihat jadwal penerbangan. Haduh, ternyata delay (terlambat) 40 menit. Ya sudah kembali berbaur duduk menunggu di ruang umum. Super percaya diri aku di siru 30 menit. Tengok tiket lagi, gubrak, ternyata salah ruang tunggu. Ini gate 17-18. Sedangkan aku di gate 16. Langsung deh ngacir ke ruang sebelah…..dan pas panggilan masuk pesawat. Duduk manis, eh sebelahku seorang hawa. Sebenarnya mau iseng tanya ke dia :

“Turun dimana mbak?”, tapi takut dicuekin…..

Ki Asmoro Jiwo

Pelajaran dari seorang Ajudan

Tanpa disadari, kita sering asyik dengan dunia kita sendiri, baik cara pandang, pola pikir, impian, dan hal-hal yang biasa dilakukan sehari-hari. Terkadang kita asyik dengan diri sendiri, dan tanpa sadar malah lengah memperhatikan orang-orang di dekat kita, bahwa mereka juga punya ‘dunia’ sendiri.

Ajudan adalah seseorang yang berusaha sekitar 30 tahun, perempuan, masih lajang, dan ada kekurangan pertumbuhan fisik dan pendengaran. Sifatnya sangat lugu dan super perasa. Hal menarik yang patut dikagumi adalah kebiasaan sehari-hari yang cukup luar biasa.

Dia terbangun setiap jam 4 pagi, langsung mandi. Kemudian melakukan kegiatan kebersihan, dari dapur, halaman, dan seluruh sudut ruangan. Bukan sekedar menyapu, tetapi juga membersihkan perabotan dengan sulak (alat pembersih dari bulu), membersihkan kaca dengan cairan pembersih, dan mengepel. Kalau tidak dicegah, dia akan melakukan semua itu setiap hari.

Kami yang terbiasa dengan pola tinggi badan di atas 160 cm, menata alat dengan penyesuaian tinggi tersebut, seperti memasang paku buat cantelan di ruang tamu dan dapur, memasang tali jemuran, dan menaruh perabotan ‘ala kami’. Begitu kaget dan tersadar, ketika ajudan melakukan tugas mencoba menyesuaikan ‘karya kami’ tersebut. Dengan susah payah dia harus naik kursi ketika masang jemuran atau mengambil perabot di dapur. Kami jadi ‘merasa bersalah’. Tapi Ajudan melakukan itu tanpa keluhan, apalagi protes.

Setiap hari dia akan bertanya “besok masak apa”, sambil menceritakan stok bahan makanan yang masih tersedia. Ajudan juga akan melaporkan kalau ada bahan/alat rumah tangga yang habis. Sampai kita sering berseloroh “belanja sesuai dengan instruksi ajudan”.

Setiap sore atau malam, dia selalu menunggu kami datang dan tidak berani makan duluan, sebelum kami makan. Kami sering menyuruh dia untuk makan duluan, tetapi dia tidak pernah mau melakukan. Kadang dia kelihatan kecewa ketika kami datang dan bilang “kami sudah makan di luar”. Ketika disuruh makan, biasanya terlontar kalimat “saya jadi gak enak, kok saya makan sendiri, ibu-bapak kok tidak makan”.

Pernah kita ajak jalan ke mall atau lihat pameran, tapi ternyata dia fokus pada tugas setrikaan dan pekerjaan lain, sehingga kalo diajak pergi, itu sama saja menyita waktu dia yang sudah di plot sedemikian rupa. Akhirnya kita bebaskan dia kalo mau jalan-jalan sendiri. Pernah dengan bangganya dia cerita abis nonton pasar malam, katanya “saya belum pernah nonton pasar malam, rame sekali..”. Kita terharu mendengar jawaban ini.

Biasanya tiap jam 7 malam, ‘baterai’ sudah mulai redup, alias sang Ajudan mulai terkantuk-kantuk. Kalo aku jadwal pulangnya lebih malam, bahkan tengah malam, itu sama saja seperti menyiksa dia untuk tidak bisa cepat tidur. Akhirnya jadwal pulang malam kulakukan hanya saat sangat penting. Dan tamu-tamu yang mau datang kusesuaikan agar maksimal jam 9 malam sudah selesai segala obrolan.

Tanpa kusadari, sang Ajudan banyak memberi pelajaran. Dia hidup berpola dengan dunianya. Hidupnya tercurah hanya untuk mengabdi dan melayani. Bahkan dia tidak pernah tanya gaji, walau kadang molor beberapa hari dari jadwal. Dia sangat senang apabila layanan dia menyenangkan kami, dan dia sangat sedih dan terpukul ketika kami merasa kecewa atas layanan dia. Sungguh seorang ‘guru’ yang memberikan teladan bagaimana melayani orang lain.

Kadang aku berpikir, mampukah aku mengerjakan semua pekerjaan yang dia lakukan sehari-hari?
padahal berat badannya hanya sepertiga berat badanku.
padahal pendidikanku lebih tinggi.
padahal aku lelaki….

aku malu
aku malu

karena kuyakin tidak mampu,
malah lebih banyak mengeluh dan kurang bersyukur !

“petunjuk-Nya datang dari mana saja dan kapan saja. Semoga kita termasuk orang-orang yang mau memperbaiki diri dan bersyukur”

Saatnya Meminta, Saatnya Memberi

Ketika peluang itu ada dan memungkinkan, banyak orang berharap untuk ingin selalu dimanja, dimengerti dan dilayani segala kebutuhannya. Layanan sekian lama itu membuat rasa sayang tumbuh kepada orang tersebut. Dalam hati mengakui “aku sayang dia, karena dia sayang dan memperhatikan segala kebutuhanku”.

Model hubungan ini masih menjadi tanda tanya, karena kebanyakan hanya berlangsung satu arah. Maksudnya, kita hanya menerima kasih sayang (baca: layanan berlebihan) dari dia, tetapi kita tidak memberikan sebaliknya secara seimbang. Apabila benar demikian, maka hubungan ini akan sangat rawan dalam jangan panjang dan penuh nuansa pelampiasan keegoisan diri.

Masalah pertama akan muncul ketika pihak yang memberi tidak selamanya bisa memberi. Terkadang malah tidak bisa memberi lagi. Terkadang lagi malah gantian meminta kasih sayang (baca: layanan berlebihan) yang sama kepada kita. Sedihnya, banyak diantara kita yang tidak siap untuk itu. Kita siap disayangi dan diperhatikan, tetapi kadang sangat pelit untuk memberikan kasih sayang dan perhatian yang sama. Jika hal ini dibiarkan, dapat memicu meledaknya bom waktu, yaitu dia akan sakit hati dan berpaling dari kita.

Masalah kedua akan muncul manakala dia pergi, bisa pergi untuk pindah ke lain hati, atau malah pergi untuk selamanya. Banyak diantara kita yang sekian lama ter-nina-bobo-kan (terbuai/terlena) pada curahan kasih sayang yang sangat besar, sehingga tidak mampu lagi tegar dan mandiri. Dalam rintihan kehilangan itu muncul kalimat :
“Aku tidak bisa hidup tanpamu”
“Engkau sangat berarti bagiku”
“Tiada orang yang bisa menggantikan dirimu”
“Aku kangen saat-saat dulu bersamamu”, dan seterusnya…
Ratapan ini tidak hanya berlaku pada hubungan cinta lelaki dan perempuan, tetapi juga hubungan anak-orangtua, adik-kakak, antar sahabat, pegawai-atasan, dll.

Makin sering meminta layanan kasih sayang, tetapi tanpa ada upaya sebaliknya untuk memberi secara berimbang; maka kondisi kita akan semakin rapuh dan nelangsa. Kita akan semakin berat menanggung “hutang budi”. Tapi banyak dari kita yang tidak menyadari. Banyak tersadar, ketika semua telah terlambat.

Betapa banyak orang yang akhirnya hanya bisa meratapi tanpa ujung, karena dia tidak sempat membalas budi pada orang-orang yang dulu sangat mencintai dan memperhatikannya. Yah, tidak sempat karena orang-orang yang mencintai kita tersebut sudah meninggal….
Hanya doa lirih nan perih, yang bisa terbisikkan, manakala ingatan tertuju pada rasa kehilangan yang dalam.

Kadang kita tidak tahu, bahwa orang-orang yang mencintai kita itu sebenarnya banyak sekali berkorban. Bahkan kadang tidak mau mengeluh dan merasakan sakit parah yang dia derita. Karena dia tidak ingin membagi duka dan kekawatiran kepada kita.

Kadang kita tidak tahu, bahwa sebenarnya dia juga butuh ‘istirahat’ dari kegiatan mencintai dan melayani kita. Dia juga butuh layanan yang sama untuk dirinya. Dia butuh disayangi, diperhatikan, dan dimanjakan. Tapi semua itu tidak terucap dari mulutnya….

Wahai saudaraku,
Selagi masih ada waktu. Cermati siapa saja orang-orang yang berkorban mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada kita saat ini dan waktu lalu. Bersegeralah, berikan layanan cinta dan kasih sayang kita untuk dirinya.
Mungkin dia sakit, butuh sentuhan perawatan menuju kesembuhan.
Mungkin dia jenuh, butuh hiburan yang kita ciptakan khusus untuknya.

Selagi masih ada waktu,
Selagi belum terlambat……

KiAJi
(Ki Asmoro Jiwo)

DONGENG PADANG mBULAN

DONGENG PADANG mBULAN (cerita di saat bulan purnama)

Bulan purnama menjadi sebuah sensasi yang menakjubkan sejak jaman dahulu kala. Banyak cara pandang, banyak persepsi (anggapan), dan banyak kesan yang dirasakan. Tiap generasi, tiap orang, bisa berbeda pula pemaknaannya.

Cerita melo jaman dulu, di saat bulan purnama, aku berjalan kaki dari kampung tetangga, dengan seorang TTM (teman tapi mesra, naksir tapi gak berani bilang). Waktu itu kami pulang dari pengajian kelompok remaja. Menyusuri jalan sepi sepanjang hampir 1 km. Rasa romantis di bawah bulan purnama, dipadu dengan rasa senang mengalami itu, tapi juga super malu untuk memanfaatkan situasi itu menjadi….

Entah kenapa, waktu itu malah berjalan sok serius, dan jarak kami selalu lebih dari 1 meter ! hwarakadah! harusnya kan….. :)

Ada lagi bait lagu daerah berbunyi:

“Padang mbulan, padange koyo rino..”

(terang bulan, terangnya seperti siang hari..)

Sepenggal lagu yang menggambarkan keceriaan. Bahkan masyarakat dulu sering merayakan datangnya bulan purnama ini untuk bermain aneka permainan, khususnya mereka yang masih anak-anak sampai remaja.

Adalagi mereka yang meyakini dunia spiritual dan kanuragan. Konon bulan purnama juga memancarkan energi yang bisa dijadikan saat yang tepat untuk melatih dan memperdalam ilmu tertentu.

Fenomena bulan purnama kali ini (Juni 2011) memang cukup menarik. Ukuran bulan terlihat sangat besar dan pancaran sinarnya jauh lebih terang. Secara ilmiah, cahaya bulan berasal dari cahaya matahari yang dipantulkan kembali menuju bumi. Siang hari bumi mendapatkan sinar matahari yang sangat terik, masih disusul pancaran sinar bulan di malam hari. Walau intensitas (kekuatan sinar) berbeda, tetapi hampir selama 24 jam bumi selalu diterpa sinar. Apalagi ini terjadi di saat sudah masuk musim kemarau.

 

Dampak yang sangat terasa adalah penguapan (evapotranspirasi) bumi dengan segala isinya, yang berlangsung sangat tinggi. Bumi sendiri di malam hari mengalami pendinginan yang jauh lebih cepat, karena pantulan panas ke angkasa tidak terhalang oleh awan. Penguapan dan pendinginan inilah yang dirasakan oleh kita sebagai hawa yang jauh lebih dingin dari biasanya. Istilah kuno disebut mbediding (bahasa jawa), untuk menyebut suasana dingin karena udara kering di musim kemarau. Akibatnya stamina tubuh menjadi turun karena badan tanpa disadari mengalami dehidrasi (kekurangan air).

Kondisi demikian perlu diantisipasi dengan banyak meminum air putih. Walaupun efeknya akan mempercepat keluargnya air kencing, tetapi suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran suhu normal. Suhu tubuh yang ikut turun bersama dinginnya suhu lingkungan, akan menyebabkan tubuh rentan terhadap serangan penyakit seperti flu dan radang tenggorokan.

Fenomena menarik berikutnya adalah ketika kemarin terjadi gerhana bulan yang cukup lama (sekitar 3 jam). Gelapnya bumi ini diduga memberi kesempatan untuk pendinginan suhu lingkungan dan pengumpulan awan di angkasa menjadi semakin banyak. Sehingga hari ini, ketika kita menengok ke angkasa, terlihat kumpulan awan makin tebal, sempat terjadi mendung dan gerimis. Dan, suhu lingkungan agak mengalami kenaikan yang cukup nyata.

Tulisan ini disebut ‘dongeng’, karena segala argumen hanya mengandalkan logika dan pengalaman pribadi (subyektif). Tetapi siapa tahu, andai berguna buat pembaca. Minimal buat menghibur hati yang lara…..hehhee….

 

Ki Asmoro Jiwo

Bermain Karakter

Setiap orang mempunyai karakter (sifat) yang khas, seperti : pendiam, ceriwis, kaku, penurut, dll. Masing-masing karakter ini akan turut mewarnai dalam alur kehidupannya, baik di dalam rumah, di lingkungan kerja dan suasana lainnya.

Perjalanan karakter manusia dari lahir sampai remaja, sangat dipengaruhi oleh garis keturunan dan pola pendidikan yang didapatnya. Biasanya mereka hanya mempunyai satu karakter yang khas. Dalam pergaulan, sangat mungkin terjadi benturan karakter, karena bisa saja satu kelompok punya kepentingan yang sama. Benturan-benturan ini akan menimbulkan konflik. Konflik mendorong seleksi alam, lalu mereka membuat kelompok-kelompok baru yang berisi karakter saling mengisi. Biasanya karakter yang sama cenderung sulit untuk berjalan bersama, seperti kaku dengan kaku, atau penurut dengan penurut. Sedangkan karakter yang berbeda (berlawanan) akan cenderung saling mengisi, seperti kaku dengan penurut.

Perkembangan karakter setelah remaja (pasca ABG) akan lebih tertata, karena mereka berjalan dalam pergaulan dengan kelompok yang saling melengkapi. Pertemanan masa ini bahkan sering terbawa ke masa tua. Namun modal seseorang dengan hanya satu karakter akan membuat dia harus hidup dalam lingkungan yang khusus. Misalnya orang yang keras kepala, jelas membutuhkan lingkungan yang mau melayaninya. Dia sulit berkembang pada wilayah lain yang sama-sama ada komunitas keras kepala. Karakter tunggal ini akan sulit mengembangkan karier dan memperluas pengaruhnya, karena semakin banyak orang dan semakin luas wilayah kekuasaan, membutuhkan “seni memainkan karakter” yang cukup bervariasi.

Bermain karakter sangatlah penting dalam menghadapi berbagai orang dengan karakter yang berbeda.
Bertemu orang penurut, kita harus cerdik untuk memberikan intruksi dengan ide-ide cemerlang.
Bertemu dengan orang kaku, kita harus pandai meluluhkan hatinya, sehingga tanpa sadar dia mengikuti ritme yang kita mainkan.
Bertemu dengan orang manja, kita harus bisa memanjakan dia, tapi ini hanyalah strategi, karena layanan kemanjaan itu akan dibarter dengan komitmen kinerja yang lebih tinggi.
Bertemu dengan orang otoriter, kita harus tahu bahwa dia sok kuasa, tapi tidak teliti dalam banyak hal karena terlalu fokus mengumbar nafsu kekuasaannya. Maka jadilah pelayan dengan kecerdikan tinggi, sehingga dia merasa sangat tergantung dengan ide-ide anda.

Bermain karakter ibarat kita bermain sandiwara dalam sebuah drama. Kita harus belajar luwes (fleksibel) dalam memainkan karakter yang beraneka macam. Walau tentu, setiap orang pasti punya karakter asli yang khas. Namun dengan kepiawaian kita memainkan karakter itu, orang sangat sulit membaca siapa sebenarnya kita (Who am I). Permainan karakter ini sangat penting dikuasai oleh mereka yang ingin menjadi pemimpin besar, wilayah kekuasaan yang luas, dan memimpin banyak orang dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Siapakah mereka yang mampu bermain karakter dengan baik?
Mereka adalah orang yang sudah mampu menemukan dirinya sendiri, mampu menggunakan hati, tahu akan kelemahan dan kelebihan diri, dan mau terus belajar dari orang lain (siapapun dan kapanpun).
Salah satu sifat manusia adalah suka bosan pada kondisi yang monoton, baik dalam keluarga, sekolah, kantor, maupun lingkungan lainnya. Permainan karakter akan leluasa digunakan untuk memeriahkan suasana, membangun kekompakan tim, meningkatkan kinerja, dan manajemen yang lebih baik.

Ki Asmoro Jiwo

Seminar Motivasi

Setiap manusia mempunyai motivasi, tetapi banyak manusia yang merasa kehilangan motivasi. Maka dibuatlah kegiatan seminar motivasi, yang umumnya dihadiri oleh mereka yang ingin mendapatkan atau menambah motivasi. Kenapa kehilangan motivasi? banyak alasan yang dikemukakan, dari kejenuhan dalam rutinitas pekerjaan sampai kekecewaan yang amat besar karena kehilangan sesuatu yang membanggakan.

Seminar motivasi digelar dengan berbagai ragam. Biasanya dengan mengutamakan penampilan pengisi acara (pembicara). Namun banyak juga yang dibuat lebih semarak dengan dukungan pembawa acara (host), sound system, media komunikasi dan kenyamanan ruangan yang disediakan.

Seminar motivasi lebih mengutamakan tujuan “menggugah hati”. Hal ini agak berbeda dengan kegiatan outbon yang lebih mengutamakan permainan, canda tawa dan gerakan fisik. Outbon lebih berorientasi pada kegiatan psycomotorik (gerak badan), sedangkan seminar motivasi mencoba menggali (eksplorasi daya nalar dan olah rasa).

Seminar motivasi dimulai dari upaya menggali potensi diri. Menjawab “who am I” (siapakah aku ini?), seperti apa karakter, kelebihan dan kekurangan serta kemana langkah hidup ini kan tertuju.  Selanjutnya memahami keberadaan diri sesuai dengan situasi dan kondisi di sekitarnya. Sejauh mana dukungan atau hambatan yang diberikan oleh lingkungan. Bisa jadi kita merasa mampu, tapi lingkungan menghambatnya. Atau juga sebaliknya, lingkungan sudah sangat mendukung, tapi kitanya bermasalah secara pribadi.

Langkah berikutnya adalah merencanakan strategi menuju tujuan yang dicita-citakan. Seberapa jauh jaraknya, berapa lama daya tempuhnya, dengan menggunakan apa, dibantu siapa, dan memprediksi jenis hambatan apa yang akan ditemui di lapangan. Kita belajar membuat plan A, plan B dan plan C. Belajar pulua secara cepat mampu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, apa gejalanya dan darimana sumbernya. Pemecahan masalah harus dilakukan sampai pada sumber masalahnya, karena kebanyakan orang terjebak pada gejala atau dampak masalah yang ditimbulkan.

Permasalahan dapat bersumber dari pribadi, keluarga, lingkungan kerja atau masyarakat sekitarnya. Banyak orang terseok-seok dalam melangkah karena terlalu fokus pada kegiatan di satu bidang, tapi mengacuhkan kegiatan yang lain. Kegiatan lain inilah ketika terjadi ketidakseimbangan, akan mampu mengoyak kemapanan yang sudah kita bangun selama ini.

Adapun dalam teknis pelaksanaannya, seminar motivasi perlu memadukan antara potensi peserta, kemampuan pembicara dan kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta. Tentu saja juga perlu didukung oleh tenaga pelengkap dan fasilitas ruang yang memadai.

Sebagai penutup, seminar motivasi dapat dilakukan oleh siapa saja. Tapi ketulusan dan kejujuran hati menjadi kunci utamanya. Sehingga kita tidak tersenyum dan berkata dengan memakai topeng (baca: pura-pura).

Kegiatan seminar motivasi yang dilakukan dalam waktu dekat ini dapat dilihat pada :

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1961672153914.269537.1006126642

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1964592306916.269664.1006126642